IKLAN

Jumat, 26 Maret 2010

Mendapat Ujian di Masjidil Haram

Sabtu, hampir tengah malam, tanggal 27 Februari waktu Arab Saudi...

Rangkaian prosesi ibadah umroh dapat kuselesaikan dengan lancar. Alhamdulillah, aku mengucap syukur kepada Allah. Akhirnya aku dapat melaksanakan umroh ini dengan sempurna. Kepenatan dan keletihan sudah tak terasa lagi, berbaur rasa suka dan bahagia melaksanakan perintah Allah.



Setelah selesai berumroh, suamiku pamitan mau mencukur rambutnya hingga plontos. "Bu, tunggu di sini ya, saya mau mencari tukang cukur. Nanti kita ketemuan lagi di tempat ini, ya!" Setelah janjian, suamiku keluar areal masjid dan aku bergabung dengan teman lainnya. Aku menunggu di pinggir dekat lampu hijau tanda start tawaf. Sambil menunggu, aku dan temanku membaca ayat-ayat Alqur'an.

Aku tak membawa jam tangan saat itu, sehingga tak tahu persis sudah berapa lama aku terpisah dengan suami. Karena khawatir takut suamiku lama menunggu, aku pamitan pada temanku. Lalu aku mencari suamiku di tempat kami janjian tadi. Lho, koq suamiku belum ada ya? Atau jangan-jangan suamiku tadi sudah lama menunggu. Karena tak menjumpaiku lalu dia pergi. Aku mulai cemas. Lalu aku ke tempat temanku tadi untuk bergabung kembali, ternyata sudah tak ada.

Aku mulai ketakutan, karena saat itu aku seorang diri tanpa ada yang menemani. Lalu bagaimana caranya aku bisa pulang ke hotel? Bukankah di tanah Arab tak boleh wanita bepergian seorang diri? Aku terbayang cerita-cerita seram tentang lelaki Arab. Hiii, bergidik aku membayangkannya. "Ya Allah, jauhkanlah hambamu ini dari perbuatan orang-orang yang ingin berbuat jahat. Ya Allah, pertemukanlah kembali hambamu ini dengan suami hamba.."doaku tak henti-henti kupanjatkan saat itu.

Entah sudah berapa lama aku berkeliling mencari-cari suamiku, tapi tak kutemukan. Akhirnya, aku putuskan untuk pulang sendiri. Tapi, kemanakah arah pulang ke hotel? Ya Allah, kenapa aku tak bisa mengingat kemana jalan pulang?

Saat aku sudah mulai menangis, tiba-tiba aku melihat dua orang wanita Indonesia yang mengarah keluar Masjidil Haram. Kusapa mereka, "Maaf Bu, saya mau mencari jalan keluar, apa ibu bisa bantu?"

"Oh, mari ikut saja dengan kami," jawab ibu yang agak tua. "Kenapa seorang diri? Apa tak ada yang menemani?" ibu itu melanjutkan pertanyaannya.

Setelah kujelaskan duduk perkaranya, akhirnya si ibu itu berkata"Jangan takut tersasar. Ini rumah Allah. Tak ada yang tersasar di rumah Allah. Jangan lupa berzikir dan bershalawat meminta pertolongan Allah." ungkap ibu itu sambil tersenyum.

Ucapan ibu itu sangat menyentuh dan membuatku terkesima. Ya Allah, mungkinkah ini adalah ujian dariMu? Sebelum berangkat umroh, memang aku selalu mengeluh pada suami takut tersasar di masjid. Karena, dari informasi yang kuterima banyak yang tersasar baik di masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram.

Lalu tiba-tiba datanglah suara, "Bu, mau kemana? Ayo kita pulang ke hotel!" Aku terperangah, ternyata suamiku! Ah, dari mana dia tiba-tiba muncul? Akankah Allah mendengar doaku tadi saat dalam kepasrahan?

"Bu, ini suamiku yang kucari!" aku memperkenalkan si ibu pada suamiku.
"Nah, apa ibu bilang tadi. Harus yakin dan tawakal pada Allah. Semuanya ini Allah yang mengatur." imbuhnya.

Allahu Akbar! Kejadian barusan membuatku semakin yakin akan kebesaranMu. Saat itu aku merasakan betapa tak ada artinya manusia, hingga yang ada hanya kepasrahan...

1 komentar:

  1. Rita, kalo mau kirim cerpen coba cek di sini http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/07/tips-mengirim-cerpen.html

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya ya...