IKLAN

Kamis, 01 Juli 2010

Laki-laki di Ujung Jalan

Ada pemandangan yang selama ini luput dari perhatianku. Seorang laki-laki paruh baya, berusia sekitar hampir enampuluh tahun yang setiap pagi kujumpai. Mungkin usianya jauh lebih muda. Namun kondisi sosial ekonomi yang tak beruntung membuat kerut-kerut di wajahnya semakin jelas. Sehingga nampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya.



Pagi ini, aku menjumpai laki-laki itu lagi. Duduk di ujung jalan pada sebuah bangku tua. Dari balik jemarinya ia menyelipkan sebatang rokok. Lalu rokok itu diisapnya dalam-dalam. Dia begitu menikmati setiap isapan rokok dan menghembuskan asapnya hingga mengepul.

Laki-laki itu nampak tanpa beban. Sambil mengisap rokoknya sesekali dia memandangi orang-orang yang lalu lalang di hadapannya. Sesekali ia melemparkan senyuman dan bertegur sapa kepada orang yang dikenalnya. Lalu detik berikutnya, ia sudah terlibat percakapan seru pada abang-abang tukang ojek yang mangkal di ujung jalan itu.

Seperti saat aku melewati tikungan jalan itu tadi pagi, laki-laki itu sudah berada di sana. Sebuah senyuman dan sapaan ramah keluar dari bibirnya. "Selamat pagi, Bu.."

Aku membalas sapaannya, "Pagi juga, Pak!" Ya, laki-laki itu memang ramah, dan sebagai Bu Lurah yang bertugas di wilayah itu, mungkin dia mengenaliku.

Beberapa menit kemudian, aku tiba di kantor. Ya, kantorku letaknya memang tak jauh dari tempat laki-laki itu mangkal. Kira-kira duaratus meter. Karena penasaran siapa sosok laki-laki itu, aku pun mencari informasi mengenai siapa gerangan dirinya?

"Pak Rahman, siapa sih laki-laki paruh baya yang sering mangkal di posko ojek di ujung jalan itu?" tanyaku penuh rasa ingin tahu. "Apa dia warga sini?" tanyaku kemudian.

"Yang mana ya Bu? Apa yang agak hitam orangnya? Kalau yang itu memang warga kita, Bu! Tinggalnya juga dekat sini koq. Di bedeng Haji Imron!" jelas Pak Rahman, penjaga kantorku.

"Apa dia punya keluarga?"

"Ya punya Bu! Isterinya jualan sayur di pasar. Anaknya juga banyak Bu. Kalau tidak salah ada tujuh dan baru dua yang menikah. Yang paling kecil kelas tiga SD, kebetulan teman satu kelas cucu saya, Bu!"

"Terus, apa tia tidak bekerja? Koq setiap hari saya ketemu dia terus di posko ojek itu."

"Yah.. begitulah, Bu. Si Muklis itu memang agak pemalas, Bu. Dari dulu juga dia kerjanya memang mau enak sendiri. Yang susah malah isterinya yang mencari nafkah buat hidup. Kalau si Muklis itu memang begitulah Bu.."

Aku pun manggut-manggut mendengar pejelasan dari Pak Rahman. Ada rasa miris yang terbersit dari hatiku. Bagaimana mungkin ada seorang kepala keluarga yang melupakan tanggung-jawab terhadap keluarganya? Lalu bagaimana keluarganya mau makan ya? Apa penghasilan isterinya berjualan sayur mencukupi? Apa cukup buat bayar kontrakan, listrik, biaya sekolah anak? Belum lagi kebutuhan sosial dan berinteraksi dengan masyarakat membutuhkan biaya juga?

Akhirnya, rasa kasihan yang selama ini sempat tumbuh pada laki-laki itu berubah dengan rasa tak bersimpati. Aku merasa prihatin. Hari gini masih saja ada orang tak mau kerja keras? Olala, apa kata dunia..???

8 komentar:

  1. Semoga sang Istri diberi kesabaran dan ketabahan... dan semoga anak2 mereka tak mewarisi sifat malas dari bapaknya.

    BalasHapus
  2. Hai.., linknya juga udha terpasang di blogku kok.

    BalasHapus
  3. Gila yah Mba masih ajah ada orang yang tega menelantarkan anak istrinya. Dasar pemalas!! (ikut sebel jadinya)

    BalasHapus
  4. Semoga bapak itu segera diberi kesadaran, kekuatan dan KESEMPATAN untuk segera bisa bekerja sebagaimana layaknya kepala keluarga yang lain. Amiin. Mohon dukungan amin nya ya?. btw, boleh tukeran link dan tukeran follow bu Lurah. Link dan follow sudah aku pasang. Matur muwun...

    BalasHapus
  5. @all: makasih byk kepada teman2 blogger yg sudah meninggalkan komen..

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya ya...