IKLAN

Rabu, 31 Maret 2010

Ujian Kedua di Masjidil Haram

Minggu malam, 28 Februari 2010, pukul 22.00 waktu Arab Saudi..

Alhamdulillah, pada dini hari tadi aku dan suami beserta rombongan jemaah umroh Tazkia telah melaksanakan umroh, mulai dari tawaf, sa'i dan tahalul dengan lancar. Segala puji syukur aku panjatkan kepada Allah atas kemudahan ibadah umroh kami ini. Pelaksanaan umroh ini dipandu oleh seorang Mutowib, yaitu Ustadz Rizkon.

Setelah itu, mulai dari subuh, siang hingga malam hari ini, kami melaksanakan ibadah masing-masing. Artinya, setiap jemaah dibebaskan melakukan ibadah dan memperbanyak ibadah masing-masing, dan tidak dipandu lagi oleh Mutowib. Oleh karenanya, selepas shalat isya dan makan malam di hotel, suamiku mengajak untuk tawaf sunat.

Karena masih trauma peristiwa setelah umroh kemarin malam, aku membuat perjanjian dengan suami untuk mendampingi. Aku minta benar-benar digandeng sehingga kami tidak terpisah.

Selanjutnya, kami memulai tawaf dengan mengikuti petunjuk start pada lampu hijau. Pada putaran pertama, tawaf kami berjalan lancar. Namun memasuki tawaf kedua, jemaah lainnya mulai ramai memenuhi areal tawaf. Saking ramainya, tiba-tiba kami tersedot gelombang manusia, sehingga aku terpisah dengan suami.

Aku mencoba untuk tenang dan melanjutkan tawaf tanpa suami di sampingku. Aku berharap di tengah-tengah perjalanan tawaf ini kami berjumpa kembali. Namun harapanku sia-sia belaka. Sampai selesainya tawaf aku tak menjumpai suamiku. Dengan perasaan campur aduk, ada marah, jengkel, kesal dan hampir menitikkan air mata, aku berucap, " Duh, kemana sih suamiku? Janjinya saat tawaf menggandengku terus. Nyatanya, kami terpisah lagi seperti ini!" Aku melontarkan ucapan itu dengan nada kesal.

Karena kesal pada suami, lalu aku memilih langsung pulang ke hotel saja! Apa yang terjadi setelah aku tiba di hotel? Olala, ternyata kunci kamar ada pada suami! Percuma dong aku balik duluan, toh tak bisa juga beristirahat ke kamar! Lalu, aku melanjutkan menunggu saja di loby hotel. Setelah lewat setengah jam suamiku belum juga nongol. Aku mulai gelisah dan tidak sabar.

Seorang Mutowib bertanya kenapa aku seorang diri? Kujawab aku sedang menunggu suami. Saat itu jam menunjukkan hampir tengah malam. Tak ada lagi orang di loby hotel. Akhirnya Mutowib itu meyarankan aku untuk ke kamar saja. Mutowib itu membantu berkomunikasi dengan petugas hotel, sehingga aku dibuatkan kunci baru lagi.

Berbekal kunci itu aku bergegas ke lift menuju kamarku di lantai 17! Sebetulnya aku takut berada di dalam lift seorang diri, malam hari pula. Tapi apa boleh buat, aku sudah letih karena lama menunggu dan ingin cepat-cepat merebahkan tubuh di tempat tidur.

Apa yang aku harapkan untuk cepat-cepat ke kamar tak berjalan sesuai harapanku. Belum lagi sampai ke lantai 17, pintu lift terbuka dan masuklah laki-laki Arab yang tak kukenal. Tentu saja aku ketakutan dan memilih keluar Lift! Begitu terus selanjutnya yang terjadi, sehingga aku tak sampai-sampai di lantai 17 karena cuma keluar masuk lift saja!

Akhirnya aku memilih naik melalui tangga biasa. Eh, setelah sampai di lantai 16, ternyata tak ada lagi tangga untuk sampai ke lantai 17! Jadi gimana nih? Aku mulai ketakutan dan menangis. Di dalam hati ini ngedumel tak karuan kesal pada suami. Karena kelelahan turun naik tangga dan lift, aku memutuskan kembali lagi ke loby. Dengan nafas masih terengah-engah aku merebahkan tubuhku di bangku panjang loby hotel itu.

Baru saja menghela nafas panjang, tiba-tiba aku melihat sosok suamiku memasuki loby hotel. Alhamdulilah ya Allah, akhirnya Engkau pertemukan kembali aku dengan suamiku. Rasa kesal yang ada di dada sirna sudah melihat kedatangannya. Aku sadar, tadi terombang-ambing di dalam lift dan tangga karena aku tak sabaran dengan suamiku. Coba kalau tadi aku tunggu saja di pintu Masjidil Haram tempat biasa dimana kami sering janjian pasti tak begini kejadiannya.

Aku langsung menceritakan pengalamanku barusan dan meminta maaf pada suami. Suami pun meminta maaf atas kelalaiannya. Memang beribadah di tanah suci ini harus dengan kerelaan dan keikhlasan. Manakala kita menyampingkan rasa itu, ada saja bentuk teguran dari Allah. Aku menyadari, apa yang aku alami barusan adalah salah satu bentuk teguran Allah...

Kuota Haji 2015 Tinggal Separuh

Koran Sumatera Ekspres tanggal 30 Meret 2010 memuat berita bahwa kuota haji Sumsel tahun 2010 tinggal separuh. Dari jumlah kuota 6300 untuk tahun 2015 yang terdaftar sudah ada 3320. Berarti masih ada sisa kuota untuk 2980 lagi. Untunglah ayahku sudah mendaftar pada akhir Januari yang lalu. Insya Allah kalau umur panjang sudah ada kepastian untuk dapat menunaikan rukun Islam yang kelima tersebut.

Selasa, 30 Maret 2010

Pelajaran Berharga dari Tukang Pijat

Siapa bilang hati yang bersih hanya milik orang-orang terpelajar yang berpendidikan tinggi? Ternyata dari seorang tukang pijat keliling, hanya tamatan SMP punya hati yang suci. Kata-katanya saat dia memijatku siang itu sangat menyentuh. Sebuah pelajaran yang sangat berarti, namanya pelajaran "Bersedekah".

Senin, 29 Maret 2010

Wanita Hamil itu Lebih Dulu Mencium Hajar Aswad?

Alhasil, setelah rangkaian prosesi ibadah umroh mulai dari tawaf, sa'i dan tahalul selesai, tujuan selanjutnya adalah mencium batu Hajar Aswad. Tapi keinginan itu tak semudah yang dibayangkan sebelumnya. Beribu-ribu manusia merapat ke Ka'bah mencoba mendekati Hajar Aswad. Ada yang berhasil, ada pula yang tidak.

Akhirnya, aku bersama dua orang teman bertekad mencium Hajar Aswad sampai dapat. Kedua orang temanku bernama Rasidah, seorang ibu hamil usia empat bulan. Satu lagi namanya Elsa. Aku, Rasidah dan Elsa mengikuti gelombang manusia meringsek perlahan mendekati Hajar Aswad.
Ketika berbaur dengan ribuan manusia kami terpencar. Aku tak melihat lagi kemana dua orang temanku tadi.

Ternyata, Rasidah mengikuti seorang lelaki hitam bertubuh besar. Mungkin lelaki itu berkebangsaan Afrika. Lelaki itu mencium Hajar Aswad kemudian baru Rasidah mengambil celah di belakangnya dan dapat mencium Hajar Aswad pula. Rasidah, seorang ibu hamil ternyata dapat mencium Hajar Aswad lebih dulu dibandingkan kami. Aku melihatnya dengan jelas karena aku berada tak jauh darinya.

Aku mencoba merapat lebih dekat. Ada jerit tangis histeris dari orang-orang yang semakin ramai. Histeris karena berhasil mencium Hajar Aswad atau apalah, mungkin histeris karena gagal. Seorang wanita tua bahkan terlempar, terombang-ambing dalam gelombang manusia di sana. Wanita itu hampir pingsan. Bahkan ada lagi wanita seusiaku yang benar-benar pingsan terhimpit sesaknya manusia di sana.

"Rita, bagaimana kita? Apa kamu yakin bisa mencium Hajar Aswad sekarang? Lihat wanita-wanita itu bahkan ada yang pingsan dan hampir terinjak yang lain. Lebih baik kita minggir saja."

"Aku tetap akan mencobanya, Elsa. Kita zikir dan bershalawat saja." kataku meyakinkannya.

Akhirnya, setelah berzikir dan bershalawat, aku bisa juga mencium Hajar Aswad. Demikian pula Elsa ternyata dia berada di belakangku dan berhasil pula. Ternyata dengan keyakinan kita dapat meraih yang kita inginkan. Tentu saja semua ini atas ijin Allah SWT. Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas sekempatan ini ya Allah...

Sabtu, 27 Maret 2010

TIPS MENGIRIM CERPEN | GRAHA SASTRA

TIPS MENGIRIM CERPEN | GRAHA SASTRA

Jumat, 26 Maret 2010

Mendapat Ujian di Masjidil Haram

Sabtu, hampir tengah malam, tanggal 27 Februari waktu Arab Saudi...

Rangkaian prosesi ibadah umroh dapat kuselesaikan dengan lancar. Alhamdulillah, aku mengucap syukur kepada Allah. Akhirnya aku dapat melaksanakan umroh ini dengan sempurna. Kepenatan dan keletihan sudah tak terasa lagi, berbaur rasa suka dan bahagia melaksanakan perintah Allah.

Akhirnya Ompick Bisa Tersenyum Lagi

Assalamualaikum.. Selamat pagi Ompick..! Aku menyapa si Ompick yang berada di teras rumah. Seperti biasanya, pukul 07.00 WIB si Ompick sudah berada dalam gendongan Wak Pengasuh. Di bawah pohon sawo yang tak begitu rimbun, di sanalah tempat favorit si Ompick bermain.

"Panasnya sudah turun." jelas Wak pengasuhnya, saat kutanyakan kondisi si Ompick pagi tadi. Aku pun tersenyum lega. Akhirnya si Ompick kembali ceria.

Sebetulnya, mama si Ompick semalam sms, katanya kondisi si Ompick sudah membaik. Badannya panas karena pengaruh mau tumbuh gigi. Ada dua gigi baru yang menyembul dibalik gusinya. Itu artinya si Ompick mulai bertumbuh kembang menjadi anak yang sempurna.

Kuraih si Ompick kedalam pelukanku dan kugendong dengan penuh sayang. Si Ompick pun kegirangan berada dalam gendonganku.

Kamis, 25 Maret 2010

Hari itu Aku Mendapat Banyak Berkah

Pada hari Senin, 01 Maret 2010, aku bersama suami dan teman satu rombongan melakukan umroh kedua. Ini artinya pahalanya adalah sunat. Dalam ibadah ini aku mengumrohkan untuk almarhum ibuku yang meninggal satu tahun yang lalu. Rangkaian ibadah umroh ini dapat kami selesaikan sebelum shalat ashar.

Sambil menunggu datangnya waktu shalat ashar, aku berzikir dengan menggunakan hitungan pakai jari tangan. Tiba-tiba wanita Turki yang berada di kananku memberikanku tasbih. Katanya, biar aku bisa berzikir dengan baik, begitu kira-kira maksudnya. Karena kami bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa masing-masing.

Setelah shalat ashar, aku bersama suami dan teman bergegas ke hotel. Kami membersihkan badan dan segera kembali ke Masjidil Haram menanti waktu shalat magrib. Karena hari itu aku melakukan umroh, maka terasa sekali kepenatan di sekujur tubuh. Belum lagi rasa lapar yang menyerang.

Saat memikirkan rasa lapar tiba-tiba aku diberi sepotong roti oleh wanita Arab yang tak kukenal. Bukan aku saja yang diberinya, tapi beberapa wanita di sekitarku juga kebagian. Bahkan wanita Mesir yang berada di kananku memberiku air zam-zam. Aku menyambut baik pemberian mereka. Alhamdulillah ucapku tanda syukur. Belum lagi turun di perut makanan yang kumakan tadi, eh tiba-tiba ada lagi wanita Arab memberi buah kurma. Wanita Arab itu sudah menghilang sebelum aku sempat mengucapkan terimakasih kepadanya. Aneh sekali.

Aku merenungkan kejadian barusan. Hari ini aku mendapat begitu banyak berkah dari orang-orang yang tak kukenal. Siapakah mereka itu? 

 

Ompick masih sakit ya?

Hari ini aku berkunjung kembali ke rumah ortu. Siapa yang paling dulu aku cari di rumah itu? Ya tepat sekali, aku mencari si Ompick. Bocah kecil usia 1 tahun 4 bulan itu kemarin badannya panas. Aku berharap dia hari ini sudah sembuh. Semalam mamanya sms katanya Ompick sedang bermain dengan kedua mbaknya si Owik dan Okie.

Ternyata, pagi ini badannya panas kembali. Si Ompick tersenyum kecut melihat kedatanganku. Tangan mungilnya menggapai kearahku pertanda minta digendong. "Hmm, sini sayang..Bunda gendong dulu ya..!" kataku sambil meraih tubuhnya dari gendongan Wak pengasuhnya.

Dengan cepat si Ompick sudah berada dalam pelukanku. Kepala mungilnya bersandar di dada. Mata beningnya menatap lemah padaku. "Ompick sayang... obatnya diminum ya, biar lekas sembuh." bujukku sambil menyuapkan sesendok teh obat sirup untuk demam. Wak pengasuhnya tadi bercerita obat yang disuapi Wak pengasuh dimuntahkan kembali.

Ternyata si Ompick menelan obat sirup itu. Alhamdulillah, ucapku riang. Artinya si Ompick mengerti ucapanku barusan ya. Dia bisa merespon ucapanku kalau mau cepat sembuh maka obatnya harus diminum.

Kenapa ya si Ompick mau menuruti perintahku. Mungkinkah dia juga merasakan betapa sayangnya aku pada dirinya. Saking sayangnya pada si Ompick, aku mengubah panggilannya padaku menjadi 'BUNDA' bukan 'TANTE'!

Rabu, 24 Maret 2010

Ompick, cepat cepat sembuh ya..?!

Seperti biasa, sebelum ngantor aku sempatkan untuk mampir ke rumah ortuku. Keponakanku si Ompick tinggal di situ bersama mama, papa, dan dua saudara perempuannya si Owik dan Okie.

Tapi, hari ini aku tak menjumpai Ompick yang ceria, lincah dan menggemaskan. Ompick hari ini kelihatan lesu dan tak bersemangat. Ada apa gerangan si Ompick?

"Ompick lagi sakit, badannya panas," jelas Wak pengasuhnya.

Olala, pantesan si Ompick cuma memandangku dengan sorot mata lemah dan meringis.

Akhirnya, aku hanya dapat berdoa untuk kesembuhan Ompick keponakanku tersayang. "Cepat sembuh ya Ompick, biar kita bisa main bola lagi." kecupku lembut di keningnya.

sang cerpenis bercerita: LINK KAMU

sang cerpenis bercerita: LINK KAMU

Senin, 22 Maret 2010

Lancar Baca Alqur'an Setelah Mencium Hajar Aswad

Alhamdulillah, akhirnya rangkaian ibadah umroh dapat kuselesaikan dengan baik hari itu. Saat itu menunjukkan pukul 2 dini hari. Setelah selesai tahalul dengan memotong beberapa lembar rambut, suamiku memutuskan untuk mencukur seluruh rambutnya alias plontos.

"Bu, tunggu sebentar ya, saya mau mencari tukang cukur," begitu kata suamiku. Aku pun mengangguk tanda setuju. " Nanti kita janjian di dekat pintu no. 1 saja, Bu. Biar mudah ketemu."

Sambil menunggu suami bercukur, aku berniat mengisi waktu dengan membaca Alqur'an. Aku memilih tempat di tepi sisi kanan tempat tawaf. Tempat itu biasa digunakan orang untuk shalat sunat. Kuraih sebuah Alqur'an dan mulai membaca ayat-ayatnya.

Awalnya, seperti biasa aku tidak begitu lancar melafazkannya. Namun perlahan-lahan kemudian aku merasakan sesuatu yang berbeda. "Koq tiba-tiba aku begitu lancar membaca Alqur'an, tidak seperti yang terjadi selama ini selalu terbata-bata dengan lafaz yang tidak tepat?

Subhanallah, ucapku dalam hati. Kenapa aku begitu lancar membaca ayat demi ayat dalam Alqur'an itu? Pertanyaan itu menggelayut dalam hati sampai selesainya aku membaca Alqur'an dan bertemu kembali dengan suamiku.

Akhirnya, aku ceritakan kepada suami pengalamanku barusan. Menurut suamiku, itu pertanda baik. Aku mengartikan kata-kata suamiku itu sebagai sebuah hidayah dari Allah. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan keberhasilanku mencium Hajar Aswad? Hanya Allah yang Maha Mengetahui jawabannya...

Sabtu, 20 Maret 2010

Hajar Aswad dapat Kucium

Setelah selesai melaksanakan ibadah umroh dengan sempurna, aku berkeinginan mencium Hajar Aswad. Bersama suami, aku mendekati Hajar Aswad. Tampak kerumunan manusia berjejal di sana dengan maksud yang sama. Beberapa dari mereka ada yang mental, ada yang terhimpit-himpit, ada yang berteriak histeris karena kelelahan tak dapat mencium Hajar Aswad.

Suamiku bertanya, 'Bagaimana Bu, bisa nggak kira-kira mencium Hajar Aswad?'
'Insya Allah,...!' jawabku singkat.

Setelah itu kami berpisah. Aku mendekati kerumunan wanita yang berjejal dan mendekati Hajar Aswad. Pada kesempatan pertama aku gagal. Karena setelah hampir sampai, aku selalu terpental karena didorong oleh begitu banyak manusia. Pada kesempatan kedua aku mencoba kembali mendekati Hajar Aswad. Hampir saja aku dapat menciumnya. Tapi lagi-lagi gagal. Aku tak mampu menerobos kerumunan manusia yang begitu padat. Aku hanya dapat menyentuh Hajar Aswad dengan tangan kananku saja.

Akhirnya, aku memilih minggir saja ke tepi karena kelelahan. Tiba-tiba suamiku datang. 'Bu, aku berhasil mencium Hajar Aswad.' katanya girang. 'Bagaimana Bu, berhasil nggak?' tanyanya kemudian. Aku ceritakan saja perjuanganku yang selalu gagal. Tapi aku katakan bahwa tetap saja penasaran ingin menciumnya.

'Bu, ucapkan shalawat.. Insya Allah berhasil mencium Hajar Aswad.' begitu pesan suamiku. Akhirnya, dengan semangat yang menggelora dan suatu keyakinan, aku melangkahkan kaki kembali mendekati Hajar Aswad. Dengan ucapan Bismillahirrohmannirrohim, aku mencoba menembus kerumunan manusia di sana.

Tiba-tiba, aku mendapati tubuhku sudah begitu dekat dengan Hajar Aswad. 'Allahu Akbar..!' teriakku sambil melambaikan tangan pada Askar laki-laki yang berada di dekat Hajar Aswad. Askar itu tiba-tiba menunjuk ke arahku. Seolah memberi isyarat bahwa sebentar lagi aku akan mendapat kesempatan mencium Hajar Aswad.

Dalam hitungan detik, akhirnya aku berhasil mencium Hajar Aswad. Subhanallah, akhirnya aku dapat mencium Hajar Aswad. Terimakasih ya Allah telah memberikan kesempatan pada hambamu ini mencium Hajar Aswad..

Kategori

Kategori

Wanita Misterius itu mirip mamaku..

Menjelang shalat zuhur berjamaah di masjid Nabawi. Sambil menunggu datangnya azan, aku membaca fatihah yang aku kirimkan untuk almarhum mamaku. Di sebelah kananku, Junainah tampak khusuk berzikir. Di sebelah kiriku, duduk seorang wanita Arab paruh baya. Wanita itu selalu memalingkan wajahnya menatapku sambil tersenyum. Dibalik senyumnya seolah wanita itu ingin mengajakku berkomunikasi. Tapi aku sendiri tak mengerti apa makna senyumnya itu. Alhasil, aku hanya dapat membalas senyuman saja kepadanya.

Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Senyum wanita itu mirip sekali dengan almarhum mamaku. Hal itu aku ceritakan pada temanku Junainah yang berada di kananku. 'Nai, kamu lihat wanita di kiriku ini. Wajahnya mirip sekali dengan almarhum mamaku. Coba lihat foto almarhum mamaku yang ada dalam kitab Yasin ini..' begitu aku berkata pada Junainah sambil memperlihatkan foto almarhum mama.

Junainah memandangi wanita Arab itu dan membandingkannya dengan foto almarhum mamaku. 'Iya Rita, memang mirip'.

Dalam hati aku bertanya, apakah wanita misterius ini adalah malaikat jelmaan mamaku yang telah tiada? Tiba-tiba aku merasakan kesejukan hati yang begitu mendalam berada disamping wanita Arab misterius itu..

Jumat, 19 Maret 2010

Tasbih dari Wanita Turki

Aku dan suami bersama teman lainnya telah melaksanakan umroh kedua dengan lancar. Kami menyelesaikannya sebelum waktu shalat ashar. Oleh karena itu aku bersama tiga teman wanita langsung mengambil tempat untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah. Seperti biasa, sebelum shalat dimulai aku selalu mengisi waktu dengan membaca Alqur'an atau berzikir.

Tiba-tiba seorang wanita Arab memberiku sebuah tasbih. Dengan komunikasi yang seadanya kami saling berbincang. Aku dengan bahasa Inggris yang tidak begitu lancar. Wanita Arab itu pun menggunakan bahasa Inggris campur Arab.

Aku bertanya padanya dari negara mana dia berasal? Dia menjawab dari Turki. Dia memberiku tasbih karena saat aku berzikir aku menggunakan hitungan jari tanganku. Aku sangat berterima kasih pada wanita itu. Selama ini aku hanya mendengar cerita dari orang lain bahwa selama berhaji atau umroh ada saja orang asing yang tidak kita kenal memberikan sesuatu. Baik berupa makanan dan minuman atau apa saja.

Ternyata cerita itu benar. Aku pun mengalaminya. Mendapat pemberian tasbih dari wanita asing yang tak pernah kukenal sebelumnya. Tasbih itu hingga saat ini sering kugunakan untuk berzikir.

Eh, tiba-tiba aku terkenang dengan wanita itu. Siapakah gerangan dirinya? Di mana dia saat ini ya? Kenapa saat itu hanya aku saja yang diberinya tasbih? Kenapa temanku yang lain tidak diberinya ya? Aku tak menemukan jawabannya.. Hanya Allah yang Maha Mengetahui...

Akhirnya Aku Umroh

Akhirnya...aku berangkat juga bersama suami menunaikan ibadah umroh ke tanah suci. Aku dan suami berangkat bersama jajaran Dispenda Kota Palembang. Kami berangkat pada tanggal 24 Februari 2010 dan tiba kembali ke tanah air pada tanggal 04 Maret 2010. Banyak kenangan indah selama di tanah suci. Insya Allah kenangan perjalanan umroh akan aku tulis dalam blog ini...

Kategori