IKLAN

Selasa, 02 Desember 2014

Kenangan Indah Bersama Mama



Aku menutup kitab Yassin yang baru saja kubaca usai shalat magrib tadi. Sudah hampir empat tahun terakhir aku selalu menyempatkan untuk mengirim fatihah dan membaca surat Yassin untuk mendiang mama. Itulah bentuk kecintaanku pada mendiang mama.



Tak terasa waktu bergulir begitu cepat hingga tak kusadari mama tercinta telah meninggalkan kami hampir empat tahun lamanya. Rasanya belum sempat aku berbakti pada beliau untuk menunjukkan rasa sayang atas segala perhatiannya selama ini. Aku belum mampu memberikan yang terbaik pada mamaku hingga akhir hayat menjemputnya. Padahal.....sebetulnya aku bisa saja memberikan perhatian lebih sebagai baktiku padanya. Toh semua orangtua tak mengharapkan materi dari anaknya. Orangtua hanya menginginkan agar anak-anaknya kelak menjadi berguna bagi orang banyak dan membanggakan keluarga. Ahh...kenapa aku salah kaprah atas bentuk baktiku pada mama? Kenapa aku selalu mengukurnya dalam bentuk materi? Padahal mama tak pernah menuntut hal semacam itu atas kasih sayang dan limpahan kebahagiaan darinya untuk anak-anaknya. Sebuah penyesalan mendalam kurasakan...

Aku terlahir sebagai anak pertama dari lima bersaudara. Aku punya dua adik perempuan dan dua adik laki-laki. Papaku seorang guru pada sebuah SMA swasta di kotaku. Sedangkan mama hanyalah seorang ibu rumahtangga biasa. Kami hidup dalam balutan keluarga sederhana namun kami sangat bahagia. Aku dan adik-adik dapat benar-benar merasakan betapa papa dan mama begitu mencintai anak-anaknya. Sebagai contoh, papa mengajar dari pagi hingga sore hari. Terkadang waktu magrib menjelang papa baru tiba di rumah. Ya, papa mengajar di dua tempat, sekolah pagi dan sekolah sore pada sebuah SMA. Semua itu dilakukannya demi menghidupi keluarga.

Tugas ibuku lebih berat lagi, selain mengurus lima anaknya, beliau juga harus pandai-pandai mengatur urusan ekonomi keluarga. Sebagai tulang punggung keluarga papaku telah berbuat maksimal. Mencari rejeki dengan mengajar di dua tempat. Hanya pada jam istirahat siang beliau pulang sebentar ke rumah guna shalat dzuhur dan makan siang. Setelah itu papa berangkat lagi untuk mengajar pada sekolah sore. Ternyata mamaku adalah wanita yang hebat. Dengan gaji guru yang tak seberapa beliau bisa mengatur pundi-pundi sedemikian rupa agar kebutuhan keluarga tercukupi. Ya, pada jamannya dulu memang belum banyak wanita yang berkarir di luar rumah. Hanya beberapa gelintir wanita yang bekerja di luar rumah guna menunjang penghasilan suami memenuhi kebutuhan keluarga. Ah...rasanya mamaku tak kalah hebat koq! Dengan intuisinya dia bisa membuat kami hidup bahagia walaupun dengan cara sederhana.....

Aku masih ingat, bagaimana mama mengelola pekarangan rumah kami yang cukup luas. Mamaku cukup cerdik memanfaatkan pekarangan rumah guna ditanami sayuran dan buah-buahan. Ya....secara mewarisi darah petani dari kakek dan nenek, mamaku cukup akrab dengan urusan bercocok-tanam. Tetapi bercocok tanam skala kecil lho, di pekarangan rumah. Papaku tak kalah cerdiknya, beliau memelihara ayam, bebek juga memehara ikan di kolam belakang rumah. Klop sudah pasangan orangtuaku ini, mama suka berkebun sedangkan papaku memelihara unggas dan ikan. Kebun mini di halaman rumah kami ditanami sayuran seperti daun singkong, daun katuk, tomat, cabai, buah pare, timun, labu kuning. Pokoknya banyak deh jenis sayurannya. Ada juga tanaman pepaya, pisang, belimbing bahkan petai cina. Yang paling aku suka adalah saat aku membantu mama memanen hasil kebunnya. Aku paling suka memetik tomat karena buahnya bisa langsung kumakan. Kadang-kadang aku suka dimarahi mama lantaran merusak tanaman di kebunnya. Kenapa? Karena aku sering mencongkel tanah tempat ditanamnya ubi rambat. Ya, aku memang penasaran kala itu pengen tahu saja, apa sudah ada akarnya yang  sudah berubah menjadi umbi atau tidak? Haha...

Masih kuingat pula, bagaimana mama menjahitkan kimono sederhana untukku beserta adik-adikku. Hebatnya lagi, beliau membuat kimono sederhana dari bahan baju mama yang sudah tak lagi dipakainya. Dengan sigap mama membongkar baju usangnya, menggunting dan menjahitnya kembali menjadi kimono-kimono lucu bagi putri-putri kecilnya. Ah mama....selalu saja ada yang bisa diperbuatnya bagi kami anak-anaknya. Dengan modal mesin jahit pemberian papa, mama juga terampil sekali membuat baju seragam sekolah kami. Dulu itu kan jarang ada toko konveksi, kalaupun ada tentu harga baju seragam sekolah lumayan mahal. Demi mengirit anggaran, mama rela mencari bahannya di pasar dan menjahit baju seragam sekolah dengan mesin jahit kesayangannya. 

Sejak kami masih kecil-kecil, mama sudah menanamkan bagaimana caranya hidup hemat. Setiap anak dibelikan celengan tanah liat berbentuk ayam. Setiap awal bulan ketika papaku gajian, mama menyisihkan beberapa perak untuk dibagikan kepada anak-anaknya. Dan uang pemberian mama itu pun meluncur ke dalam celengan ayam milik kami masing-masing. Pada setiap akhir tahun ajaran sekolah, kami anak-anaknya berbarengan memecahkan celengan masing-masing. Tawa canda riang khas bocah mengiringi kami menghitung rupiah demi rupiah hasil menabung setahun dalam celengan ayam. Aha, dengan cara seperti itu mama tak perlu pusing lagi memikirkan keperluan sekolah pada tahun ajaran baru. Berbekal modal membuka celengan kami sudah bisa membeli sepatu dan tas sekolah. Ah....kala itu bahagia sekali rasanya bisa membeli keperluan sekolah dari hasil menabung.

Hari demi hari berlalu hingga tak terasa aku pun menamatkan SMA dan memasuki perguruan tinggi. Karena orangtuaku tak cukup kuat menyekolahkan ke universitas, akhirnya aku didaftarkan pada sebuah akademi berbasis ikatan dinas. Karena judulnya 'ikatan dinas' maka selama sekolah tiga tahun pada akademi itu kuliahku dibiayai atas biaya pemerintah. Menurut papa, kalau aku selesai kuliah di akademi itu aku bisa langsung bekerja dan menjadi pegawai negeri. Ya, aku kuliah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri. Kalau sekarang masyarakat lebih mengenalnya dengan STPDN atau IPDN. Sebagaimana halnya sekolah ikatan dinas, peraturan disiplin yang harus diikuti sangat ketat. Misalnya, saat masa ospek, pagi-pagi setelah subuh kami sudah harus kumpul di lapangan guna menerima pembekalan. Dimulai dengan senam pagi, peraturan baris-berbaris, mendengarkan ceramah, hingga diplonco senior. Tapi diplonco masih dalam hal yang wajar guna menanamkan sikap disiplin lho!

Masih kuingat saat aku mengikuti ospek, pagi-pagi mama sudah lebih dulu bangun tidur. Beliau menyiapkan segelas susu hangat dan telur rebus setengah matang. Belum cukup hanya itu, mama menambahkan sesendok madu yang harus aku minum. Kata mama agar bisa menambah energi selama mengikuti ospek. Begitulah yang terjadi selama ospek itu, mama selalu menyiapkan sarapanku dan menghantarkanku di depan pintu kala aku berpamitan. Kucium tangannya dan mamapun membelai kepalaku. Saat itu, aku tak menyadari bahwa itulah salah satu bentuk kasih sayang dan cinta seorang ibu kepada anaknya. Dalam belalainnya, pastilah mamaku berdoa agar aku kelak menjadi orang berguna dan dapat membahagiakan serta membanggakan keluarga.

Doa mama terkabul.... Sejak menamatkan kuliah pada akademi tersebut  aku langsung diterima sebagai pegawai negeri. Sebuah profesi yang saat ini menjadi rebutan banyak orang. Alhamdulillah juga, karena aku tamatan sekolah APDN aku mendapat amanah menduduki jabatan sekelas Lurah. Sebuah jabatan yang tak semua orang bisa merasakannya. Disamping mengabdi pada negara juga aku bisa berbagi kepada orang banyak dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat.

Brakkk...!!! Kitab Yassin yang berada dalam genggamanku terjatuh. Aku tersadar dari lamunan. Ternyata aku melamun cukup lama hingga aku bisa mengenang begitu banyak kasih dan cinta mendiang mamaku. Seketika aku merasakan kunang-kunang menari-nari pada pelupuk mata. Aku menangis. Foto mama yang tercetak dalam kitab Yassin itu mengingatkanku akan kenangan indah bersamanya. Maafkan aku mama yang tak mampu membalas begitu banyak jasamu. Padahal doamu telah menghantarkanku kini berada dalam jajaran pemerintahan negeri ini... Dulu kupikir, membahagiakan mama adalah dengan cara memanjakannya dengan begitu banyak materi. Ternyata cara pikirku itu keliru. Belum sempat aku memanjakan mama dengan caraku itu mama telah dipanggil Yang Kuasa dalam usia enampuluh tahun. Sakit jantung telah merenggutnya begitu cepat dari kami. Kini, untuk menutupi rasa bersalahku pada mama adalah bagaimana aku bisa mewujudkan keinginannya...agar aku bisa menjadi berguna bagi orang banyak. Ya....mungkin sebagai abdi negara aku harus lebih banyak melayani masyarakat dalam arti sesungguhnya. InsyaAllah Mama...apa yang kau harapkan padaku untuk menjadi abdi negara yang baik akan aku laksanakan, aku berjanji untukmu mama...


Tulisan ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan "Hati Ibu Seluas Samudera"




12 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah terdaftar... Makasih ya Pakde.. Salam hangat juga dari Palembang...

      Hapus
  2. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Pakde... semoga proyek yang digawangi oleh Pakde ini mendapat dukungan penuh dari seluruh penulis yang berpartisipasi dalam GA ini.. Utamanya semoga naskahnya kelak mendapat tempat bagi penerbit untuk diterbitkan...

      Hapus
  3. ibu memang sungguh luar biasa ya mak,,,,semoga mendapat tempat terbaik disisiNya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih atas atensinya ya Mak Dwiex'z... Peran ibu memang sungguh luar biasa.. Tak berlebihan memang kita menyebutnya sebagai wanita yang mulia...

      Hapus
  4. Mama mbak rita luar biasa mbak. Doakan dia dalam waktu-waktu mustajab. Di saat sujud, turun hujan, 1/3 malam terakhir atau dalam keadaan safar. Karena amalan yabgvtakkan terputus adalah do'a anak shalih kepada orang tuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak atas atensinya... InsyaAllah aku akan selalu mendoakan almarhum Mama..

      Hapus
  5. Blognya saya follow, kalau berkenan follow balik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siippp...makasih.. aku BW ya ke TKP...

      Hapus
  6. ibu memang luar biasa, Mbak :)

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya ya...