IKLAN

Sabtu, 20 Desember 2014

Untaian Kata dari Hati


       Tak terasa saat ini kita tengah berada di penghujung tahun 2014. Begitu banyak kejadian dalam hidup yang terekam dan menjadi kenangan selama setahun ini. Baik itu kenangan manis maupun kenangan pahit tentunya telah menorehkan begitu banyak cerita. Beberapa rekam jejak kenangan hidupku tertuang dalam bentuk tulisan di blog pribadiku. 

       Kebetulan nih....om NhHer mengadakan lomba GA bertajuk "A Self Reflection: Lomba Tengok-tengok Blog Sendiri Berhadiah."  Saatnya nih menoleh ke belakang.  Aku yang tadinya sedang males mengelola blog ini merasa dijewer dengan adanya GA "A Self Reflection" ini. Mulanya aku tak mengerti maksud diadakannya GA ini. Lalu aku membaca postingan om NhHer. Ooh ternyata beliau mengajak kita-kita para blogger memilih postingan favorit yang pernah ditulis. Tentunya postingan itu memberikan kesan mendalam dan bernilai plus sehingga menjadi bahan refleksi diri dalam menekuni profesi sebagai blogger.

     Setelah aku membolak-balik beberapa tulisan sepanjang tahun 2014, ketemulah sebuah tulisan yang menurutku lahir dari lubuk hati paling dalam. Kenapa aku bilang seperti itu? Karena saat jemariku menyentuh keyboard pada laptopku ini ternyata kata demi kata mengalir dengan lancarnya. Terciptalah sebuah puisi yang kudedikasikan pada almarhum adikku "Ferry Ardiansyah". Beliau tak lagi bersama kami untuk selamanya. Almarhum meninggal karena sakit kanker nasofaring yang diidapnya selama hampir tiga tahun.

       Tulisanku itu bertajuk "Yang Pergi dan Tak Akan Pernah Kembali." Sumpah, seumur-umur aku paling tak bisa membuat puisi. Aku lebih suka menulis artikel, opini atau cerpen. Begitu duduk di depan laptop dan jemari menyentuh keyboard biasanya akan tercipta sebuah tulisan dengan cepat. Beda ketika aku mencoba menulis puisi. Berjam-jam duduk di depan laptop mungkin tak mampu aku menciptakan sebuah puisi. Kalaupun aku mampu menuliskan puisi menurutku hasilnya garing!

       Nah... kembali lagi pada tulisanku yang bertajuk "Yang Pergi dan Tak Akan Pernah Kembali."   Saat aku menuliskan puisi itu dalam kondisi sedang berduka dan dirundung kesedihan. Bukan hanya sedih ditinggal sang adik selamanya, tetapi karena teringat almarhum meninggalkan dua orang putra yang masih kecil-kecil, Aldy dan Akbar. Selama menekuni dunia tulis menulis baru kali inilah aku menelurkan tulisan yang betul-betul lahir dari lubuk hati paling dalam. Disamping itu, aku berhasil memotret momen yang sangat menyentuh hatiku, ketika keponakanku Aldy bersama mamanya menabur bunga di makam papanya. Kalau melihat foto itu dan membaca ulang tulisan itu tak terasa air mataku selalu mengalir.



       Tulisan tersebut aku buat bertepatan momennya ketika om NhHer mengadakan Lomba Blog "Cinta Monumental". Awalnya aku merasa yakin tulisan ini akan mendapat tempat di hati juri. Namun aku gagal meraih salah satu hadiahnya lantaran aku tak mematuhi persyaratannya. Salah satu syaratnya adalah harus menampilkan banner lomba tersebut pada sisi kanan sidebar blog kita. Nah...aku yang gaptek ini tidak bisa memasang banner pada sidebar blogku walaupun sudah kuutak-atik sedemikian rupa. Akhir dari lomba tersebut aku harus menelan kekecewaan karena tulisan yang kuharapkan mampu bersaing dengan kontestan lain ternyata gagal karena urusan teknis. Ini menjadi pembelajaran bagiku, kalau ingin menjadi salah satu pemenang lomba blog harus mematuhi syarat dan ketentuan lomba.

        Bagi sahabat blogger yang penasaran dan ingin membaca tulisan dimaksud bisa meng-klik link-nya di SINI.


Selasa, 02 Desember 2014

Kenangan Indah Bersama Mama



Aku menutup kitab Yassin yang baru saja kubaca usai shalat magrib tadi. Sudah hampir empat tahun terakhir aku selalu menyempatkan untuk mengirim fatihah dan membaca surat Yassin untuk mendiang mama. Itulah bentuk kecintaanku pada mendiang mama.