IKLAN

Selasa, 10 Maret 2015

Kemantapan Hati Menjawab Keraguan Hijabku


Pada saat busana hijab sedang naik daun sekitar 10 tahun yang lalu, aku mulai berfikir untuk mengenakannya juga. Namun saat itu masih ada keraguan dalam diriku. Apa benar sih aku sudah mantap berhijab? Apa karena ikut-ikutan tren? Atau memang memenuhi panggilan hati? Pemikiran-pemikiran itu sempat wara-wiri dalam benakku kala itu. Lho koq.....pengen berhijab tapi koq ya masih mikir-mikir sih?


Busana yang seharusnya dikenakan seorang wanita muslim adalah busana yang menutup aurat. Hal ini sesuai dengan anjuran dalam agama Islam, yaitu surat AnNur ayat 31 disebutkan artinya:

"Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar nereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung di dadanya dan janganlah 
menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka."
QS. An-Nur: 31

Berangkat dari anjuran dalam Alquran tersebut, jelas kiranya bahwa seorang muslimah dalam berpakaian haruslah memperhatikan norma-norma. Baik itu norma agama maupun norma kesopanan dalam masyarakat. Pernah lihat kan cara berpakaian seorang muslimah yang berhijab namun belum sesuai norma agama dan adab kesopanan? Cara berpakaian yang dimaksud adalah yang seperti ini:

1. Berhijab namun memakai celana serta baju ketat dan seksi, sehingga lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas.
2. Berhijab namun style atau gaya hijabnya menampakkan lehernya karena hijabnya tidak rapi.
3. Berhijab namun blous dan roknya terbuat dari bahan transparan yang memperlihatkan kulit secara samar.
4. Berhijab namun celana celana atau roknya menggantung, sehingga ujung tangan dan ujung kaki terlihat.

Lalu, cara berhijab seperti apa sih yang sesuai dengan anjuran dalam agama? Tentunya adalah cara berpakaian dan berhijab yang telah memenuhi  syarat dan ketentuan dalam Alquran.  Lalu, yang seperti apa sih syarat dan ketentuannya? Setelah aku mencari tahu sana-sini lewat googling, aku menemukan jawabannya seperti ini:

1. Menutupi seluruh badan dengan sempurna.
2. Bukan berfungsi gaya-gayaan.
3. Bahannya tidak tipis dan transparan.
4. Modelnya harus longgar sehingga tak memperlihatkan bentuk tubuh..
5. Bentuknya tidak menyerupai laki-laki, misal memakai celana panjang. 

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pakaian wanita muslim yang dianjurkan adalah memakai gamis dan kerudung syar'i. Lalu, apa pula sih yang disebut kerudung syar'i? Kerudung syar'i adalah kerudung yang menutupi sampai dengan dada seorang muslimah. 

Bagaimana sih cerita tentang hijabku?

Seperti yang telah kuceritakan diawal bahwa keinginan berhijab sudah sejak lama. Namun kala itu aku masih banyak pertimbangan. Kenapa? Yang pertama, karena belum terbiasa aku takutnya nanti kepanasan dan gerah saat memakainya. Tidak lucu kan bila buka tutup hijab? Kedua, aku melihat banyak wanita berhijab namun perilaku dan akhlaknya tak sesuai dengan hijabnya. Banyak kutemukan wanita berhijab namun masih suka mengumpat orang dan nyinyir. Berhijab tetapi tak sopan dan etikanya kurang. Berhijab tetapi dia berlaku dosa. Nah...hal-hal seperti inilah yang membuatku ragu. Menurutku, seorang wanita yang berhijab haruslah sempurna, dalam arti dia mestinya menjadi panutan bagi wanita lainnya yang belum berhijab. 

Lalu aku berfikir, kalau mesti sempurna dulu baru berhijab, kapan dong mulainya? Karena yang namanya manusia itu kan tak ada yang sempurna. Tidak mulai-mulai dong berhijabnya, iya kan? Sampai akhirnya aku mendapat kesempatan berangkat umroh pada awal tahun 2010 yang lalu. Sepulang dari umroh aku memantapkan hati untuk berhijab. Hari pertama masuk kantor, banyak mata memandang ke arahku. Ada yang menatapku heran seolah berkata, "Eh, Rita...benar nih kamu berhijab sekarang?" Atau seolah bertanya, "Kamu sudah yakin nih dengan keputusanmu berhijab? Berat lho konsekuensinya, antara hijab dan perilakumu mesti sepadan lho..." 

Dari sekian banyak orang yang menatapku dengan ragu, ada juga simpati yang kuterima. Bahkan dari mereka mengucapkan selamat kepadaku atas penampilan baruku yang mengenakan hijab. Lega rasanya mendapat banyak support dari teman-teman yang lebih dahulu berhijab.

Kini setelah lebih dari lima tahun aku berhijab, aku semakin nyaman dengan penampilanku kini. Nyaman karena terlindung dari pandangan dan tatapan laki-laki yang bukan muhrim. Namun cara hijabku kini belum syar'i. Aku masih mengenakan jilbab berbentuk segi empat yang dilipat dua ketika dipakaikan di kepala. Jilbab model seperti ini adalah favoritku, karena lebih praktis saat akan dipasangkan di kepala. Aku tak suka jilbab warna-warni. Aku lebih memilih yang polos warnanya. Kalaupun bermotif tentunya yang desainnya sederhana dengan corak yang lembut. Semoga aku tetap istiqomah dalam berhijab dan insyaAllah dengan perjalanan waktu aku akan mengenakan hijab syar'i. Bismillah....


Artikel ini diikutsertakan dalam "Hijab Syar'i Story Giveaway"


12 komentar:

  1. Hijab memang wajib adanya, tapi sekali lagi harus sesuai dengan ketentuannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali....hijab yg sesuai ketentuan agama yg mesti dipedomani.. Mksh atensinya ya...

      Hapus
  2. Good luck untuk giveawaynya, ya :)

    BalasHapus
  3. alhamdulillah ya mbak Rita, dengan berhijab insyaallah identitas kita sebagai muslim semakin nampak...dan semoga kita selalu istiqomah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali...alhamdulillah.. Mksh ya Mbak atas atensi dan kunjungannya..

      Hapus
  4. betul mba, memakai jilbab memang harus ada norma2 nya ya...

    BalasHapus
  5. Kunjungan balik. Semoga istiqomah dan sukses GA nya..;)

    BalasHapus
  6. Semoga sellau istiqamah. Aku punya dua putri nih semoga mereka juga istiqamah dengan hidayahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas doa dan atensinya ya Mbak...

      Hapus

Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya ya...