IKLAN

Sabtu, 14 Maret 2015

Luruskan Niat Untuk Menikah


     "Kapan menikah...?"

      Pertanyaan seperti itu sering kuterima saat aku masih menjomblo. Wajar bila banyak orang  menanyakannya. Mengingat saat itu usiaku tak muda lagi. Bagi seorang wanita bila berusia diatas kepala tiga dan belum menikah akan menjadi pertanyaan banyak orang. Awalnya sih aku gerah juga ya ditanya-tanya seperti itu. 


       "Banyak banget sih orang kepo, pengen tahu urusan orang lain?" pikirku.

Kala itu aku sering merasa gerah atas pertanyaan banyak orang. Seolah mereka menuding ada yang salah pada diriku. Padahal mereka tak tahu apa yang sebenarnya menjadi alasanku kenapa masih menjomblo ketika usia sudah tak muda lagi.

       "Banyak faktor penyebab diriku memilih betah menjomblo."

Siapa sih tak ingin menikah dan punya pasangan hidup yang tepat? Begitu juga diriku. Ketika kuberi alasan betah menjomblo lantaran patah hati, banyak yang tak percaya. Malah ada yang bilang itu hanya hanya alasan semata yang terlalu dibuat-buat.

       "Kalian belum pernah merasakan patah hati kan, makanya nggak tahu kalau rasa sakitnya tuh sampe di sini..." (#nunjuk dada...)

Betul lho.....sakitnya tuh di sini....(#nunjuk dada) ketika cinta kita terbang bak burung hinggap di dahan lain. Bagaimana tak sakit bila hubungan yang sudah kita jalani selama bertahun-tahun kandas saat tiba ditahun kesepuluh! Sepuluh tahun Sodara-sodara.... Sepuluh tahun..!!! Ketika peristiwa itu terjadi usiaku sudah duapuluh delapan tahun pula! Mestinya ending dari hubungan itu manis ya....sebuah pernikahan. Tetapi apalah dayaku ketika si cowok itu digaet yang lain dan si cowok itu lebih memilih dia??? (#lho koq malah curhat di sini?)


Betitulah pengalamanku ketika masih jomblo saat usia diatas kepala tiga. Banyak orang yang mempertanyakan alasanku. Well.....aku mesti kasih tahu ya, ini lho penjelasannya.....:

1. Shock dan down, bener lho itulah kondisiku saat itu ketika tiba-tiba si cowok berlaku tak jujur. Dia lebih memilih orang lain. Yang bikin aku down itu bukan karena putusnya itu, tetapi karena dia tak memberi alasannya kenapa dia tiba-tiba menjauh. Dan akhirnya, akulah yang mesti tegas. "Well, ini nggak bener. Kalau dirimu sudah tak suka, tak apa-apa kita tak menikah. Tapi tolong beri penjelasannya." Tetapi si cowok seperti tikus kelelep, tak berdaya menghadapi pertanyaanku, hingga mesti aku yang mengambil keputusan, "Oke, mulai dari detik ini, aku yang mesti mengambil keputusan. Selamat tinggal cintaku.... Silahkan Engkau terbang dan memilih kemana Engkau akan bersandar melabuhkan pilihanmu..."

2. Butuh waktu untuk instropeksi diri untuk bangkit lagi. Jelas dong.....ketika terjadi kekecewaan yang begitu mendalam tentunya tak mudah dong menghapus semua kenangan dari ingatan. Tapi itu mesti kulakukan. Perlahan-lahan aku menata kembali kehidupan yang baru. Walau tak mudah, pelan tapi pasti aku bisa melalui hari-hari gelap dalam hidupku.

       "Yes...!!! Aku move-on!!!"

Begitulah, aku berteriak keras ketika aku bisa bangkit dari keterpurukan dalam membina hubungan. Tak apalah ini terjadi padaku, ini adalah garisan hidup yang harus kuterima. Aku yakin dibalik semua ini ada hikmahnya. Benar saja, dalam waktu yang tak terlalu lama setelah aku move on, seorang laki-laki yang belum terlalu lama kukenal mengajakku menikah.

       "Menikah???"

Pertanyaan itu kulontarkan kepada si lelaki pemberani. Baru kali ini aku ditantang seperti ini oleh laki-laki. 

       "Ya, kita menikah!"

Akhirnya, setelah melakukan shalat tahajud, aku menerima pinangan laki-laki itu. Aku tak mau keputusan menikah hanya karena emosi sesaat. Aku tak mau menikah karena takut dibilang perawan tua, takut dibilang sok wanita karir, takut dibilang sok mandiri, takut dibilang pilih-pilih....

       "Bismillah..... Aku luruskan niat untuk menikah."

Perlu sekali meluruskan niat, agar keputusan menikah tak diambil dalam kegamangan pikiran. Menikah itu ibadah, jadi perlu pertimbangan yang benar. Yang jelas aku menikah karena:

1. Memenuhi tuntunan agama yang kuanut, bahwa menikah itu adalah sunnah Rasul.  "Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." QS. Adz Dzariyaat (51):49.

2. Secara psikologis, memiliki pendamping hidup bagiku adalah suatu kebutuhan. Aku butuh teman untuk sharring terhadap apapun masalah, dan alhamdulillah suamiku ini type orang yang menghargai dan mendengarkan curhat isteri. Terlebih lagi, dengan seringnya berdiskusi akhirnya segala persoalan yang dihadapi bisa dicari solusinya. 

3. Mencari kebahagiaan hidup dengan menikah. Kami bisa melakukan hal-hal yang membuat kami bahagia. Mulai dari urusan ibadah, urusan pekerjaan, urusan silaturahmi dengan keluarga besar, urusan hobby dan kesenangan. Pokoknya banyaklah hal-hal yang bisa membuat kami bahagia dan melaluinya berdua..

 Catatan kecil bagi pasangan yang belum menikah:

1. Sebelum memutuskan menikah, luruskan niat dan yakinkan diri, apakah memang menikah itu karena ridha Allah? Ini penting karena jangan sampai terburu-buru dan terbawa emosi hanya untuk mendapatkan label  atau status menjadi seorang "nyonya".

2. Sebelum menikah, yakinkan diri apakah laki-laki yang kita pilih adalah calon pendamping yang tepat bagi kita dalam mengarungi perkawinan kelak? Untuk menjawabnya, sahabat blogger yang muslim dapat melakukan shalat tahajud agar benar-benar diberi ketenangan bathin saat memutuskan menikah atau tidak.

3. Jangan ragu untuk mundur dari hubungan bila itu membuatmu tak nyaman. Abaikan lamanya rentang waktu yang telah dihabiskan selama ini untuk membina hubungan yang gagal. Lebih baik pahit diawal daripada pahit setelah menikah.

4. Cinta kilat, why not? Jaman sekarang kita kan mengenal yang namanya ta'aruf. Jangan takut mengambil keputusan untuk menikah ketika sahabat blogger yakin bahwa dia adalah calon yang tepat untuk bersama-sama denganmu mengarungi pahit manisnya kehidupan setelah pernikahan.

Well, bila sahabat blogger berencana menikah, luruskan niat dulu ya agar mendapatkan kemantapan hati. Jangan menikah dengan emosi sesaat demi mendapatkan status "nyonya." . 

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 3rd Anniversary  The Sultonation"

  
     
          

30 komentar:

  1. good luck bunda!!
    *intip juga GAnya ahh.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo...Mbak Syifa...ikutan GA-nya juga..hehe..

      Hapus
    2. apa boleh ikutan juga nih ???
      hehehe
      Salam kenal y bunda :D

      koneksi internet
      roaming

      Hapus
    3. Boleh dong Mbak Raisa ikutan... Yukk bikin tulisan dan posting buat GA ini...yukkk..

      Hapus
  2. Baru tau ada GA ini. Intip ah sampe kapan. Good luck ya utk keikut sertaanny

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo Mak Ade Anita....ikutan juga dan ramaikan GA-nya...

      Hapus
  3. Suka bgt sama paragraf terakhir:

    luruskan niat dulu ya agar mendapatkan kemantapan hati. Jangan menikah dengan emosi sesaat demi mendapatkan status "nyonya."

    Sy sdg berproses untuk itu. Doakan sy ya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mksh ya atas atensinya... Aku juga doakan semoga segala sesuatunya kelak lancar dan Mbak Vhoy mendapat kemantapan hati memilih calon pendamping hidupnya... bismillah ya Mbak..insyaAllah prosesnya lancar ya...

      Hapus
  4. Kalau jodoh.... pasti segalanya mudah ya mbak. kalau tidak jodoh... ia berlalu sambil menabur pedih. yang belum move on... baca tulisan ini!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mbak...yukkk yg belum move on ayoo bangkit...

      Hapus
  5. sukaaaa tulisannya....
    kalau cinta dan jodoh itu sederhana mak.. ^^ aku ngalaminnya
    gutlak mak GAnya

    BalasHapus
  6. Benar sekali, Mbak, meluruskan niat ini penting banget untuk ke depannya agar lebih mudah meraih bahagia.

    BalasHapus
  7. Betul banget, memang harus meluruskan niat dulu sebelum menikah.

    BalasHapus
  8. Setuju sekali mbaaaak...
    Jangan sampai menikah karena alasan yang gak jelas...
    Karena menikah itu kan untuk seumur hidup, dan seumur hidup itu lama bangeeeet :)

    Jadi niatnya memang harus diluruskan :)
    Gudlak untuk ngontesnya yah mbaaak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mak atensinya...iya Mak...kudu jelas niatnya.. mkasih doanya ya...

      Hapus
  9. Yang punya niat mulia nggak akan kelamaan pacaran :)

    BalasHapus
  10. wah ada lomba ttg menikah toh. moga menang ya

    BalasHapus
  11. Memang benar ya Mak ... niat harus lurus supaya insya Allah semuanya berjalan mulus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar sekali Mak...biar semuanya berjalan lancar...

      Hapus
  12. pemgalaman no 1, saya pernah mengalaminya. Yg sedikit berbeda adalah si dianya saya sdh membakukan hubungan dgn seseorang ketika PDKT sama saya. Pdhl sejak awal, saya sdh menegaskan dan menanyakan is he still really single?

    Bukannya saya kecewa dia tdk memilih saya, tapi saya tdk respect dgn sikapnya yg tdk gentleman. *curcol*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mbak dgn diriku...bukannya masalah jadi apa enggaknya menikah..tetapi sikap gentle-nya itu yg gak ditunjukkin sama aku...nah...itulah yg aku tak suka.. makasih ya atensinya...

      Hapus
  13. so swwt banget y mbk...
    aku juga ikutan GA ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikutan juga ya Mbak GA yg ini...so..semoga sukses ya...

      Hapus
  14. Setujuuuu banget Mak Ritaaa :))
    Niat kudu lurus dan ikhlas utk menikah

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya ya...