IKLAN

Rabu, 30 Desember 2015

Sepenggal Cerita Perjumpaan Dengan Sahabat Lama


       Bagaimana rasanya bila ketemu sahabat lama? Tentu rasanya senang sekali ya... Begitu juga yang aku rasakan saat berjumpa sahabat lama. Setelah berpisah cukup lama baru jumpa kembali 25 tahun kemudian. Ceritanya nih, libur cuti bersama Natalan 4 hari aku manfaatkan berlibur bersama keluarga. Rute perjalanan yang kami tempuh cukup jauh. Bertolak dari Palembang menuju Muaradua Oku Selatan. Dari sana menuju ke Danau Ranau. Perjalanan berlanjut ke Lampung menuju Krui. Bermalam sehari, keesokan harinya lanjut ke kota Manna Bengkulu Selatan. Dari Manna ke kota Bengkulu, keliling-keliling menikmati wisata kota Bengkulu. Lanjut lagi ke kota Lubuklinggau dan berakhir kembali ke Palembang. Rute yang cukup panjang dan melelahkan. Namun sangat menyenangkan. Ini adalah perjalanan touring terpanjang yang pernah kulakukan.

      Ceritanya nih, pas tiba di kota Manna, aku teringat sama Sukmawaty. Dia adalah teman kuliahku semasa di APDN Palembang. Waktu itu dia menjadi salah satu mahasiswa tugas belajar utusan provinsi Bengkulu. Selama 3 tahun mengenyam pendidikan di sana. Hingga tiba saatnya masa perkuliahan berakhir. Sebagai mahasiswa tugas belajar mereka dikembalikan lagi ke daerah masing-masing. Sejak saat itu, aku tak pernah berjumpa lagi dengan Sukmawaty. 

     "Dian, minta nomor hape Sukmawaty dong...! Kebetulan saat ini aku di Manna. pengen jumpa sama dia," pesan singkatku pada Dian yang kebetulan tinggal di Bengkulu. Dian ini juga temanku selama kuliah di APDN Palembang. 

       "Ohh...lagi di Manna ya? Oke deh, ini nomer hapenya Sukma, 0812 xxx xxx," balasan sms dari Dian.

       "Makasih ya Dian, semoga deh aku bisa jumpa Sukma di Manna," balasku lagi.

       Alhasil, setelah mendapat nomor hape Sukma, aku segera menelponnya. Betapa senangnya kami bisa berkomunikasi kembali. Janji ketemuanpun dibuat. Berhubung aku tiba di Manna sudah pukul setengah sepuluh malam, tak mungkin lagi kami saling bertandang. Mengingat waktu yang sempit, janji ketemuanpun dilakukan esok hari. Demi ketemu sahabat lama, jam 6 pagi aku sudah bertamu ke rumahnya. Kebetulan rumah Sukma tak jauh dari tempat kami menginap di Manna.

Aku pake jilbab merah maron, Sukma pake jilbab hijau

       "Hai.... Rita, apa kabar? Wah, surprise nih kamu bisa sampai juga di Manna ya?" sapa Sukma hangat.

      "Hai...Sukma, kabar baik...! Gak nyangka juga sih bisa sampai di Manna. Aku bersama keluarga touring nih, hehe...," canda tawa dan senda gurau menghiasi percakapan kami saat itu.

       "Nginap di rumahku ya... Ntar kita jalan-jalan. Aku ajak ke pantai ya...," tawarnya.

       "Duh...maaf banget Sukma, kayaknya untuk saat ini belum bisa. Ntar jam setengah delapan pagi ini kami sudah harus luncur lagi melanjutkan perjalanan. Mungkin lain kali ya...."

       "Yahhh...sayang banget ya, tapi janji ya kalau ke Manna lagi nginap di rumahku."

       "Makasih Sukma atas tawarannya, aku janji insyaAllah kalau ada waktu dan kesempatan ingin ke Manna lagi." 

       Percakapanpun mengalir, hingga tiba saatnya harus berpisah. Aku pun berpamitan kepada Sukma.

       "Ini ada sedikit oleh-oleh buat kamu, kerupuk rambak.  Kebetulan ada yang bikinnya di dekat rumahku. Kamu sih...datengnya mendadak, aku gak sempat beli oleh-oleh nih, hehe...." 

Kerupuk rambak oleh-oleh dari Sukmawaty

       "Makasih ya Sukma, maaf ya aku mengganggu waktumu pagi-pagi buta sudah bertamu, hehe...."

     Tak terasa, waktu bergulir cepat. Aku melirik jam tangan yang kupakai. Wah...sudah hampir pukul setengah delapan pagi. Aku harus berpamitan. Ntar lagi aku bersama keluarga akan melanjutkan perjalanan ke kota Linggau. Begitulah, ada pertemuan, ada pula perpisahan.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, saatnya berpamitan pada Sukma

     Sebelum berpamitan, kami mengabadikan momen sejenak melalui kamera hape. Bahkan suamiku dan suami Sukma pun ikutan foto bareng. Seolah mereka ikut gembira dan larut dalam suasana saat itu. Jepret...jepret....  Jadilah foto kebersamaan setelah lama berpisah dan jumpa kembali 25 tahun kemudian. Makasih Sukma atas wellcome-nya. InsyaAllah aku ke Manna lagi. Pengen banget ke Pantai Laguna yang kamu ceitakan itu. Penasaran dengan keindahan dan eksotika suasana Pantai Laguna. 

Kika: Suamiku, aku, Sukma, suami Sukma 

Senin, 28 Desember 2015

Kado Buat Farhan dan Firly


     "Mbak, nanti tanggal 10 Desember Farhan ultah... Ntar ngerayainnya dibarengin pas hajatan sunatan saja. Hajatannya tanggal 16 Desember. Kebetulan tanggal segitu Farhan sudah libur sekolahnya," suara adikku Linda terdengar dari hape yang kugenggam.

     "Jangan lupa dicatet ya Mba tanggalnya...," adikku Linda mengingatkan.

     "Iya Dik, insyaAllah Ayuk dateng. Ntar Ayuk minta ijin dari kantor mengingat tanggal segitu hari kerja. Mudah-mudahan atasanku di kantor mengijinkan," aku membalas ucapannya.

     Begitulah percakapan singkatku dengan mamanya Farhan. Hmm...tak terasa keponakanku yang satu ini usianya sudah 10 tahun. Ultahnya pas tanggal 10 pula! Mana sudah mau disunat pula. Saatnya memikirkan kado yang pas buat dia.

     Ngomong-ngomong soal kado, aku tuh orangnya paling senang memberikan kado buat para keponakan. Maklumlah, keponakanku cukup banyak. Semuanya ada tujuh orang. Aku paling suka melihat ekspresi bahagia dari raut wajah mereka. Apalagi kalau melihat mata mereka berbinar-binar ketika membuka bungkus kado. Seolah ada kejutan bagi mereka dibalik kado yang terbungkus rapi.

     Berhubung Farhan punya adik perempuan berusia empat tahun, tak ada salahnya kan bila adiknya "Firly" mendapat kado juga dari Budenya ini? Nah, acara hunting kado ini paling seru. Aku harus sesuaikan budget dana dengan barang apa yang akan kubeli sebagai kado.

     Awalnya, aku ingin memberi baju main. Tapi setelah dipikir-pikir, belum tentu Farhan suka dengan model dan motif bajunya. Kalau diberi kado baju lalu Farhan ogah memakainya kan mubazir dong namanya? Terbersit pula sih ingin memberi mainan, tetapi dia kan sudah bukan anak kecil lagi yang doyan main toys? Dia doyannya main game di hape. Oalah...kalau mesti memberi hape buat dia bisa jebol nih kantong Budenya ini, haha...

   Nah, setelah lama berfikir aku punya ide untuk memberinya baju tidur berjenis piyama. Alasannya, baju piyama kan dipakai buat tidur. Modelnya simpel dan motifnya kan gak aneh-aneh. Mudah-mudahan dia suka deh kalau mendapat hadiah piyama. Yang paling penting sih kado piyama kan pasti terpakai buat tidur.

    Akhirnya, aku hunting ke sebuah toko yang menjual baju piyama. Di toko itu banyak dijual beragam piyama dengan beragam motif. Bahannya pun beragam, ada yang berbahan katun. Ada pula yang berbahan kaus. Setelah pilih sana pilih sini, aku menemukan model dan warna yang cocok buat Farhan. Sebuah piyama berbahan kaus yang lembut berwarna biru. Aku juga memilih sebuah piyama  berwarna pink buat adiknya Firly. Setelah mendapatkan harga yang disepakati, dua lembar piyama tersebut beralih ke tanganku. Yesss...! Mudah-mudahan Farhan dan Firly menyukai kado pemberianku ini, gumamku.

    Belanja di toko yang aku kunjungi ini enak lho! Harganya bisa ditawar. Asal kita bisa menawar mudah-mudahan kita mendapatkan baju dengan kualitas baik tetapi harganya miring. Coba kalau belinya di mall, untuk piyama sejenis ini harganya cukup mahal. Nah, bila ingin tahu piyama yang seperti apa buat kadonya Farhan da Firly bolehlah mengintip penampakannya di bawah ini ya... Tarraa......


Piyama biru buat Farhan, yang pink buat Firly
     
Piyama Farhan

Piyama Firly


Senin, 21 Desember 2015

Serunya Main Bola Pancing Di Pantai


Tak terasa saat ini kita sudah berada pada penghujung tahun 2015. Itu berarti tahun 2015 akan segera berganti tahun 2016. Pastinya sudah banyak nih yang bikin agenda perayaan menyambut tahun baru 2016. Hmm...jadi teringat setahun yang lalu. Ketika aku bersama keluarga merayakan tahun baru 2015 di pantai Pasir Padi.

Kami berangkat melalui jalan darat dengan mengendarai mobil menuju pelabuhan penyeberangan di Tanjung Api-api. Dari pelabuhan ini kita harus antre hingga memasuki kapal. Kapal penyeberangan ke Bangka jauh lebih kecil bila dibandingkan kapal penyeberangan ke Merak. Setelah cukup lama antre di Tanjung Api-api akhirnya kapal yang akan membawa kami menyeberang ke Bangka tiba. Butuh waktu berlayar sekitar tiga jam untuk sampai di pelabuhan Tanjung Kalian Muntok Bangka. Setelah tiba di seberang mobil kami pun melaju menuju kota Pangkal Pinang. 

Betapa bahagianya aku bisa berkumpul dan bertemu kembali dengan keluarga di Bangka. Aku memeluk erat dua keponakanku "Aldy" dan "Akbar".  Maklum, aku sudah kangen banget pada mereka. Padahal baru setahun lho berpisah tapi sudah kangen berat. Kedua keponakanku ini memang sangat dekat denganku. 

Adik iparku di sana telah merancang acara menyambut tahun baru di pantai Pasir Padi. Sudah sejak jam delapan pagi kami berangkat ke sana. Ada dua pondokan yang disewa untuk kami gunakan menaruh barang-barang dan beristirahat. Waktu terus beranjak. Untuk mengisi waktu kami mendirikan tenda di depan pondokan. Mirip anak Pramuka yang sedang berkemah, hehe..

Serunya nih, anak-anak tak mau kalah sibuk. Bukannya sibuk bantu mendirikan tenda melainkan sibuk sendiri bermain di pantai. Kebetulan di sepanjang pantai banyak penyewa mainan. Melihat ada kolam pancing berisi bola-bola kecil, anak-anak pun berhamburan mendekati. Aldy dan Akbar kayaknya tertarik untuk mencoba permainan bola pancing magnet tersebut. Sebetulnya Aldy dan Akbar sudah banyak membawa mainan miliknya. Tetapi bola-bola kecil di kolam mini tersebut lebih menarik perhatiannya. Dan akhirnya sepupu-sepupunya pun ikutan main di sana. 

Cukup lama anak-anak itu main bola pancing di kolam mini pinggir pantai. Hingga ada rasa bosan datang dan mereka meninggalkan permainannya. Satu persatu anak-anak beranjak dari tempat semula menuju ke arah tengah pantai. Di sana mereka bermain pasir, berlarian mengejar ombak bahkan joged-joged kesenangan. Ahh...ada-ada saja pola tingkah anak-anak yang ceria, yang selalu membuat para orangtuanya bahagia. Next time kita main lagi di pantai ya Nak...


Bocah lelaki yang menghadap kamera itu "Akbar",
yang di sebelah kanan di dekat tukang gorengan itu "Aldy"

Akbar sadar kamera kayaknya ya...masih sempat noleh tuh pas difoto


Mbak-mbaknya manyun tuh ..mungkin pancingannya belum berhasilkah?

Duh...rame bener anak-anak main bola pancing magnet di pantai

Akbar yang paling menikmati permainan bola pancing ini,
 tuh lihat dia menunjukkan hasilnya

Aldy gak main bola pancing lagi, dia sekarang asyik bikin sumur di pantai


Namanya juga anak-anak ya...setelah puas mancing bola
mereka meninggalkan permainannya dan berlarian di pantai
Lihat tuh aksi mereka joget-joget kayaknya bahagia banget tuh...





Minggu, 20 Desember 2015

Meriahnya Lampion Merah


Bagi yang pernah berkunjung ke Malaysia tentunya sudah familiar dong dengan kawasan Bukit Bintang? Ya... Bukit Bintang adalah suatu tempat yang cukup populer bagi wisatawan. Kawasan ini merupakan pusat perniagaan yang terletak di Jalan Alor. 

Kebetulan pada akhir Februari 2015 yang lalu aku bersama teman-teman punya kesempatan jalan-jalan ke Malaysia. Tentu dong pastinya mampir pula di Bukit Bintang. Kami mencari hotel tempat menginap di Bukit Bintang. Setelah mendapatkan hotel dan nitip koper, kami segera kabur lagi. Maksudnya agar kami bisa memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Jadinya ya kayak gitu deh, begitu nyampe hotel, nitip koper lalu segera kabur menikmati jalan kaki di seputaran kawasan Jalan Alor. 

Saat kami tiba di hotel sudah beranjak malam. Ternyata di sepanjang Jalan Alor itu kalau petang menjelang malam ramai sekali. Banyak tenda makanan yang menjual berbagai kuliner. Yang paling banyak sih kelihatannya adalah kuliner seafood. Seorang teman yang saat itu  berada bersama kami merekomendasikan sebuah tempat yang menjual makanan halal.

     "Jangan pada ngiler dulu ya melihat tenda-tenda makanan itu. Tidak semua yang dijajakan mereka bisa kita makan lho... Kalo mau yang halal ada di sana tuh...," temanku itu menunjuk ke arah sebuah tenda. Letaknya tak jauh dari hotel tempat kami menginap.

     "Kalau sudah laper dan mau makan sebaiknya di tenda yang itu saja," sambungnya.

Karena semuanya pada asyik menikmati suasana di Jalan Alor kawasan Bukit Bintang, sudah tidak terasa lagi rasa lapar. Rasa lapar itu tergantikan dengan pesona kawasan Jalan Alor yang kami lewati. Maklumlah, ini adalah pengalaman pertama ke Malaysia. Jadinya setiap detik itu sangat berharga. Buat apa jauh-jauh dari Indonesia cuma mau nyari makan doang. Yang penting itu kan travelling-nya itu lho, hehe..

Saat kami ke Malaysia bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Nah, di sepanjang Jalan Alor itu meriah sekali lantaran di sana sini dipasang lampion cantik. Lampion-lampion itu bentuknya beraneka ragam terpasang berjejer menghiasi kawasan Jalan Alor. Tak mau ketinggalan setiap momen selama perjalanan, aku segera mengambil kamera. Jepret sana jepret sini. Dan lampion-lampion cantik itupun sudah kuabadikan dalam beberapa kali jepretan lensa.

Berbicara tentang lampion erat kaitannya dengan budaya Tionghoa. Budaya lampion erat kaitannya dengan perayaan Imlek atau tahun baru Cina. Kita akan temukan begitu banyak ragam lampion yang dipasang di sudut-sudut jalan, kelenteng bahkan di rumah-rumah penduduk etnis Tionghoa. Bagi masyarakat Tionghoa, memasang lampion tak hanya sekedar hiasan lho. Namun syarat makna dan secara filosofis ada artinya. Menurut ceritanya, budaya memasang lampion saat perayaan Imlek adalah sebagai lambang pengharapan untuk mendapatkan kebahagiaan. Cahaya yang berpendar dari lampion diyakini sebagai perlambang keberuntungan dan rejeki di tahun baru itu. Selain itu, menurut legenda masyarakat Tionghoa bahwa lampion itu juga sebagai perlambang untuk mengusir kekuatan jahat. Sehingga diharapkan pada tahun baru tersebut semua masyarakat mendapatkan peruntungan, kebahagiaan dan rejeki yang berlimpah.

Hmmm...pantas saja ya saat mengitari kawasan Jalan Alor kawasan Bukit Bintang suasananya meriah sekali. Banyak lampion bergelantungan, menambah eksotik suasana di sana ketika petang berganti malam. Pendar cahaya lampion merah semakin memberi kesan eksotis. Semakin membuatku takjub akan kemeriahan lampion merah di sana....


Lampion merah bergelantungan di sepanjang jalan


Meriahnya lampion merah di sepanjang Jalan Alor

Kami menginap di tempat ini, di depannya sudah berjejer meja-meja yang
disediakan oleh penjaja makanan di sepanjang Jalan Alor

Salah satu sudut di kawasan Jalan Alor, meriah dengan lampion yang
bergelantungan di sepanjang jalan

Satu lagi, sudut menarik kemeriahan lampion di Jalan Alor


Kamis, 17 Desember 2015

Sepatu Nyaman Untuk Liburan


"Libur telah tiba.. Libur telah tiba.. Hore..hore..hore..." Begitulah bunyi sebuah syair yang dinyanyikan oleh Tasya Kamila ketika bocah. Ya, sebentar lagi liburan tiba! Tentu masa liburan ini sudah dinantikan oleh banyak orang. Sepertinya berlibur bersama keluarga sudah menjadi gaya hidup masyarakat dewasa ini. Kalau kita lihat kalender, pada akhir Desember ini akan ada cuti bersama. Pemerintah telah menetapkan kebijakan mulai tanggal 24-26 adalah cuti bersama. Pastinya semua sudah punya agenda masing-masing kan mau liburan kemana saja?

Demikian juga dengan diriku, senang banget bakal ada cuti bersama. Bakal ada liburan dong...! Ya, itu berarti saatnya untuk rehat sejenak dari rutinitas. Hmm...pergi kemana ya liburan kali ini? Aku menimbang-nimbang dan berfikir kira-kira kemana nih tujuannya? Awalnya, aku pengen banget liburan ke Bangka. Kenapa? Yang pertama, pulau Bangka memiliki wisata pantai yang indah. Kedua, aku kangen pada dua orang keponakanku, Aldy dan Akbar. Tapi rencana liburan ke Bangka batal. Lantaran pada tanggal 27 Desember 2015 nanti uwaknya Aldy dan Akbar ada acara aqiqah di Palembang. Nantinya Aldy, Akbar dan mamanya yang akan pulang kampung ke Palembang. Hmm..kecewa juga sih batal ke Bangka.

Kekecewaanku terobati. Beberapa malam yang lalu, aku mendapat kabar dari suami. Dia cerita, ayah mertuaku mengajak pulang kampung. Kebetulan suamiku akan mengambil jatah cuti dari kantornya yang belum pernah diambil. Rencananya, suamiku cuti mulai tanggal 21-31 Desember. Nah, pas banget nih...bisa ikut mertua pulang kampung nih... Lumayanlah sebagai pengganti liburan ke Bangka. Liburan ke kampung halaman ayah mertuapun tidak masalah koq. Ayah mertuaku berasal dari desa Muaradua Kabupaten OKU Selatan. Kebetulan aku sudah lama tak pulang ke kampung suami setelah lima tahun yang lalu. Yang membuatku semangat ingin ikut karena selain pulang kampung juga nantinya akan ke Danau Ranau. Butuh waktu 1,5 jam bisa sampai di Danau Ranau. Sebuah danau yang cukup terkenal yang terletak di kawasan antara provinsi Sumsel dengan Lampung. Di sana ada cottage milik Pusri untuk tempat menginap. Di sana terdapat pula sumber mata air panas yang mengandung belerang. Biasanya pada musim liburan Danau Ranau banyak dikunjungi wisatawan lokal.

Hmm...berhubung waktunya sudah dekat, mulai dari sekarang sudah harus memikirkan barang apa saja yang akan dibawa. Biasanya selain pakaian, aku tuh paling sering memikirkan sepatu apa yang akan kupakai untuk jalan-jalan selama liburan. Aku tuh harus memakai sepatu yang bentuknya flat dan teksturnya lembut saat dipakai. Maklumlah, bentuk kakiku tidak prorsional dan memiliki tulang yang agak menonjol. Sehingga kalau memakai sepatu yang tertutup dan bentuknya runcing, maka tulang kakiku ikut terjepit. Terasa sangat tidak nyaman sepatu itu ketika dipakai jalan-jalan. Jadi solusinya nih aku mesti memakai sepatu flat.

Sepatu flat ini enak banget dipakai saat jalan-jalan. Bahannya lembut dan lentur.

Ini lho penampakan sepatu flat yang bakal menemamiku jalan-jalan ke Danau Ranau

Kebetulan aku sudah membeli sebuah sepatu flat yang berbahan lembut. Nyaman sekali dipakai ketika jalan-jalan. Kayaknya pas banget deh kalau aku pakai sepatu flat tersebut saat berlibur ke Danau Ranau kelak. Semoga liburan kali ini menjadi liburan yang menyenangkan untuk menutup tahun ini. 


Sabtu, 12 Desember 2015

TERKECOH


Aku teringat pengalaman lucu ketika bepergian bareng teman. Awal tahun 2015 yang lalu kami jalan-jalan ke Malaysia dan Singapura. Dari tanah air kami sudah membekali isi dompet dengan dolar Malaysia maupun Singapura. Kami berangkat dari Palembang menuju Malaysia. Dua hari di sana kami menyeberang via darat ke negara yang punya ciri khas landmark-nya patung singa.

Begitu tiba di Sinapura kami mencari hotel dan nitip koper. Setelah urusan hotel selesai kami langsung jalan-jalan lagi. Kami singgah di sebuah pusat perbelanjaan. Biasa nih, namanya juga cewek pasti tergoda dengan barang-barang yang dipajang. Pas lihat isi dompet dengan harga barang-barang yang kami minati koq gak sebanding ya. Mahalan harga sepatu daripada isi dompet kami, haha..

Timbul ide untuk menukarkan dolar Malaysia yang masih tersisa beberapa lembar. Lumayan deh buat dipakai belanja. Kalau dibawa pulang ke Indonesia kan gak bisa diapa-apakan dolar itu kecuali buat koleksi saja.

     "Mba, kita cari money changer aja yukk.. Kita tukerin aja dolar Malaysia ini buat belanja, hehe..," temanku Rika punya ide.

       "Hmm..ide yang bagus. Oke, kita cari yukk...hehe..,"sambutku senang.

Alhasil, setelah muter-muter di dalam pusat perbelanjaan itu, kami menemukan sebuah gerai. Di gerai itu banyak yang antre berderet-deret. 

       "Nah...kayaknya itu money changer-nya. Yukk Mba, kita ikutan antre di belakangnya," ajak Rika.
       
       "Yukkk....," aku menimpali.

Satu persatu orang-orang yang antre di depan kami dilayani oleh kasirnya. Entah apa yang mereka percakapkan kami tak begitu memonitor. Yang jelas setelah dilayani orang-orang itu keluar dari antrean.

Tibalah saatnya Rike yang berada di depanku dilayani oleh kasir itu. Dengan bahasa Inggeris seadanya terjadilah percakapan, yang kira-kira begini terjemahannya:

          "Apa yang bisa saya bantu, Bu?" taanya si kasir (dalam bahasa Inggeris tentunya, hehe)

       "Saya mau menukarkan dolar Malaysia dengan dolar Singapura. Berapa kurs dan biayanya," tanya Rika kepada si kasir.

       "Hmm... di sini bukan money changer, Bu! Di sini tempat beli kupon toto," si kasir menjelaskan sambil tersenyum.

        "Ohh...jadi ini bukan money changer ya? Maaf ya...," Rika tersipu sambil berlalu.

Akupun mengikutinya keluar dari antrean di depan kasir. Tawa kamipun pecah. 

        "Hahaha.... Terkecoh kita Mba, kiran money changer! Ternyata toto Singapura, haha....,"

*) Toto Singapura adalah sejenis permainan judi ala Singapura yang populer di negara tersebut. Sepertinya warga di sana suka membeli toto Singapura. Buktinya entah itu laki-laki atau perempuan, tua atau muda, mereka antre seperti ular di gerai yang menjual kupon toto Singapura.


Rabu, 09 Desember 2015

Pengen ke Brunei Darusalam


Gara-gara sering nonton acara teve Dangdut Academia Asia, aku punya fans baru nih. Siapa lagi kalau bukan para komentator maupun para peserta dari Brunei, Singapura maupun Malaysia. Nah, aku tuh ya paling suka sama George Maxson dan Fahrulrozi dari Brunei. Sebagai fans-nya tentu saja aku ikutan latah mem-follow akun instagram mereka. Kebetulan nih aku baru beli handphone, lagi senang-senangnya mengutak-atik handphone tersebut. Follow sana follow sini artis-artis yang lagi naik daun alias ngetop, hehe...

Mereka itu berasal dari Brunei Darusalam, sebuah negara kecil nan makmur di pulau Kalimantan. Sudah lama  sih aku penasaran dengan negeri ini, bahkan ingin sekali berkunjung ke sana. Tapi kapan ya? Mudah-mudahan suatu saat kelak aku bisa ke sana. Biasanya, apa yang aku inginkan insyaAllah terwujud. Karena aku meyakini keinginan yang kuat itu berarti niat. Dan niat yang sungguh-sungguh adalah doa. 

Nah, karena penasaran dengan negara Brunei Darusalam, aku mulai mencari tahu informasinya melalui Mbah Google. Mulai deh aku searching menjelajahi tempat-tempat wisata yang ada di Brunei Darusalam. Namun sayangnya tak banyak informasi tentang hal ini. Sedikit informasi yang kudapat itu kutuangkan dalam tulisan di bawah ini.

1. Masjid Sultan Omar Ali Saefuddien

Credit Title


Masjid ini merupakan masjid termegah yang berada di Bandar Seri Begawan yang merupakan landmark utama negara Brunei.

2. Istana Nurul Iman Brunei Darusalam


Luas istana ini sekitar 200.000m2 terdiri dari 1788 kamar, 5 kolam renang, 110 garasi mobil, 51.000 buah lampu. Istana ini merupakan salah satu ikon yang dibanggakan oleh warga Brunei.  

3. Masjid Hasanal Bolkiah

Masjid ini merupakan salah ssatu masjid yang menjadi kebanggaan warga Brunei.

4. Kampung Ayer

Di tempat ini kita akan melihat pemandangan yang mirip dengan tempat di Indonesia. Banyak deretan rumah-rumah bertiang didirikan di atas air. 

5. Taman Nasional Ulu Temburong

Taman ini memiliki areal seluas 50.000 hektar. Namun yang dijadikan untuk objek wisata bagi wisatawan hanya seluas 100 hektar. 

Seperti yang kuceritakan pada awal tulisan ini, bahwa masih sedikit informasi tentang objek wisata di Brunei Darusalam yang kudapat di Mbah Google. Kayaknya aku mesti merealisasikan mimpiku ke Brunei deh agar dapat kutuliskan di blog tentang pengalaman wisata di sana. Semoga deh...


Minggu, 06 Desember 2015

Menu Sederhana Untuk Santap Siang


      "Sayang... bikinin ikan goreng sepat ya.. Sama sambal terasi cungdiro dan lalapan. Kali aja nafsu makanku terbit. Pengen banget makan itu...." Tiba-tiba suamiku request menu untuk santap siang.

       "Hmm..mesti ke pasar nih nyari ikan sepat. Kalo di warung kayaknya gak ada. Soalnya agak susah dapetin ikan itu," aku menimpali. 

       Akhirnya, Sabtu pagi kemaren aku ke pasar Sekip Ujung. Kebetulan pasarnya bersebelahan dengan Puskesmas tempat suamiku kontrol. Sudah satu minggu ini suamiku kontrol ke Puskesmas lantaran terkena TB (tuberkulosis). Awalnya suamiku sempat shock lantaran mikirin penyakit itu kenapa sampai menimpanya. Padahal dia sendiri seumur-umur tidak merokok. Namanya juga penyakit ya, kalau mau datang tidak pandang usia dan siapa saja bisa diserangnya. Efeknya suamiku demam, suhu badan tinggi pada malam hari, merasa mual, kepala pusing, dada sakit dan hilang nafsu makan.

       Begitulah, sejak menjalani pengobatan suamiku kehilangan nafsu makan. Padahal dokter menyarankan untuk melawan rasa tidak nafsu makan.

        "Pada beberapa kasus, penderita TB memang kehilangan nafsu makan. Tetapi Pak Titus harus lawan rasa males makan ya! Pokoknya Bapak harus makan yang bergizi agar berat badannya kembali naik," terang sang dokter di Puskesmas itu. Memang berat badan suamiku menurun drastis sejak dua minggu terakhir.

       "Hmm...gimana ya dok, saya malah ogah makan. Gak nafsu! Perut terasa mual kalau diisi makanan. Bahkan lidah saya pun terasa pahit, dok!" suamiku berdalih.

       "Hilang nafsu makan memang salah satu dampak terkena TB. Bapak harus rutin minum obat jangan sampai terputus selama enam bulan ini. Apa yang Bapak rasakan itu akan berlangsung selama dua bulan. Makan saja apa selera makanan yang diinginkan. Kalau Bapak bisa mengatasi rasa males makan nantinya berat badan Bapak akan berangsur naik lho...! Coba minum susu khusus penambah berat badan yang mengandung protein tinggi," sang dokter kembali menjelaskan secara panjang lebar.

Begitulah, pesan dokter pada suamiku agar menjaga pola makannya. Menurut dokter, agar berat badan cepat naik harus banyak makan. Makanya, ketika dia minta dibikinan menu sederhana itu aku buru-buru menyanggupinya. 

       Setelah ngubek-ngubek pasar dan membelli pesanannya, saatnya mengolahnya di dapur. Ikan sepat digoreng garing dan krispi. Bikin sambel terasi cungdiro dan merebus buncis muda, labu putih dan buah pare sebagai lalapan. Dan hasilnya ..tarraaaa..... sudah tersaji di meja makan.

Goreng Ikan Sepat Krispi, Sambel Terasi Cungdiro, Lalapan

       Suamiku makan dengan lahap siang itu. Alhamdulillah nafsu makannya terbit setelah dibikinin makanan kesukaannya untuk santap siang pada hari itu. Ternyata menu sederhanapun mampu membangkitkan selera. Semoga cepat sembuh ya sayangku....