IKLAN

Rabu, 25 Oktober 2017

Memahami Remaja Melalui Film My Generation


Poster Film My Generation



       Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya berhasil dan sukses. Berhasil dalam bidang pendidikan dan sukses dengan karir serta pekerjaannya. Masalahnya, tak semua anak mau memahami keinginan orangtua dengan baik.

     "Ma, jangan paksa aku masuk kuliah di tempat itu. Aku gak minat bidang itu. Aku maunya sekolah dibidang desain saja, Ma!"

       Seorang teman curhat tentang anaknya yang bantahan ketika dirinya menginginkan si anak masuk sekolah berbasis pendidikan dinas seperti halnya dirinya (si Mama). Tentu saja teman saya itu kecewa lantaran harapannya terhadap si anak pupus.

       Konflik orangtua dan anak seperti itu tak hanya dialami oleh teman saya tadi. Ada banyak kejadian serupa yang juga dialami oleh orangtua-orangtua lainnya. Problematika atas konflik tersebut kerap muncul ketika antara keinginan sang ortu yang bentrok dengan keinginan sang anak.

       Pengalaman yang dialami orangtua jamannya dulu seringkali dikaitkan dengan si anak. Para orangtua kerap mencontohkan keberhasilan dirinya pada jamannya. Namun tak sepenuhnya hal itu bisa diterima si anak. Contohnya pada kasus teman saya tadi dimana teman saya itu ingin anaknya melanjutkan sekolah yang sama seperti halnya dirinya.

       "Kuliah jurusan seperti yang Mama ambil itu enak, Nak. Berbasis ikatan dinas. Setelah tamat tak perlu repot lagi mencari pekerjaan seperti halnya Mama!" teman saya tadi masih berusaha membujuk anaknya. Tetapi tetap mendapat penolakan dari anaknya.

     Istilahnya nih, anak jaman now mana mau manut saja disuruh masuk kesekolah tertentu. Remaja jaman now lebih suka meng-eksplore kemampuan diri sesuai dengan minatnya. Mereka lebih pandai mengekspresikan keinginannya. Kalau kita simak lebih jauh, ada nilai plusnya ya karena mereka ini kepercayaan dirinya sangat kuat. Mereka merasa yakin bahwa pilihannya dalam menentukan sekolah mana yang akan ditempuh itu sudah tepat. Yakni yang sesuai dengan minat mereka.
       Berbicara tentang kepercayaan diri, saya mendapat curhatan dari teman lainnya tentang pengalaman masa kecilnya. Bahwasannya ketika kanak-kanak teman saya itu cenderung pemalu sehingga tak punya banyak teman. Sifat pemalunya itu terbawa sampai dia menginjak remaja. Beruntung dia punya orangtua yang peka melihat tumbuh kembang gadis kecilnya yang tak selincah teman sepermainannya. 

       Orangtua teman saya itu menyadari sifat pemalu sang anak haruslah dibuang jauh-jauh. Pelan-pelan mengarahkan anaknya agar tumbuh menjadi gadis remaja yang percaya diri. Bagaimana caranya keluar dari zona tak nyaman seperti yang dialami sang anak? Ternyata orangtua teman saya itu menyuruh anaknya ikut kegiatan PRAMUKA di sekolah. Berkat ikut kegiatan PRAMUKA teman saya itu lambat laun sifat pemalunya hilang. Dia menjelma menjadi gadis remaja yang percaya diri. Kini teman saya itu telah berkarir di perusahaan swasta dan mendapat posisi yang cukup bagus.


Bagaimana peran orangtua dalam perkembangan remaja jaman now?


       Penting sekali membangun komunikasi dua arah dalam sebuah keluarga. Komunikasi yang terjalin dengan baik antara orangtua dengan anaknya akan menghasilkan suatu pemahaman akan kehendak. 

       Saling memahami dan saling menghargai akan suatu pendapat itu jauh lebih baik daripada saling ngotot. Remaja yang dalam fase tumbuh kembang dari fase anak-anak tentunya mengalami perubahan alam pemikiran. Mereka tak mau lagi didikte seperti halnya anak kecil lagi. Mereka ingin dihargai dan dipahami. 

       Kunci sukses hubungan antara orangtua dan anaknya adalah komunikasi yang baik, adanya keterbukaan dan saling memahami. Dengan demikian konflik-konflik yang sering kita dengar antara orangtua dan remajanya dapat diminimalisir.


Film My Generation dan gambaran remaja jaman now

       Berbicara masalah remaja dengan dunianya tak akan pernah habisnya. Kisah-kisah konflik dan pertentangan dalam keluarga antara orangtua dengan anaknya mengilhami sutradara film ini untuk diangkat kelayar lebar.

       Dialah Mba Upi, seorang sutradara kawakan yang sebelumnya sukses dengan film-filmnya di pasaran. Sebut saja film 30 Hari Mencari Cinta, Realita Cinta dan Rock n Roll, Radit dan Jani, mampu sukses dipasaran. Dia mengangkat tema ini remaja jaman now dan meracik ceritanya dengan apik. Adapun film ini mengisahkan tentang 4 (empat) orang remaja yaitu Zeke, Konji, Suky dan Orly dengan dunia SMA-nya. Konflik film ini muncul ketika mereka membuat video yang berisi protes terhadap aturan guru di sekolahnya. Hal ini menjadi viral dan tentu saja membuat pihak sekolah marah.

       Bagaimana kisah film ini selanjutnya? Kalau penasaran ada baiknya catat saja tanggal mainnya ya. Dijadwalkan tayang perdaya pada tanggal 9 November 2017 di bioskop kesayangan. 

       Mari kita ajak keluarga kita menonton film yang bergenre remaja ini. Agar kita sebagai orangtua bisa memahami bagaimana sih dunia remaja jaman now.

3 komentar:

  1. Jadi penasaran sama filmnya. Menarik juga untuk lihat perspektif dari anak jaman now. Apalagi jamannya kan udah beda banget ya. Semoga bisa lebih membuka mata jadi bisa buat referensi pas bimbing anak2. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonton aja filmnya biar gak penasaran lagi Mba.. 😊

      Hapus
  2. Film yang rame pro-kontra, ya :D
    Tapi tiap zaman, pasti ada sih masalah kayak gitu. Aku dulu sama ortu dan guru disuruh masuk Biologi, trus ke FK. Ehhh...malah ngotot masuk Sosial :D *anak jaman old mah kenalnya jurusan Fisika, Biologi,Sosial...

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya ya...