Selasa, 03 Maret 2015

Soulmate-ku Saat Travelling


Nah...ada GA lagi nih dari Mbak Myra Anastasia. Kali ini temanya tentang barang yang selalu dibawa saat travelling. Hmm...kudu ikutan nih GA ini karena akupun punya barang-barang yang selalu menemaniku saat travelling. Aku menyebutnya dengan soulmate. Tanpa soulmate ini terasa ada sesuatu yang kurang saat travelling.  Mau tahu barang apakah itu? Yuk...ikuti kisahnya di bawah ini ya...

Pastinya sahabat blogger lainnya penyuka travelling, pasti ada dong barang-barang tertentu yang hukumnya wajib dibawa.  Iya kan? Ayo ngaku.... Macamnya pasti beragam tergantung dari kebutuhan sahabat saat travelling. Nah...kalau aku sebelum berangkat travelling selalu mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:

1. Koper atau tas ransel.

Ketika aku travelling bersama suami biasanya aku menyiapkan tas ransel. Alasannya, lebih fleksibel saja dan lebih ringkas ketika dibawa. Alasan lainnya, kalau bawa ransel kan yang manggulnya cukup si suami saja, sedangkan diriku cukup bawa tas sandang. Biasanya nih, jauh-jauh hari aku sudah mengisi koper atau tas ransel dengan pakaian tertentu  yang harus kubawa. Hampir tiap hari aku cek ulang agar barang-barang atau pakaian yang aku butuhkan tak tertinggal.

2. Mukena dan Sajadah Kecil

Jelas dong kedua barang di atas wajib dibawa. Urusan travelling tentunya tak melupakan urusan ibadah iya kan?

3. Perlengkapan Mandi dan Obat-obatan

Untuk yang satu ini jelas dong harus dibawa., seperti pasta gigi, sabun, handbody, bedak, panty-liner, vitamin C, minyak angin, balsem, parasetamol, bahkan obat sakit gigi. Maklum, aku termasuk orang yang sering menderita sakit gigi. Nggak asyik dong acara travelling terganggu lantaran sakit gigi? 

4. Pernak-pernik Kecil

Barang yang dimaksud di atas seperti: peniti, gunting kuku, gunting kecil, isolasi, batere kamera, senter kecil. Dari dulu aku selalu membawa barang-barang itu saat travelling. Firasatku berkata pasti barang-barang tersebut aku butuhkan saat dalam perjalanan. Misal, batere kamera itu untuk antisipasi kalau pas sedang asyik foto-foto ternyata batere ngedrop. Lalu, gunting kuku pastinya digunakan untuk memotong kuku dong! Nggak lucu saja ketika travelling kuku panjang dan kotor. Hiii...jorok ya? Tapi aku pernah kapok bawa gunting kecil ketika bepergian menaiki pesawat. Pernah suatu hari alarm pendeteksi di bandara berbunyi kencang dan aku disuruh minggir. Lalu tubuhku diperiksa pakai detektor. Aku sempat panik. Koq kenapa ya aku diperiksa apa ada yang salah dengan barang bawaanku? Petugas di bandara langsung mneyebut, "Bawa gunting, Bu?" Oh...aku baru ngeh memang di saku celana aku ngantongin gunting kecil. Hehe...

Nah...dari sekian banyak barang-barang yang kubawa saat travelling, yang  menjadi soulmate-ku adalah:

1. Handuk; aku selalu ogah pakai handuk di hotel walaupun hotel itu menyediakan handuk yang bersih. Entahlah, koq aku merasa geli ya pakai handuk dari hotel? Nggak nyaman saja rasanya, hehe..

2. Kacamata Baca; jelas aku mesti bawa barang ini secara aku sudah berumur dan sangat membutuhkan untuk membaca. Maklum, sudah pakai kacamata plus nih, hehe..

3. Celana Jeans; lebih nyaman dipakai dan hemat barang bawaan terutama pakaian ganti. Tak perlu repot gonta-ganti salinan baju, cukup bawa celana jeans dua helai sudah bisa dipakai dalam beberapa hari. Alasan lainnya, celana jeans tak terlihat kotor dan lusuh saat dipakai walaupun sudah berkali-kali dikenakan, hehe...

4. Pashmina; selalu aku gunakan saat berada dalam pesawat atau mobil ber-AC. Tubuhku memang tak kuat dengan hawa ruangan yang ber-AC. Apalagi kalau AC-nya kenceng. Bisa menggigil tubuhku. Nah, selain untuk gaya dan style dalam berbusana, pashmina yang kubawa berfungsi melindungi tubuhku dari dinginnya AC. Kadang-kadang pashmina itu sampai kubawa  tidur dan kujadikan selimut, hehe...

5. Kacamata Cengdem alias Ngeceng Adem; aku yakin nih sahabat blogger yang hobi travelling pasti mati gaya bila lupa bawa barang yang satu ini. Gimana mau asyik travellingnya bila tak diabadikan dalam bentuk foto-foto? Nah.....sesi foto-foto inilah yang paling asyik, bisa gaya-gayaan bak model, hehe.. Selfi-selfian sampe norak, haha... Pokoknya mati gaya deh kalau lupa bawa kacamata cengdem ini. Mau lihat gayaku saat difoto pake kacamata cengdem? Yuk lihat penampakannya di bawah ini ya....

Di Masjid Terapung Jeddah Saudi Arabia

Di Patung Singa Singapura

Di Pusat Perbelanjaan "Nagoya" Batam

Di Bukit Fatin Bangka

Di Pasar Seni Tanah Lot Bali

Di Batu Caves Malaysia

Di Universal Studio Singapura

Nah...itulah cerita tentang soulmate yang selalu menemaniku saat travelling. Tanpa soulmate-ku itu acara travelling garing rasanya. Tapi soulmate-ku ini tak membuat suami cemburu lho....

Jumat, 27 Februari 2015

Menulis Artikel di Suara Pembaca Sumeks

Akhirnya....nongol juga tulisanku di media. Sebuah artikel mini yang berisi komentar atas berita utama pada koran terbitan Sumsel "Sumatera Ekspres". Syarat dan ketentuannya tak rumit. Cukup memberikan komentar atas berita utama pada edisi minggu. Walaupun panjang tulisan tak dibatasi namun jangan panjang-panjang amat, kan namanya juga komentar. Artikel tersebut dikirim melalui email ke redaksi. Tak perlu menunggu lama, bila beruntung minggu depan tulisan kita sudah dimuat. Hadiahnya? Dua lembar voucher ke Amanzi Water Park, sebuah wahana bermain di Citra Grand City Palembang. Lumayan buat ngajak ponakan berenang dan bermain air sepuasan. Selain itu artikel komentar yang kita tulis akan dimuat dalam web Sumeks online.

Bila sahabat tertarik ingin mencoba kirim artikel, bisa buka link di SINI

Berikut aku tulis ulang artikel komentarku di bawah ini. 

BATU AKIK SEBAGAI IKON WISATA SUMSEL

     Beberapa tahun terakhir tren batu akik semakin populer digemari masyarakat. Baik itu sebagai pelengkap aksesori, diburu untuk koleksi para kolektor maupun diyakini sebagai tuah untuk pengobatan. Semua tergantung motif dari si pemburu batu akik itu sendiri.
     Tak terkecuali di Sumatera Selatan, masyarakat seolah terhipnotis dengan daya tarik batu akik. Bahkan bagi maniak batu akik, rela menggelontorkan uang dalam jumlah besar demi membeli bongkahan batu akik. Keindahan batu akik seolah memberi magnet bagi pecintanya untuk diburu dan dikoleksi.
     Di Baturaja, Pagaralam bahkan terakhir ini di Musirawas, ditemukan daerah penghasil batu akik dengan kadar yang cukup baik. Masyarakatpun seolah ketiban rezeki dengan tren batu akik. Bahkan, ada yang rela beralih profesi dari petani dan peladang menjadi penambang tradisional batu akik. Lagi-lagi tak ada yang salah dengan alih profesi itu, semuanya demi batu akik.
     Menanggapi minat masyarakat yang cukup besar terhadap tren batu akik, saat ini sebaiknya ada campur tangan pemerintah melalui Dinas Pariwisata. Misal, selain   merelokasi pedagang batu akik di kawasan Cinde ke tempat yang lebih representatif, juga sebaiknya mempromosikan batu akik khas Sumsel dalam event pameran atau festival.
     Sebut saja, mengadakan festival batu akik khas Sumsel di mal atau hotel berbintang. Selain untuk menarik daya kunjungan wisata, juga akan memberikan nilai plus secara ekonomi. Artinya, ada penguatan ekonomi masyarakat melalui tren batu akik.
     Selain itu, dengan lebih dikenalnya batu akik khas Sumsel, bisa lebih mempopulerkan Sumsel untuk dijadikan tujuan wisata Nusantara. Istilahnya, melalui batu akik khas Sumsel, dapat menjadikan ikon wisata Sumsel pula. Semoga batu akik khas Sumsel bisa berjaya dan bersaing keindahannya dengan batu akik dari daerah lain.
     
Penampakan tulisanku di koran Sumeks

Penampakan tulisanku di Sumeks





Kamis, 12 Februari 2015

Mimpiku Menjadi Penulis TTS

Selamat sore, Rita

Terima kasih email Anda telah kami terima. Mohon maaf sampai saat ini Kompas belum bisa menerima kontributor TTS baru. Sehubungan Kompas sudah mempunyai enam Kontributor. 

Untuk itu kami mohon maaf sebesar-besarnya.

Wassalam,
Heras/Pengasuh TTS


Begitulah bunyi email yang kuterima dari mbak Heras, pengasuh rubrik TTS minggu di harian Kompas beberapa waktu yang lalu. Email yang sudah kutunggu-tunggu itu memberitakan kabar yang membuatku kecewa. Naskah TTS yang kukuirimkan itu gagal menembus harian Kompas. Selain kecewa akupun terkena sindrom penulis pemula. Langsung down begitu naskah ditolak media. Padahal aku sudah mengkhususkan diri menjadi penulis TTS dengan harapan bahwa sainganku sedikit. Ternyata pemikiranku salah. Media menerima naskah penulis bukan dari sedikit banyaknya jumlah penulis yang berkecimpung dalam satu genre. Media menilai kualitas dari naskah itu sendiri. Mungkin naskah TTS yang aku kirimkan materinya masih kalah kualitasnya dengan karya penulis senior. Setahuku memang penulis naskah TTS yang karyanya sering nongol di berbagai media nasional adalah penulis yang sudah senior. Mereka sudah malang melintang menembus media sejak lama. 

Lagi-lagi mimpiku menjadi penulis kandas. Ngirim naskah ke sebuah majalah wanita belum ada jawaban. Ngirim naskah ke majalah anak-anak dibalas dengan surat penolakan dan disertai pengembalian naskah. Waktu itu aku belum paham dengan internet sehingga naskah yang kukirimkan itu melalui pos. Ngirim opini ke sebuah koran lokal pun gak jelas beritanya. Memang ada beberapa tulisanku yang pernah nembus media, tapi jumlahnya tak sebanding dengan naskah yang ditolak. Lalu kalau kejadiannya sudah begini biasanya aku mogok nulis naskah untuk media. Beruntunglah aku mengenal yang namanya blog. Segala ide yang ingin kutulis kutuangkan kedalam blog pribadiku yang bertajuk "Blog Rita Asmara." Dengan adanya blog ini setidaknya bisa mengurangi rasa kecewaku ketika mengingat kegagalanku dalam dunia tulis-menulis.

Mungkin sahabat blogger ada yang bertanya, kenapa aku ngebet ingin menjadi penulis TTS? Selain saingannya tak banyak, menulis naskah TTS lebih menantang dan lebih sulit dibandingkan dengan menjawab soal-soal TTS. Lagi pula aku sudah sering menjadi pemenangnya. Tak ada gregetnya lagi bila hanya ngisi TTS lalu menghirimkan jawabannya dan menang. Aku mulai tertarik ingin menjadi penulis TTS lantaran mengenal pak Dwiweko. Beliau seorang penulis TTS yang terkenal. Berkat saran beliaulah yang menggugahku untuk menjadi penulis TTS seperti beliau. Hingga akhirnya aku mencoba membuat naskah TTS Kompas. Seperti yang kuceritakan diawal harapan tinggalah harapan. Nyatanya naskahku ditolak!

Seiring dengan berjalannya waktu, aku masih membuat naskah TTS untuk konsumsi pribadi. Hingga pada penghujung tahun 2012 penerbit buku Kompas kembali menggelar sayembara penulisan naskah TTS. Nantinya akan terpilih 30 naskah yang akan diterbitkan kedalam buku Kumpulan TTS Pilihan Kompas. Akupun kembali bergairah dengan mengirimkan naskah TTS yang dimaksud. Setelah menunggu beberapa bulan pengumuman yang ditunggu-tunggu itupun tiba. Hanya terpilih 5 naskah yang layak muat. Duh...kali ini aku kembali gagal  menembus harian  Kompas. Lagi-lagi aku kecewa.

Hingga akhirnya aku mendapat sms dari seseorang pada akhir Desember 2014. Isinya begini, "Bu Rita, Penerbit buku Kompas mau menerbitkan buku TTS Pilihan Kompas Jilid 8 pada awal tahun 2015. Saya memberi kesempatan Bu Rita membuat TTS cukup satu saja. Apakah bersedia? Dari Irwan, Penerbit Buku Kompas."

Wah....nggak salah nih sms ini? Aku mendapat tawaran menulis naskah TTS untuk diterbitkan dalam buku? Aha...mungkin inilah buah dari kesabaran yang kumiliki. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Segera aku membalas sms dari pak Irwan dan menyatakan kesediaanku. Target yang disyaratkan akhir Desember naskah harus sudah diterima aku penuhi. Tentu saja aku bisa mengirmkan naskah dengan cepat karena aku punya stok naskah yang cukup banyak. 

Dengan harap-harap cemas aku menantikan kabar selanjutnya dari pak Irwan. Selang satu bulan akhirnya aku mendapat sms lagi dari beliau, "Bu Rita, buku TTS Pilihan Kompas Jilid 8 sedang dicetak.Tolong sms-kan nomor KTP, NPWP dan nomor rekening untuk pengiriman honornya." Begitulah bunyi sms yang kuterima tadi siang. Alhamdulillah....aku mengucap syukur pada Allah. Akhirnya perjuanganku ingin menjadi penulis TTS perlahan mulai terbuka. Harapanku semoga kelak aku benar-benar bisa tampil sebagai penulis naskah TTS yang karyanya mengisi rubrik TTS  media negeri ini.

Impianku yang lain adalah aku ingin naskah-naskah yang sudah kubuat dan kukoleksi selama ini diterbitkan dalam sebuah buku layaknya buku TTS Pilihan Kompas. Ah....apa bisa ya? Semoga saja bisa ya. Doakan ya sahabat blogger agar impianku ini tercapai ya....






Jumat, 06 Februari 2015

Kisah Cinta Pertama Membawa Berkah


Wow...ada giveaway Cinta Pertama dari Mbak Prima Hapsari. Mesti ikutan nih karena sama seperti sahabat blogger yang lain, akupun menyimpan cerita tentang cinta pertamaku. Mau tahu kisahnya? Yuk simak kisahnya di sini ya...

Pada suatu siang di koridor depan kelasku.... Tak sengaja aku kembali bertatapan dengan si pemilik mata indah nan teduh itu. Duh...mau copot jantung ini rasanya. Denyutnya berdegup kencang tak karuan. Ihh, kenapa sih tiap berdekatan dengan cowok itu hatiku gugup dan salah tingkah?

Dia, si pemilik mata indah nan teduh itu pun nampaknya merasakan hal yang sama. Tiap kali kami bertatapan dia selalu melepas senyum manisnya. Setelah itu cepat-cepat dia palingkan matanya dariku. Entah apakah dia pun merasakan getaran aneh seperti yang aku rasakan? Kalau menurutku, pasti dia merasakan hal yang sama. Bukannya aku ge-er lho.....firasatku menyatakan hal itu, haha....

Apakah ini namanya jatuh cinta? Entahlah..... Dari cerita teman-teman yang pernah jatuh cinta, katanya sih jatuh cinta itu berjuta rasanya. Ada manis, asam, asin bahkan pedas. Nano-nano kali ya? Jatuh cinta itu membuat kita tak bisa tidur, uring-uringan, suka senyum-senyum sendiri bahkan suka melamun membayangkan wajahnya si dia. Haha....

Dia, si pemilik mata indah nan teduh itu selalu berdiri di koridor depan kelas saat jam istirahat tiba. Beberapa teman sekelas biasanya memanfaatkan jam istirahat di koridor itu untuk berbincang. Kadang-kadang memperbincangkan guru yang suka ngasih PR tiada hentinya. Kadang membahas soal ulangan yang sulit. Atau sekedar ngobrol ringan dan saling bercanda. Aku pun suka nimbrung juga di koridor depan kelas sekedar ikut memperbincangkan hal-hal kecil. Bisa juga ini modus untuk berdekatan dengan si pemilik mata indah nan teduh itu, haha... Karena sifat kami sama, sama-sama pendiam dan pemalu maka kami lebih sering menjadi pendengar setia Bila sedang berdekatan tak banyak yang kami lakukan, paling-paling hanya ngomong sepatah dua patah kata. Setelah itu kami lebih banyak tenggelam dengan perasaan masing-masing. Rasa yang telah membuat hatiku campur aduk antara senang dan berdebar-debar. Boleh dikata jam istirahat ini selalu kutunggu, haha...

Di dalam kelas tempat duduk kami pun tak berjauhan. Aku duduk di barisan tengah sementara dia duduk di pinggir barisan agak di belakang. Terkadang aku suka memergoki mata teduhnya sedang curi-curi pandang ke arahku. Melihat posisi duduknya yang ada di belakangku tentunya dia lebih leluasa memandangku dari kejauhan, haha... Lagi-lagi aku ge-er ya.... Bila kepergok sedang curi-curi pandang di kelas dia palingkan wajahnya ke guru, pura-pura menyimak apa yang sedang dikatakan sang guru di depan kelas. Ini juga modusnya dia kayaknya, haha...

Begitulah, hari-hariku selalu indah sejak mengenal dia si pemilik mata indah nan teduh. Karena kami sama-sama pendiam dan pemalu tak banyak progres terkait perasaan yang berkecamuk di hati kami. Aku pun tak banyak berharap darinya untuk menyampaikan kata-kata indah bahwa dia suka padaku. Karena aku tahu kayaknya dia tak punya keberanian untuk nembak diriku seperti yang dilakukan remaja zaman sekarang. Entah dari mana akhirnya sampai aku punya ide iseng itu.... Yang pada akhirnya membuat seisi kelas gempar, bahkan seisi sekolah pun gempar gara-gara puisi cinta yang kutulis dimuat di majalah sekolah.

Diam-diam aku mengirimkan sebuah puisi bertema cinta ke majalah sekolah. Puisi itu kutulis dan kutujukan untuk dia si pemilik mata indah nan teduh. Benar kata orang, ketika kita sedang jatuh cinta biasanya akan lahir sebuah karya tanpa terbendung. Kata-kata puitis penuh makna cinta yang kutujukan buat dia mengalir indah..... Hingga kurampungkan bait terakhirnya yang menyiratkan bahwa aku sedang jatuh cinta pada dia.... haha... Lagi-lagi ini modus terselubung diriku buat nembak dia.

Beberapa hari kemudian, seisi kelas gempar. Mereka saling tuding mencari pelaku siapakah gerangan yang telah menulis puisi cinta itu? Tentu saja seisi kelas gempar karena pada akhir puisi itu kutulis seperti ini: "Buat Someone di kelas I-6. Dari: Aku di kelas I-6."

Nah...terbayangkan bagaimana hebohnya seisi kelas mencari pelakunya, siapa gerangan si penulis puisi cinta? Di depan koridor kelas, sesosok tubuh atletis pemilik mata indah nan teduh tengah berdiri dengan majalah sekolah di genggamannya. Senyum manisnya tersungging dan tatapannya tertuju ke halaman yang memuat puisi cinta. Di kejauhan dari dalam kelas, seorang gadis tengah memperhatikan cowok itu. Sampai akhirnya pandangan mata cowok itu berpaling mencari diriku. Senyum manisnya pun kembali tersungging tatkala tatapan kami bertemu. Tampaknya dia mengetahui bahwa dirikulah si pelakunya, penulis puisi cinta.

Hingga tiba waktunya kami berpisah karena menamatkan SMA tak sepatah kata pun dia lontarkan kepada diriku bahwa dia menyukaiku. Namun itu tak masalah. Bagiku puisi cinta yang kutulis itu sudah mewakili hati dan perasaanku pada dia. Biarlah cinta itu hanya ada dalam hati kami. Dan biarlah menjadi kenangan manis yang menghiasi kisah hidup kami.

Kisah tentang cinta pertama itu memang dahsyat. Sampai akhirnya kisah unik ini menghiasi halaman cerita fiksi pada Majalah ANITA. Kisah tentang cinta memang bisa menjadi ide yang tak pernah habis untuk diceritakan. Ternyata kisah cinta pertamaku bisa menjadi berkah, ya....! Akupun mendapat honor atas dimuatnya kisah cinta itu, haha... Nah itulah kisah cinta pertamaku, bagaimana dengan kisah cinta pertama sahabat blogger lainnya?



http://www.stayofme.blogpost.com/2015/01/my-first-love-giveaway.html?m=1

Minggu, 01 Februari 2015

Maraknya Penipuan ala Sosmed

Assalamualaikum sahabat blogger, apa kabar semuanya? Tak terasa ya sudah memasuki bulan Februari 2015. Aduh...aku jadi malu sendiri ketika melongok blogku ini, sudah beberapa bulan tak diupdate sama si empunya blog. Hello Rita? Kemana saja sih kamu tega-teganya menelantarkan blog ini? Entah mau ngeles apa lagi nih, blog tak update lantaran sibuk, tak punya waktu, moodnya sedang tak bersahabat, capek, bla..bla..bla...alasan lainnya. Hohoho...alasan klasik keluar lagi. Duhh, maafkan diriku ya yang telah menelantarkan blog kesayanganku ini...

Well...sahabat, langsung saja ya, aku ingin berbagi pengalaman kepada kalian semua. Pengalamanku hampir tertipu lewat sosial media facebook. Akhir Januari 2015 yang lalu, ketika aku baru saja tiba di rumah pada suatu sore. Iseng-iseng aku buka FB. Ada pesan inbox masuk. Karena penasaran pesan dari siapakah gerangan akupun segera membuka inbox itu. Teryata dari temanku, sebut saja namanya Siti.

     "Assalamualaikum, Ta...", sapanya.
     "Waalaikumsalam Siti, apa kabar?" sahutku.
     "Alhamdulillah Ta, kabarku baik. Kabar kamu bagaimana?" dia balik bertanya.

Sampai disini, aku belum curiga kalau telah terjadi sesuatu. Percakapanpun berlanjut.

     "Ta, kamu sedang apa? Sibuk nggak?" dia memberondongku dengan pertanyaan lagi.
     "Ini aku baru nyampe rumah. Tadi kehujanan pas keluar dari kantor. Kira-kira ada apa Siti?" aku mulai punya perasaan aneh. Koq sopan bener nih si Siti basa-basi pake nanya-nanya kabar segala. Secara aku mengenali dirinya itu orangnya ceplas-ceplos dan tak suka basa-basi. Nah kali ini koq beda ya? Aku mulai merasa ada yang janggal.

     "Ta, maaf ya, aku minta waktumu sebentar ya, boleh Ta?"
     "Iya boleh...ada apa Siti?"
     "Ta, aku butuh bantuanmu, ini penting sekali." 
     "Iya, Siti. Apa yang harus kubantu?"
     "Boleh aku pinjam saldo ATM-mu? Sebentar saja ntar jam 9 malam aku kembalikan. Aku butuh uang segera, adikku sakit. Bisa bantu aku Ta?"

Wah....ujung-ujungnya koq Siti mau pinjam duit ya? Secara aku mengenali keluarganya dengan baik. Dua adiknya tergolong mampu dan mempunyai tingkat kehidupan yang baik. Yang satu bekerja di Dubai, satunya lagi pedagang yang sukses. Koq bisa-bisanya ya Siti minta bantuanku ngirim duit ke adiknya?

      "Nah Siti, maaf sekali ya, saldo di ATM-ku juga kosong. Maaf ya, aku tak bisa bantu." spontan aku menjawab inboxnya.
        "Gak apa-apa, Ta. Maaf ya sudah mengganggu waktumu."
        "Ya Siti, tak apa-apa, maaf aku belum bisa bantu ya..."
        "Ya Ta, makasih banyak ya..."
        Ok..Siti..."

Itulah percakan singkatku dengan temanku Siti melalui inbox di facebook. Ah Siti..., masa' sih dia sampe kayak orang kepepet gitu mau pinjam duitku untuk ngirimin adiknya yang katanya lagi sakit itu?

Ketika aku menutup percakapan itu dan membuka wall facebookku, ternyata seorang temanku update status. Sebut saja namanya Ayu. Begini bunyi statusnya:

       "Hati-hati ya bila mendapat pesan dari Siti Fatimah yang minta ditransfer sejumlah uang. Itu bukan Siti Fatimah yang melakukannya. Akun facebooknya telah diakses oleh hacker untuk mencari mangsa dengan modus penipuan. Barusan aku hampir terkena tipu daya orang yang mengaku Siti. Setelah aku telpon langsung ke Siti untuk konfirmasi kenapa dia mau minta transfer sejumlah uang, dia menjawab itu bukan dirinya. Dan dia menjelaskan bahwa akun facebooknya sudah tiga hari tak bisa diakses karena telah diakses oleh hacker."

      Begitu selesai membaca status temanku Ayu, langsung aku menelpon Siti mengabarkan padanya bahwa diriku pun menjadi target hacker untuk diperdaya. Beruntung aku tersadar oleh perilaku orang yang mengaku Siti yang menurutku tak lazim. Lha, selama ini Siti yang kukenal sosoknya tak suka basa-basi..., hehe...sorry ya Siti, hehe... Untung aku mengenali pribadimu, coba kalau tidak, aku bisa diperdaya oleh hacker jahat itu. Menurut Siti, pada hari itu entah sudah berapa puluh orang menelponnya untuk konfirmasi kenapa dirinya minta transfer uang ke orang-orang yang dihubungi si hacker.

     Nah sahabat blogger, itulah kisahku pada awal tahun 2015 ini. Bagaimana dengan kisahmu? Adakah sahabat yang mendapat pesan serupa? Atau malah telah terperdaya oleh si hacker? Sosial media memang ampuh untuk menjalin silaturahmi. Namun keberadaaannya pun seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. So, mulai dari diri sendiri saja untuk menyikapi hal serupa ini agar lebih berhati-hati dan tak menjadi korban penipuan melalui jejaring facebook.  

        









Jumat, 19 Desember 2014

Untaian Kata dari Hati


       Tak terasa saat ini kita tengah berada di penghujung tahun 2014. Begitu banyak kejadian dalam hidup yang terekam dan menjadi kenangan selama setahun ini. Baik itu kenangan manis maupun kenangan pahit tentunya telah menorehkan begitu banyak cerita. Beberapa rekam jejak kenangan hidupku tertuang dalam bentuk tulisan di blog pribadiku. 

       Kebetulan nih....om NhHer mengadakan lomba GA bertajuk "A Self Reflection: Lomba Tengok-tengok Blog Sendiri Berhadiah."  Saatnya nih menoleh ke belakang.  Aku yang tadinya sedang males mengelola blog ini merasa dijewer dengan adanya GA "A Self Reflection" ini. Mulanya aku tak mengerti maksud diadakannya GA ini. Lalu aku membaca postingan om NhHer. Ooh ternyata beliau mengajak kita-kita para blogger memilih postingan favorit yang pernah ditulis. Tentunya postingan itu memberikan kesan mendalam dan bernilai plus sehingga menjadi bahan refleksi diri dalam menekuni profesi sebagai blogger.

     Setelah aku membolak-balik beberapa tulisan sepanjang tahun 2014, ketemulah sebuah tulisan yang menurutku lahir dari lubuk hati paling dalam. Kenapa aku bilang seperti itu? Karena saat jemariku menyentuh keyboard pada laptopku ini ternyata kata demi kata mengalir dengan lancarnya. Terciptalah sebuah puisi yang kudedikasikan pada almarhum adikku "Ferry Ardiansyah". Beliau tak lagi bersama kami untuk selamanya. Almarhum meninggal karena sakit kanker nasofaring yang diidapnya selama hampir tiga tahun.

       Tulisanku itu bertajuk "Yang Pergi dan Tak Akan Pernah Kembali." Sumpah, seumur-umur aku paling tak bisa membuat puisi. Aku lebih suka menulis artikel, opini atau cerpen. Begitu duduk di depan laptop dan jemari menyentuh keyboard biasanya akan tercipta sebuah tulisan dengan cepat. Beda ketika aku mencoba menulis puisi. Berjam-jam duduk di depan laptop mungkin tak mampu aku menciptakan sebuah puisi. Kalaupun aku mampu menuliskan puisi menurutku hasilnya garing!

       Nah... kembali lagi pada tulisanku yang bertajuk "Yang Pergi dan Tak Akan Pernah Kembali."   Saat aku menuliskan puisi itu dalam kondisi sedang berduka dan dirundung kesedihan. Bukan hanya sedih ditinggal sang adik selamanya, tetapi karena teringat almarhum meninggalkan dua orang putra yang masih kecil-kecil, Aldy dan Akbar. Selama menekuni dunia tulis menulis baru kali inilah aku menelurkan tulisan yang betul-betul lahir dari lubuk hati paling dalam. Disamping itu, aku berhasil memotret momen yang sangat menyentuh hatiku, ketika keponakanku Aldy bersama mamanya menabur bunga di makam papanya. Kalau melihat foto itu dan membaca ulang tulisan itu tak terasa air mataku selalu mengalir.



       Tulisan tersebut aku buat bertepatan momennya ketika om NhHer mengadakan Lomba Blog "Cinta Monumental". Awalnya aku merasa yakin tulisan ini akan mendapat tempat di hati juri. Namun aku gagal meraih salah satu hadiahnya lantaran aku tak mematuhi persyaratannya. Salah satu syaratnya adalah harus menampilkan banner lomba tersebut pada sisi kanan sidebar blog kita. Nah...aku yang gaptek ini tidak bisa memasang banner pada sidebar blogku walaupun sudah kuutak-atik sedemikian rupa. Akhir dari lomba tersebut aku harus menelan kekecewaan karena tulisan yang kuharapkan mampu bersaing dengan kontestan lain ternyata gagal karena urusan teknis. Ini menjadi pembelajaran bagiku, kalau ingin menjadi salah satu pemenang lomba blog harus mematuhi syarat dan ketentuan lomba.

        Bagi sahabat blogger yang penasaran dan ingin membaca tulisan dimaksud bisa meng-klik link-nya di SINI.


Selasa, 02 Desember 2014

Kenangan Indah Bersama Mama



Aku menutup kitab Yassin yang baru saja kubaca usai shalat magrib tadi. Sudah hampir empat tahun terakhir aku selalu menyempatkan untuk mengirim fatihah dan membaca surat Yassin untuk mendiang mama. Itulah bentuk kecintaanku pada mendiang mama. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat hingga tak kusadari mama tercinta telah meninggalkan kami hampir empat tahun lamanya. Rasanya belum sempat aku berbakti pada beliau untuk menunjukkan rasa sayang atas segala perhatiannya selama ini. Aku belum mampu memberikan yang terbaik pada mamaku hingga akhir hayat menjemputnya. Padahal.....sebetulnya aku bisa saja memberikan perhatian lebih sebagai baktiku padanya. Toh semua orangtua tak mengharapkan materi dari anaknya. Orangtua hanya menginginkan agar anak-anaknya kelak menjadi berguna bagi orang banyak dan membanggakan keluarga. Ahh...kenapa aku salah kaprah atas bentuk baktiku pada mama? Kenapa aku selalu mengukurnya dalam bentuk materi? Padahal mama tak pernah menuntut hal semacam itu atas kasih sayang dan limpahan kebahagiaan darinya untuk anak-anaknya. Sebuah penyesalan mendalam kurasakan...

Aku terlahir sebagai anak pertama dari lima bersaudara. Aku punya dua adik perempuan dan dua adik laki-laki. Papaku seorang guru pada sebuah SMA swasta di kotaku. Sedangkan mama hanyalah seorang ibu rumahtangga biasa. Kami hidup dalam balutan keluarga sederhana namun kami sangat bahagia. Aku dan adik-adik dapat benar-benar merasakan betapa papa dan mama begitu mencintai anak-anaknya. Sebagai contoh, papa mengajar dari pagi hingga sore hari. Terkadang waktu magrib menjelang papa baru tiba di rumah. Ya, papa mengajar di dua tempat, sekolah pagi dan sekolah sore pada sebuah SMA. Semua itu dilakukannya demi menghidupi keluarga.

Tugas ibuku lebih berat lagi, selain mengurus lima anaknya, beliau juga harus pandai-pandai mengatur urusan ekonomi keluarga. Sebagai tulang punggung keluarga papaku telah berbuat maksimal. Mencari rejeki dengan mengajar di dua tempat. Hanya pada jam istirahat siang beliau pulang sebentar ke rumah guna shalat dzuhur dan makan siang. Setelah itu papa berangkat lagi untuk mengajar pada sekolah sore. Ternyata mamaku adalah wanita yang hebat. Dengan gaji guru yang tak seberapa beliau bisa mengatur pundi-pundi sedemikian rupa agar kebutuhan keluarga tercukupi. Ya, pada jamannya dulu memang belum banyak wanita yang berkarir di luar rumah. Hanya beberapa gelintir wanita yang bekerja di luar rumah guna menunjang penghasilan suami memenuhi kebutuhan keluarga. Ah...rasanya mamaku tak kalah hebat koq! Dengan intuisinya dia bisa membuat kami hidup bahagia walaupun dengan cara sederhana.....

Aku masih ingat, bagaimana mama mengelola pekarangan rumah kami yang cukup luas. Mamaku cukup cerdik memanfaatkan pekarangan rumah guna ditanami sayuran dan buah-buahan. Ya....secara mewarisi darah petani dari kakek dan nenek, mamaku cukup akrab dengan urusan bercocok-tanam. Tetapi bercocok tanam skala kecil lho, di pekarangan rumah. Papaku tak kalah cerdiknya, beliau memelihara ayam, bebek juga memehara ikan di kolam belakang rumah. Klop sudah pasangan orangtuaku ini, mama suka berkebun sedangkan papaku memelihara unggas dan ikan. Kebun mini di halaman rumah kami ditanami sayuran seperti daun singkong, daun katuk, tomat, cabai, buah pare, timun, labu kuning. Pokoknya banyak deh jenis sayurannya. Ada juga tanaman pepaya, pisang, belimbing bahkan petai cina. Yang paling aku suka adalah saat aku membantu mama memanen hasil kebunnya. Aku paling suka memetik tomat karena buahnya bisa langsung kumakan. Kadang-kadang aku suka dimarahi mama lantaran merusak tanaman di kebunnya. Kenapa? Karena aku sering mencongkel tanah tempat ditanamnya ubi rambat. Ya, aku memang penasaran kala itu pengen tahu saja, apa sudah ada akarnya yang  sudah berubah menjadi umbi atau tidak? Haha...

Masih kuingat pula, bagaimana mama menjahitkan kimono sederhana untukku beserta adik-adikku. Hebatnya lagi, beliau membuat kimono sederhana dari bahan baju mama yang sudah tak lagi dipakainya. Dengan sigap mama membongkar baju usangnya, menggunting dan menjahitnya kembali menjadi kimono-kimono lucu bagi putri-putri kecilnya. Ah mama....selalu saja ada yang bisa diperbuatnya bagi kami anak-anaknya. Dengan modal mesin jahit pemberian papa, mama juga terampil sekali membuat baju seragam sekolah kami. Dulu itu kan jarang ada toko konveksi, kalaupun ada tentu harga baju seragam sekolah lumayan mahal. Demi mengirit anggaran, mama rela mencari bahannya di pasar dan menjahit baju seragam sekolah dengan mesin jahit kesayangannya. 

Sejak kami masih kecil-kecil, mama sudah menanamkan bagaimana caranya hidup hemat. Setiap anak dibelikan celengan tanah liat berbentuk ayam. Setiap awal bulan ketika papaku gajian, mama menyisihkan beberapa perak untuk dibagikan kepada anak-anaknya. Dan uang pemberian mama itu pun meluncur ke dalam celengan ayam milik kami masing-masing. Pada setiap akhir tahun ajaran sekolah, kami anak-anaknya berbarengan memecahkan celengan masing-masing. Tawa canda riang khas bocah mengiringi kami menghitung rupiah demi rupiah hasil menabung setahun dalam celengan ayam. Aha, dengan cara seperti itu mama tak perlu pusing lagi memikirkan keperluan sekolah pada tahun ajaran baru. Berbekal modal membuka celengan kami sudah bisa membeli sepatu dan tas sekolah. Ah....kala itu bahagia sekali rasanya bisa membeli keperluan sekolah dari hasil menabung.

Hari demi hari berlalu hingga tak terasa aku pun menamatkan SMA dan memasuki perguruan tinggi. Karena orangtuaku tak cukup kuat menyekolahkan ke universitas, akhirnya aku didaftarkan pada sebuah akademi berbasis ikatan dinas. Karena judulnya 'ikatan dinas' maka selama sekolah tiga tahun pada akademi itu kuliahku dibiayai atas biaya pemerintah. Menurut papa, kalau aku selesai kuliah di akademi itu aku bisa langsung bekerja dan menjadi pegawai negeri. Ya, aku kuliah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri. Kalau sekarang masyarakat lebih mengenalnya dengan STPDN atau IPDN. Sebagaimana halnya sekolah ikatan dinas, peraturan disiplin yang harus diikuti sangat ketat. Misalnya, saat masa ospek, pagi-pagi setelah subuh kami sudah harus kumpul di lapangan guna menerima pembekalan. Dimulai dengan senam pagi, peraturan baris-berbaris, mendengarkan ceramah, hingga diplonco senior. Tapi diplonco masih dalam hal yang wajar guna menanamkan sikap disiplin lho!

Masih kuingat saat aku mengikuti ospek, pagi-pagi mama sudah lebih dulu bangun tidur. Beliau menyiapkan segelas susu hangat dan telur rebus setengah matang. Belum cukup hanya itu, mama menambahkan sesendok madu yang harus aku minum. Kata mama agar bisa menambah energi selama mengikuti ospek. Begitulah yang terjadi selama ospek itu, mama selalu menyiapkan sarapanku dan menghantarkanku di depan pintu kala aku berpamitan. Kucium tangannya dan mamapun membelai kepalaku. Saat itu, aku tak menyadari bahwa itulah salah satu bentuk kasih sayang dan cinta seorang ibu kepada anaknya. Dalam belalainnya, pastilah mamaku berdoa agar aku kelak menjadi orang berguna dan dapat membahagiakan serta membanggakan keluarga.

Doa mama terkabul.... Sejak menamatkan kuliah pada akademi tersebut  aku langsung diterima sebagai pegawai negeri. Sebuah profesi yang saat ini menjadi rebutan banyak orang. Alhamdulillah juga, karena aku tamatan sekolah APDN aku mendapat amanah menduduki jabatan sekelas Lurah. Sebuah jabatan yang tak semua orang bisa merasakannya. Disamping mengabdi pada negara juga aku bisa berbagi kepada orang banyak dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat.

Brakkk...!!! Kitab Yassin yang berada dalam genggamanku terjatuh. Aku tersadar dari lamunan. Ternyata aku melamun cukup lama hingga aku bisa mengenang begitu banyak kasih dan cinta mendiang mamaku. Seketika aku merasakan kunang-kunang menari-nari pada pelupuk mata. Aku menangis. Foto mama yang tercetak dalam kitab Yassin itu mengingatkanku akan kenangan indah bersamanya. Maafkan aku mama yang tak mampu membalas begitu banyak jasamu. Padahal doamu telah menghantarkanku kini berada dalam jajaran pemerintahan negeri ini... Dulu kupikir, membahagiakan mama adalah dengan cara memanjakannya dengan begitu banyak materi. Ternyata cara pikirku itu keliru. Belum sempat aku memanjakan mama dengan caraku itu mama telah dipanggil Yang Kuasa dalam usia enampuluh tahun. Sakit jantung telah merenggutnya begitu cepat dari kami. Kini, untuk menutupi rasa bersalahku pada mama adalah bagaimana aku bisa mewujudkan keinginannya...agar aku bisa menjadi berguna bagi orang banyak. Ya....mungkin sebagai abdi negara aku harus lebih banyak melayani masyarakat dalam arti sesungguhnya. InsyaAllah Mama...apa yang kau harapkan padaku untuk menjadi abdi negara yang baik akan aku laksanakan, aku berjanji untukmu mama...


Tulisan ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan "Hati Ibu Seluas Samudera"