Senin, 08 Februari 2016

Filosofi Imlek


       Sebelumnya aku mau mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek bagi masyarakat keturunan Tionghoa yang merayakannya. Gong Xi Fat Cai, Wang Se Ru Yi, Sen Thi Cien Khang. Yang berarti: Semoga senantiasa diberi keseharan, damai sejahtera dalam rumah tangga dan kesuksesan. Makna ucapan tersebut mendalam sekali ya artinya....

       Saat ini perayaan Imlek semakin meriah. Ini bisa dilihat dekorasi di mall-mall yang berhiaskan aneka dekorasi dan ornamen khas Imlek. Bahkan ada pertunjukan barongsai segala. Dulu ketika aku masih kecil, tidak pernah melihat perayaan Imlek semeriah seperti sekarang ini. Era saat ini lebih terbuka ya sehingga budaya dari etnis Tionghoa dapat berkembang dan melebur. 

       Dulu ketika aku SMP dan SMA banyak punya teman etnis Tionghoa yang merayakan Imlek. Sering juga sih diajak ke rumah mereka. Banyak hidangan khas Imlek tersedia seperti dodol, permen, jeruk. Lalu rumah mereka pun meriah dihiasi aneka perlengkapan Imlek seperti lampion merah dan pohon bunga meihua.  Lalu ada juga tradisi memberi angpao kepada yang belum menikah. Tiap-tiap rumah memasang dekorasi pohon bunga meihua yang dihiasi angpao pada dahannya. Walaupun pohon bunga ini tidak asli alias bunga artifisial namun tidak mengurangi makna perayaan Imlek.

       Sebetulnya pas libur Imlek hari ini aku dan suami mau mengunjungi rumah teman yang merayakan Imlek. Tapi apa daya cuaca tak mendukung untuk jalan-jalan keluar rumah. Dari pagi hingga sore ini hujan turun tidak berhenti. Konon ini pertanda baik. Masyarakat Tionghoa meyakini hal ini sebagai perlambang kesuburan dan kesuksesan dalam hidup yang akan dijalani. Akhirnya kami hanya berkirim SMS dan say hello melalui hape untuk mengucapkan Gong Xie Fat Chai kepada teman-teman kami yang merayakannya.

       Berhubung tahun ini cuma di rumah saja seharian, aku agak bete gagal Imlek-an ke rumah teman. Tahun kemaren pas libur Imlek kebetulan aku jalan-jalan bareng teman-teman ke negara tetangga. Aku banyak mendapatkan momen meriahnya perayaan Imlek di negara tetangga melalui jepretan foto-foto dari kamera. Beberapa diantara foto-foto tersebut dapat dilihat di bawah ini.. Lumayan deh bisa mengobati bete gagal Imlek-an ke rumah teman, haha...


Meriahnya lampion dan pohon bunga meihua di terminal kedatangan KLIA



Ornamen pohon bunga meihua ada di mana-mana menghiasi KLIA



Lampion merah pun banyak bertebaran pula di taman bunga anggrek 
yang ada di Putrajaya Floria Garden Malaysia



Di depan sebuah kelentang di Kuala Lumpur pas Imlek





Bareng seorang teman selfie di depan sebuah kelenteng di Kuala Lumpur




Kemeriahan lampion yang ada di sekitar pertokoan di Bukit Bintang Malaysia



Suasana meriahnya lampion gantung di sekitar pertokoan Bukit Bintang Malaysia



Pernak-pernik khas Imlek pun ramai menjadi dekorasi 
di pelataran Universal Studio Singapura



Anak-anak kecil mahir memainkan Barongsai 
di seputaran Bukit Bintang Malaysia

       

Minggu, 07 Februari 2016

Kulineran di Pindang Kupek Randik Sekayu


       Dari kota Lubuk Linggau menuju kota Palembang butuh waktu tempuh sekitar enam jam. Waktu tersebut bisa tembus asal tidak mampir-mampir alias singgah di suatu tempat. Tapi rasanya gak mungkin deh, mesti ngisi perut dulu dong! Secara dari Lubuk Linggau kami tidak bawa bekal makanan lagi. Memang niat dari awal ntar makan malamnya di kota Sekayu saja. Kebetulan pas masuk kota Sekayu kan sudah magrib. Kudu nyari masjid untuk shalat magrib dan selanjutnya mencari tempat makan yang enak. Pengen makan pindang nih....!

       Alhasil, kami menemukan masjid untuk shalat magrib. Ketika turun dari mobil, aku sempat mengabadikan senja yang mulai temaram. Panoramanya keren banget, ada panorama senja persis di belakang masjid. Keren deh hasil fotonya.


Masjid An-Nur di kota Sekayu kabupaten Musi Banyuasin

       Usai melaksanakan shalat magrib, saatnya nih mencari restoran. Perut kami sudah nagih, laper banget. Rupanya selera kami sama, pengen makan yang berkuah. Pengen makan nasi pindang. Maklumlah, namanya juga orang Palembang. Kalau sudah beberapa hari tidak makan pindang rasanya ada yang lain deh. Empat hari touring lidah kami terasa gak enak kalau belum mencecap nikmatnya gulai pindang, hehe...

       Akhirnya pilihan jatuh ke restoran "Pindang Kupik Randik". Di restoran ini menjual aneka kulineran khas Sumsel. Ada berbagai jenis gulai pindang ikan, pindang ikan salai, pindang tulang dan pindang udang. Menu nasi pindang ini biasanya lengkap dengan pengiringnya yaitu saambal dan lalapan. Pas banget deh. Ada juga ikan seluang goreng, brengkes ikan tempoyak dan ikan bakar. Memang sih kulineran khas Sumsel banyak didominasi dengan ikan-ikanan. Kan di Sumsel banyak sungai yang mengalirinya. Mungkin itu ya penyebabnya kenapa orang Sumsel doyan makan ikan dengan olahannya.


Mampir di restoran Pindang Kupik Randik di Sekayu


       Kami menempati pondokan yang mana ada tempat lesehannya. Enak kan makan sambil lesehan, bisa selonjoran kaki. Sudah berapa jam nih kaki kami menggantung selama di mobil ya? Pantesan penat banget, baru terasa kalo capek banget, hehe...


Suasana pondokan lesehan di restoran Kupik Randik Sekayu

       Setelah menunggu beberapa saat, pesanan makanan pun tiba di meja. Masing-masing sudah tidak sabar lagi untuk segera mengisi perut. Sesaat setelah pesanan makanan dan peralatan makan dihidangkan oleh pramusaji, kami sudah tak sabar lagi meraih piring. Lalu mengisinya dengan nasi serta aneka lauk yang dipilih. Dua meja lesehan yang bertabur aneka makanan untuk santap malam pada saat itu ludes tak bersisa, haha.. Ternyata baik anak-anak maupun para orangtua pada kelaparan semua, haha...


Wajah-wajah sayu menantikan datangnya pesanan makanan


Sebelum bersantap selfie dulu dong..., haha...


Bapak-bapaknya nih gak noleh lagi pas difoto, 
kayaknya nih sangat menikmati santapannya ya...

       Alhamdulillah banget, usai santap malam energi yang tadinya terkuras seolah kembali lagi memberi energi baru. Saatnya untuk segera berkemas-kemas melanjutkan perjalanan pulang ke Palembang. Terbayang deh rumahku dengan tempat tidur dan bantal empuknya. Well, butuh waktu sekitar tiga jam lagi nih nyampe Palembang. Sabar ya..., haha...

       Alhasil, setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, rombongan kami sampai juga di kota Palembang tercinta. Sekitar jam sebelas malam aku dan suami tiba di rumah. Buru-buru deh masuk rumah membawa ransel pakaian dan sedikit oleh-oleh untuk kerabat yang ditinggalkan. Besok aja ah bongkar-bongkarnya, kudu bersih-bersih badan, shalat Isya' dan....tidurrrr.....!!! Alhamdulillah....  

See you next on another travel story
"Touring Menjelajahi 3 Negara"

T A M A T




Sabtu, 06 Februari 2016

Touring Menjelajahi 3 Provinsi


       Alhasil, waktu terus beranjak dan menunjukkan hampir pukul setengah tiga sore. Wah, dah kesorean nih berada di tempat wisata alam Air Terjun Temam di Lubuk Linggau. Rombongan kami segera berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Palembang. Sontak alam pikiranku membayangkan rumah dan tempat tidur yang nyaman. Pengen segera meluruskan pinggang dan beristirahat. Rebahan dan tidur pulas sambil meluk bantal saking capeknya, haha...


Cerita sebelumnya dapat dibaca di SINI

Gambar dipinjam dari SINI


Gambar dipinjam dari SINI


Gambar dipinjam dari SINI


Gambar dipinjam dari SINI


       Wajar kan membayangkan rumah, tempat tidur dan bantalku yang empuk? Soalnya selama empat hari dalam perjalanan aku tidak merasakan tidur yang cukup. Ntar kalau sudah tiba di rumah mau balas dendam dengan tidur yang pulas, haha.. Eitss, sudah ngomongin pengen tidur pulas di rumah, padahal ini masih jauh lho nyampe. Butuh waktu sekitar enam jam dari Lubuk Linggau menuju Palembang. Itupun kalau kita jalannya tidak mampir-mampir alias luncur terus hingga di tempat tujuan.

       Coba lihat deh peta yang aku tampilkan di atas (pinjam dari Google). Terbayangkan rute terakhir perjalanan touring daku bersama keluargaku?  Lumayan jauh kan? Itu ditempuh selama empat hari lho... Berikut ini aku tampilkan daftar itinerary-nya:

1. Hari pertama: Kamis, 24 Desember 2015.

Rombongan berangkat dari Palembang menuju Muaradua (ibukota kabupaten OKU Selatan di provinsi Sumatera Selatan). Rombongan pertama terdiri dari 2 mobil yang berangkat pagi. Rombongan kedua berangkat jam 1 siang menggunakan satu mobil. Nah, aku ikut yang rombongan siang, soalnya kalau pagi mesti ngantor dulu.

Di Muaradua menginap semalam di rumah adik iparku. Lalu pagi-pagi selesai sarapan rombongan berangkat ke tempat wisata Danau Ranau. Sorenya melanjutkan perjalanan ke Krui (ibukota kabupaten Lampung Barat di provinsi Lampung). Di Krui rombongan menginap di rumah seorang keponakan dari kakak iparku.


2.  Hari kedua:  Jumat, 25 Desember 2015

Setelah malamnya menginap di rumah seorang keponakan dari kakak iparku, kami melanjutkan perjalanan lagi. Kami meluangkan waktu untuk jalan-jalan di pantai yang ada di pesisir kota Krui. Lalu perjalanan dilanjutkan merayap hingga di Pantai Tembakak di pesisir kabupaten Pesisir Barat lampung. Di seberang pantai ini ada sebuah pulau bernama Pulau Pisang. Sayangnya kami tidak menyeberang ke pulau tersebut. Pertimbangannya, pertama: waktu yang kami miliki sangat sempit. Kedua:  ombak saat itu cukup besar. Gelombangnya bergulung-gulung tinggi hingga mencapai pantai. Kami tidak berani mengambil resiko.

Perjalanan berlanjut hingga kami tiba di kota Manna (ibukota kabupaten Bengkulu Selatan di provinsi Bengkulu). Di kota Manna rombongan kami menginap di rumah salah sorang kerabat yang bermukim di sana. 


3. Hari ketiga, Sabtu, 26 Desember 2015

Setelah menginap di rumah seorang kerabat di Manna, perjalanan berlanjut menuju kota Bengkulu (ibukota provinsi Bengkulu). Di kota Bengkulu kami tidak menginap namun waktu yang ada diluangkan untuk wisata ke Pantai Panjang, Benteng Marlborough dan Rumah Pengasingan Bung Karno.

Puas berwisata di dalam kota Bengkulu lalu perjalanan dilanjutkan ke kota Lubuk Linggau (salah satu kota administratif di provinsi Sumatera Selatan). Tiba di kota LubukLinggau sudah malam dan kamipun menginap di rumah seorang adik dari kakak iparku.


4. Hari keempat: Minggu, 27 Desember 2015

Setelah bermalam di rumah kerabat di Lubuk Linggau, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi tempat wisata yang ada di sana. Kami mengunjungi tempat wisata alam Bendungan Watervang dan Air Terjun Temam. Tadinya sih pengen ke tempat wisata yang ada di Bukit Sulap. Tetapi waktunya tidak memungkinkan lagi menuju ke sana, dah mepet banget dengan jadwal pulang ke Palembang. Takutnya lewat tengah malam kami baru nyampe Palembang.

Seperti yang telah kuceritakan diawal bahwa butuh waktu sekitar enam jam dari Lubuk Linggau ke Palembang nonstop tanpa berhenti. Rasanya gak mungkin deh selama perjalanan gak mampir-mampir kan? Emang perut gak nagih minta diisi dan kita mesti shalat juga kan?

Pas melewati kota Sekayu senja mulai gelap pertanda waktu beranjak malam. Saatnya beribadah menunaikan shalat magrib dan beristirahat sejenak di kota Sekayu (ibukota kabupaten Musi Banyhuasin di provinsi Sumatera Selatan)



Mampir di rumah makan Pindang Kupek di kota Sekayu


Para Bapak2nya nih lahap bener, gak noleh lagi pas difoto, haha..


       .....nantikan kelanjutan ceritanya ya.. NEXT....


       

Kamis, 04 Februari 2016

Wisata Alam Air Terjun Temam Lubuk Linggau


       Setelah menikmati wisata alam dan foto-foto di Bendungan Watervang, rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Temam. Butuh waktu sekitar duapuluh menit untuk tiba di lokasi. Ketika memasuki areal wisata tersebut, nampak banyak sekali pengunjung yang datang. Sepertinya liburan cuti bersama Natal 2015 yang lalu benar-benar dimanfaatkan banyak orang untuk berlibur ya...

Cerita sebelumnya baca di SINI

Objek wisata Air Terjun Temam di Lubuk Linggau

       Setelah memarkir mobil, kami mesti menuruni banyak banget anak tangga dan melewati taman-taman untuk sampai ke bawah. Udara segar begitu terasa saat kami tiba di bawah. Ada pondokan-pondongan untuk melepas lelah sambil menikmati suara gemuruh air terjun. Di bawahnya ada sungai berbatu dan beraliran deras. Di pojokan yang agak surut dimanfaatkan banyak orang untuk mandi dan berenang.

       Kalo aku saat itu gak suka turun ke bawah mandi-mandi. Soalnya males aja kalo mesti salin baju lagi. Kebetulan di dalam ranselku dah habis tuh stok pakaian bersih.  Kalo aku ikutan mand-mandi main air di sungai lalu pakaianku basah, lalu gimana dong? Apa mesti memakai pakaian lembab selama dalam perjalanan pulang ke Palembang? Haha...enggaklah ya, bisa masuk angin nantinya pas tiba di rumah. Sementara yang lainnya turun mandi dan main air, aku dan suami memilih untuk berselfie-ria saja. Karena gak punya tongsis aku gantian sama suami saling foto. Atau minta bantuan sepupu bila kami ingin foto berdua. Sampe diketawain sama saudara-saudara yang lain, tiap tempat pasti aku heboh sendiri jepret sana jepret sini. Ini memang disengaja bikin banyak foto. Nantinya koleksi foto ini pasti ada aja gunanya. Yang pasti untuk bahan tulisan artikel di blog, hehe.. Ini namanya modus, sekali menyelam dua tiga pulau terlampaui.


Di bawah air terjun banyak orang turun dan mengabadikan momen

   
Selfie dengan latar belakang Air Terjun Temam


Selfie bareng my hubby gak boleh dilewatkan, haha..


Plang merek Air Terjun Temam Lubuk Linggau

        Setelah puas main air dan mandi-mandi di sungai, para keponakanku yang masih kecil-kecil merapat ke pondokan. Di sana kami manfaatkan waktu membuka bekal makan siang pada hari itu. Setelah kedinginan memang biasanya cepat lapar ya? 

       ...... bersambung.... NEXT .....



Selasa, 02 Februari 2016

Wisata ke Bendungan Watervang Lubuk-Linggau


       Seperti yang sudah kuprediksi sebelumnya, nampaknya rombongan touring kami gak sempat lagi nih singgah di Curup. Senja sudah mulai meredup dan cahaya mentari mulai memudar. Ketika memasuki kawasan Curup hari sudah mulai gelap. Mungkin suatu saat deh kalau ada waktu lagi bisa jalan-jalan dan berwisata di Curup. Penasaran dengan pemandian air panasnya yang terkenal bisa mengobati berbagai penyakit. 

       Walaupun senja mulai gelap, namun kami masih bisa melihat pemandangan di kiri-kanan jalan. Ada sawah yang terhampar luas dan bertingkat-tingkat. Maklumlah, di tempat ini kan masih satu hamparan dengan Bukit Barisan. Kontur daratannya naik turun. Udaranya yang sejuk pas banget untuk bercocok-tanam. Konon sayur-mayur yang dihasilkan dari daerah Curup cukup baik produksi tanamannya.

     Cerita sebelumnya dapat dibaca di SINI

       Cukup lama kami berada dalam mobil gak berhenti-henti. Selain hari sudah malam kami ingin segera sampai di kota Lubuk Linggau. Di sana rencananya kami menumpang nginap di rumah saudara kandung Kak Bahrun, kakak iparku. Pas tiba di rumah yang dimaksud, kami disamput oleh adik iparnya Kak Bahrun. Dia kebetulan seorang diri di rumah itu. Yang lainnya sedang berlibur pulang kampung ke Baturaja. Setelah menyambut kedatangan kami, beliau mempersilahkan untuk beristirahat dan makan malam dulu.

       Nah, namanya juga baru nyampe dari perjalanan jauh ya, perut yang dari tadi belum diisi nasi sudah nagih nih. Biasa, alunan orkestra dari dalam perut sudah berbunyi pertanda lapar, haha... Di rumah itu kami mesti masak dulu untuk makan pada malam itu. Maklumlah gak ada nyonya rumah di sana. Iparnya Kak Bahrun mempersilahkan kami untuk masak sendiri. Namanya juga sudah lapar ya, aku beserta ipar-iparku yang perempuan segera beraksi di dapur. Ada yang menanak nasi, ada yang bikin gulai sarden, ada yang bikin dadar telur. Untungnya nih kami bawa penanak nasi listrik. Biar cepat memasak nasinya kami punya teknik cara memasak yang cepat. Maklumlah, maunya cepat matang agar cepat makan, perut laper dah nagih, haha.. Pertama, beras diaron dulu memakai wajan, setelah setengah matang dimasukkan ke dalam penanak nasi listrik. Tak butuh waktu lama lho nasinya dah bisa dimakan. 

       Setelah makan malam mengisi perut, kami berbenah, mandi dan segera tidur. Besok rencananya setelah sarapan pagi kami akan melanjutkan perjalanan ke Palembang. Sebelumnya, kami akan ke Bendungan Watervang dan Air Terjun Temam.

       Berikut ini foto-fotonya saat berada di lokasi wisata alam Bendungan Watervang Lubuk Linggau...


Bendungan Watervang ini merupakan peninggalan Belanda, 
sekarang tempat ini menjadi obyek wisata di Lubuk Linggau


Bendungan ini dibuat untuk mengaliri sawah-sawah melalui aliran Sungai kelingi


 Air terjun yang ada di bendungan ini menjadi dayak tarik wisata,
banyak pengunjung datang ke tempat ini untuk menikmati alamnya


Selfie bareng suami gak boleh ketinggalan tuh, haha...


Bendungan ini dibuat pada tahun 1941, ada jembatan besi yang terhubung ke seberang.
Saat itu aku gak berani melewati jembatan gantung itu, karena beberapa bagian ada
plat yang sudah rusak. Tetapi beberapa keponakan bahkan berani nyebrang naik
jembatan gantung itu. Di seberang sana kita bisa foto-foto dengan 
latar belakang air terjun dari bendungan ini.



...... bersambung... NEXT.....


     

Senin, 01 Februari 2016

Singgah di Rumah Pengasingan Bung Karno Bengkulu


       Setelah puas berkeliling di Benteng Marlborough, kami bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing. Perjalanan selanjutnya adalah menuju Rumah Pengasingan Soekarno di Bengkulu. Mendengar nama Soekarno pastinya sudah tidak asing lagi ya? Beliau adalah tokoh proklamator dan presiden RI yang pertama.


Cerita sebelumnya dapat dibaca di SINI

       Menurut informasi yang kubacaRumah Pengasingan Soekarno adalah tempat yang pernah didiami beliau selama menjalani sebagai tahanan politik di Bengkulu. Letaknya di kelurahan Anggut Kecamatan Gading Cempaka Bengkulu. Ini adalah kunjunganku yang kedua ke tempat ini. Setelah kunjungan sebelumnya pada bulan April 2015. Saat itu semua foto-foto yang kuabadikan di tempat ini terhapus semua saat aku mengeditnya di kamera. Untunglah aku bisa datang lagi ke sini. Kesempatan kali ini tak kusia-siakan. Langsung deh pasang aksi, berpose bareng suami dan keluarga di sini. Mumpung ada kesempatan berkunjung ke situs yang bersejarah ini ya...

        Untuk masuk ke dalam rumah tersebut, kita hanya membayar karcis sebesar Rp. 5.000,- Murah banget ya? Siang itu pengunjungnya cukup ramai. Mungkin bertepatan dengan libur cuti bersama Natal 2015 ya? Dengan waktu yang sempit, kami masing-masing sibuk sendiri, mengunjungi satu persatu sudut rumah ini. Kesempatan ini lagi-lagi kugunakan untuk memotret momen.

       Menurut sejarahnya (dari Wikipedia), rumah tersebut milik seorang penduduk lokal keturunan Tionghoa. Rumah tersebut disewa oleh pemerintah Belanda untuk Soekarno selama dalam pengasingan. Dari tahun 1938 hingga 1942 Soekarno diasingkan di sana. Di tempat ini pula akhirnya Soekarno bertemu jodohnya, ibu Fatmawati yang kelak menjadi ibu negara RI.

       Beberapa ruangan kami masuki, ada ruang kerja, ada kamar tidur lengkap dengan ranjangnya, ada ruang perpustakaan dimana terdapat lemari-lemari yang sarat buku. Pantaslah beliau cerdas dan pintar. Konon beliau termasuk tokoh yang gemar membaca. Yang paling menarik perhatianku adalah sebuah sepeda tua yang dipajang dalam lemari kaca. Menurut sejarahnya nih, sepeda tua itu sering dipakai Bung Karno untuk beraktifitas.
     
       Nah, biar kalaian gak penasaran seperti apa sih keadaan Rumah Pengasingan Bung Karno itu? Yukk simak foto-fotonya berikut ini ya...

   
Foto bareng suami di depan plang bertuliskan
RUMAH KEDIAMAN BUNG KARNO


Fotonya berlatang belakang Rumah Pengasingan Soekarno
Tamannya asri dan terawat


Yang disamping itu sepeda milik Bung Karno 


Sepeda tua milik Bung Karno, saksi sejarah perjuangan Bung Karno


Salah satu sudut ruang kerja Bung Karno


Pose di bawah pigura yang berisi lukisan foto Bung Karno


Salah satu lemari yang dipenuhi koleksi buku milik Bung Karno


Rumah Pengasingan Soekarno ini menjadi salah satu cagar budaya
yang dilindungi dan perlu dilestarikan karena punya nilai historis


Rumah Pengasingan Soekarno dilihat dari tampak depan, 
masih terawat dengan baik


       Setelah puas berkeliling Rumah Pengasingan Soekarno, lagi-lagi kami bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing. Perjalanan berlanjut menuju kota Lubuk Linggau. Rencananya kalau ada waktu kami mau singgah di pemandian air panas di Curup. Tapi mentari mulai redup pertanda senja akan datang. Nggak tahu ya apa pak sopirnya bisa kenceng bawa mobilnya? Tapi kayaknya gak sempat lagi nih mampir-mampir karena hari mulai beranjak gelap.

     ..... bersambung... NEXT...


Berkunjung ke Benteng Marlborough di Bengkulu


        Ada yang pernah berkunjung ke Benteng Marlborough di Bengkulu? Nah... kunjunganku kali ini adalah kunjungan yang kedua. Yang pertama pada bulan April 2015 yang lalu. Namun sayangnya, foto-foto yang aku dokumentasikan terhapus semua. Ketika itu aku asyik mengedit foto memakai kamera. Tanpa sadar aku menekan tombol "dellete all". Apes banget deh! Semua foto terhapus. Untunglah saat itu aku masih punya dokumentasinya yang tersimpan di handphone.

       Cerita sebelumnya bisa dibaca di SINI

       Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, kami hanya singgah sebentar di Pantai Panjang. Perjalanan dilanjutkan ke Benteng Marlborough, sebuah benteng bekas peninggalan Inggeris. Benteng ini dibangun pada tahun 1713 hingga 1719 yang lalu. Ketika kami tiba di sana, terlihat pengunjungnya cukup banyak. Mungkin karena bertepatan dengan libur cuti bersama Natal 2015 ya! Kesempatan kedua ini tak boleh terlewatkan lagi untuk berselfie-ria. Jangan sampai deh terulang lagi semua foto-foto yang kuabadikan di handphone terhapus.

       Beberapa momen sempat kuabadikan melalui handphone. Capek juga sih ngambil fotonya, aku gantian sama suami. Atau minta tolong sama ponakan dan saudara kalau mau foto berdua suami. Mestinya bawa tongsis ya biar bisa foto asyik bareng suami. Jarang-jarang lho suamiku mau difoto, mesti dirayu dulu. Untunglah kali ini dia berhasil kurayu, pake rayuan gombal, haha...

       Sebetulnya, sudah lama aku pengen punya tongsis. Tujuannya agar bisa ngambil angle yang bagus pas difoto. Apalagi bila fotonya rame-rame, hasilnya sangat memuaskan. Dulu, aku pernah lihat ada tongsis kualitas baik yang dijual dengan harga diskon di sebuah toko buku terkenal. Ketika itu aku belum berniat punya tongsis karena aku pikir gak penting-penting amat memilikinya. Pas aku merasa butuh banget sama tongsis itu, aku datangi lagi tokonya. Ehh....ternyata diskonannya dah selesai. Nyesel banget deh saat itu gak langsung beli aja. Ternyata tongsis yang didiskon harga spesial itu harga aslinya lumayan mahal lho!

       Nah, kalau kalian mau lihat foto-foto ketika di Benteng Marlborough bisa dilihat di bawah ini ya...


Selfie bareng suami di depan plang besi
yang bertuliskan "FORT MARLBOROUGH"


Di depan pintu masuk ke dalam Benteng Marlborough


Ini prasasti yang berada di depan pintu masuk Benteng Marlborough


Salah satu ruangan sel yang ada di barak militer Benteng Marlborough


Taman yang asri dan terawat terdapat di dalam Benteng Marlborough


Dari atas benteng ini kita bisa melihat pemandangan kota Bengkulu
dan di latar belakang foto ini kita juga bisa melihat laut biru yang membentang


Benteng Marlborough ini dinobatkan menjadi salah satu cagar budaya
yang dilindungi dan perlu dilestarikan karena mengandung nilai historis

       Setelah puas selfie-selfi dan mengabadikan momen di tempat ini, kami segera melanjutkan perjalanan lagi. Tujuan selanjutnya adalah mengunjungi Rumah Pengasingan Soekarno. Di sana kita bisa melihat rumah tempat mantan presiden pertama RI saat diasingkan di Bengkulu. Cerita tentang ini ntar kulanjutkan pada postingan berikutnya ya...

..... bersambung.... NEXT...