Jumat, 20 Maret 2015

Tulisan Lawas di Majalah ANITA (1)


     Pinjam istilahnya Syahrini, sesuatu banget ketika tulisan kita dimuat media. Nah...ketika bongkar-bongkar lemari ketemulah majalah lawas ANITA edisi 30 dan 33 terbitan akhir tahun  1997. Lama banget ya? Aku masih menyimpan kedua majalah ini karena di dalamnya terdapat dua tulisanku. Majalah ANITA memuat rubrik KITA (Kisah Cinta Kisah Cinta), berisi cerpen mini tentang percintaan. Aku masih ingat kala itu mendapat honor tigapuluh ribu, lumayan bisa dibeliin blouse, hehe.. 

       Nah, berikut kutulis ulang tulisanku di majalah ANITA. Maksudnya sih supaya bisa diabadikan saja di blog ini. Selain itu agar menambah semangatku dalam berkarya. Yuk, ikuti tulisanku di bawah ini ya...

PUISI CINTA

     Waktu aku kelas satu SMU, aku pernah naksir seorang cowok. Namanya Aris. Doski pendiam dan sedikit pemalu. Pakai kacamata minus. Dan yang bikin aku naksir sama doi, senyumnya itu lho... merontokkan jantung!

     Kayaknya, Aris juga suka sma aku. Bukannya aku kege-eran, tapi bila kami berdekatan, doi suka kikuk. Kalo diajak ngomong, matanya nggak pernah berani menatapku. Karena kami sama-sama pendiam dan pemalu, jadi nggak ada kemajuan sama sekali. Di kelas, kami suka lirik-lirikan. Kalo guru sedang mengajar, aku sering menangkap basah matanya yang teduh sedang memandangiku. Begitu mata kami beradu pandang, kami cepat-cepat mengalihkan perhatian ke guru. Hihihi...ketahuan nih. Jadi tengsin!

     Suatu hari, aku iseng menulis puisi cinta yang khusus kubuat untuknya. Lalu puisi itu aku kirimkan ke majalah sekolah. Walau aku memakai nama samaran, tetapi aku tetap mencantumkan asal kelasku. Tak urung, itu membuat seisi kelas gempar. Saling curiga dan menebak-nebak, siapa gerangan yang lagi jatuh cinta di kelas kami?

     Sampai aku lulus dan menamatkan SMU-ku, peristiwa "puisi" yang sempat bikin geger itu tak pernah terjawab oleh teman-teman, kalau akulah yang menulisnya. Namun aku yakin, Aris pasti mengetahuinya. Dia cuma senyum-senyum saja melihat ulahku itu. Prinsipku yang penting doi bisa tahu bagaimana perasaanku terhadapnya. Tapi dasar si Pemalu, doi tetap aja nggak berani mendekati aku, sampai akhirnya kami berpisah.

     Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, aku kembali terkenang akan ulahku dulu. Aku kembali teringat pada si Pemalu Aris. Ah... di manakah dia sekarang ini? (Rita - Palembang). ***


Majalah ANITA No. 30  (10-19 November 1997)

Tulisan yang dimuat dalam rubrik KITA (Kish Cinta Kisah Cinta)


Jumat, 13 Maret 2015

Luruskan Niat Untuk Menikah


     "Kapan menikah...?"

      Pertanyaan seperti itu sering kuterima saat aku masih menjomblo. Wajar bila banyak orang  menanyakannya. Mengingat saat itu usiaku tak muda lagi. Bagi seorang wanita bila berusia diatas kepala tiga dan belum menikah akan menjadi pertanyaan banyak orang. Awalnya sih aku gerah juga ya ditanya-tanya seperti itu. 

       "Banyak banget sih orang kepo, pengen tahu urusan orang lain?" pikirku.

Kala itu aku sering merasa gerah atas pertanyaan banyak orang. Seolah mereka menuding ada yang salah pada diriku. Padahal mereka tak tahu apa yang sebenarnya menjadi alasanku kenapa masih menjomblo ketika usia sudah tak muda lagi.

       "Banyak faktor penyebab diriku memilih betah menjomblo."

Siapa sih tak ingin menikah dan punya pasangan hidup yang tepat? Begitu juga diriku. Ketika kuberi alasan betah menjomblo lantaran patah hati, banyak yang tak percaya. Malah ada yang bilang itu hanya hanya alasan semata yang terlalu dibuat-buat.

       "Kalian belum pernah merasakan patah hati kan, makanya nggak tahu kalau rasa sakitnya tuh sampe di sini..." (#nunjuk dada...)

Betul lho.....sakitnya tuh di sini....(#nunjuk dada) ketika cinta kita terbang bak burung hinggap di dahan lain. Bagaimana tak sakit bila hubungan yang sudah kita jalani selama bertahun-tahun kandas saat tiba ditahun kesepuluh! Sepuluh tahun Sodara-sodara.... Sepuluh tahun..!!! Ketika peristiwa itu terjadi usiaku sudah duapuluh delapan tahun pula! Mestinya ending dari hubungan itu manis ya....sebuah pernikahan. Tetapi apalah dayaku ketika si cowok itu digaet yang lain dan si cowok itu lebih memilih dia??? (#lho koq malah curhat di sini?)


Betitulah pengalamanku ketika masih jomblo saat usia diatas kepala tiga. Banyak orang yang mempertanyakan alasanku. Well.....aku mesti kasih tahu ya, ini lho penjelasannya.....:

1. Shock dan down, bener lho itulah kondisiku saat itu ketika tiba-tiba si cowok berlaku tak jujur. Dia lebih memilih orang lain. Yang bikin aku down itu bukan karena putusnya itu, tetapi karena dia tak memberi alasannya kenapa dia tiba-tiba menjauh. Dan akhirnya, akulah yang mesti tegas. "Well, ini nggak bener. Kalau dirimu sudah tak suka, tak apa-apa kita tak menikah. Tapi tolong beri penjelasannya." Tetapi si cowok seperti tikus kelelep, tak berdaya menghadapi pertanyaanku, hingga mesti aku yang mengambil keputusan, "Oke, mulai dari detik ini, aku yang mesti mengambil keputusan. Selamat tinggal cintaku.... Silahkan Engkau terbang dan memilih kemana Engkau akan bersandar melabuhkan pilihanmu..."

2. Butuh waktu untuk instropeksi diri untuk bangkit lagi. Jelas dong.....ketika terjadi kekecewaan yang begitu mendalam tentunya tak mudah dong menghapus semua kenangan dari ingatan. Tapi itu mesti kulakukan. Perlahan-lahan aku menata kembali kehidupan yang baru. Walau tak mudah, pelan tapi pasti aku bisa melalui hari-hari gelap dalam hidupku.

       "Yes...!!! Aku move-on!!!"

Begitulah, aku berteriak keras ketika aku bisa bangkit dari keterpurukan dalam membina hubungan. Tak apalah ini terjadi padaku, ini adalah garisan hidup yang harus kuterima. Aku yakin dibalik semua ini ada hikmahnya. Benar saja, dalam waktu yang tak terlalu lama setelah aku move on, seorang laki-laki yang belum terlalu lama kukenal mengajakku menikah.

       "Menikah???"

Pertanyaan itu kulontarkan kepada si lelaki pemberani. Baru kali ini aku ditantang seperti ini oleh laki-laki. 

       "Ya, kita menikah!"

Akhirnya, setelah melakukan shalat tahajud, aku menerima pinangan laki-laki itu. Aku tak mau keputusan menikah hanya karena emosi sesaat. Aku tak mau menikah karena takut dibilang perawan tua, takut dibilang sok wanita karir, takut dibilang sok mandiri, takut dibilang pilih-pilih....

       "Bismillah..... Aku luruskan niat untuk menikah."

Perlu sekali meluruskan niat, agar keputusan menikah tak diambil dalam kegamangan pikiran. Menikah itu ibadah, jadi perlu pertimbangan yang benar. Yang jelas aku menikah karena:

1. Memenuhi tuntunan agama yang kuanut, bahwa menikah itu adalah sunnah Rasul.  "Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." QS. Adz Dzariyaat (51):49.

2. Secara psikologis, memiliki pendamping hidup bagiku adalah suatu kebutuhan. Aku butuh teman untuk sharring terhadap apapun masalah, dan alhamdulillah suamiku ini type orang yang menghargai dan mendengarkan curhat isteri. Terlebih lagi, dengan seringnya berdiskusi akhirnya segala persoalan yang dihadapi bisa dicari solusinya. 

3. Mencari kebahagiaan hidup dengan menikah. Kami bisa melakukan hal-hal yang membuat kami bahagia. Mulai dari urusan ibadah, urusan pekerjaan, urusan silaturahmi dengan keluarga besar, urusan hobby dan kesenangan. Pokoknya banyaklah hal-hal yang bisa membuat kami bahagia dan melaluinya berdua..

 Catatan kecil bagi pasangan yang belum menikah:

1. Sebelum memutuskan menikah, luruskan niat dan yakinkan diri, apakah memang menikah itu karena ridha Allah? Ini penting karena jangan sampai terburu-buru dan terbawa emosi hanya untuk mendapatkan label  atau status menjadi seorang "nyonya".

2. Sebelum menikah, yakinkan diri apakah laki-laki yang kita pilih adalah calon pendamping yang tepat bagi kita dalam mengarungi perkawinan kelak? Untuk menjawabnya, sahabat blogger yang muslim dapat melakukan shalat tahajud agar benar-benar diberi ketenangan bathin saat memutuskan menikah atau tidak.

3. Jangan ragu untuk mundur dari hubungan bila itu membuatmu tak nyaman. Abaikan lamanya rentang waktu yang telah dihabiskan selama ini untuk membina hubungan yang gagal. Lebih baik pahit diawal daripada pahit setelah menikah.

4. Cinta kilat, why not? Jaman sekarang kita kan mengenal yang namanya ta'aruf. Jangan takut mengambil keputusan untuk menikah ketika sahabat blogger yakin bahwa dia adalah calon yang tepat untuk bersama-sama denganmu mengarungi pahit manisnya kehidupan setelah pernikahan.

Well, bila sahabat blogger berencana menikah, luruskan niat dulu ya agar mendapatkan kemantapan hati. Jangan menikah dengan emosi sesaat demi mendapatkan status "nyonya." . 

  
     
          

Selasa, 10 Maret 2015

Naskah TTS karyaku Dimuat Kompas


Alhamdulillah, akhirnya naskah TTS karyaku dimuat Kompas. Sebuah penantian yang cukup panjang. Setelah menunggu lebih dari dua bulan, TTS karyaku dimuat dalam Buku TTS Pilihan Kompas Jilid 8. Dalam buku tersebut terdapat 70 TTS yang dapat diisi oleh pembaca. Nah, pada TTS yang ke-70 pada halaman 141 itu adalah karya yang kumaksud. Pada bagian bawah naskah itu terdapat kode RTA-K.001.

Aku sangat senang lho TTS karyaku diapresiasi Kompas. Betapa tidak? Karena selain diriku terdapat empat pengarang  lainnya yang sudah mumpuni dalam dunia TTS. Mereka itu adalah pengarang TTS senior yang karya sering diterbitkan Kompas maupun media lainnya yang ada kolom TTS.

Harapanku sih, aku ingin menggeluti dunia ini secara intens. Momentum atas dimuatnya TTS karyaku ini menjadi semangatku yang sempat padam. Seringnya penolakan dari media memang membuat semangat membuat naskah TTS kendor. Cerita tentang hobiku mengisi TTS dan membuat naskah TTS pernah kutulis disini. Bagi sahabat blogger yang hobi ngisi TTS bisa membeli buku ini di toko buku terkenal di kota Anda. Ohya, ada voucer berhadiah lho di dalamnya.... Yuk, buruan ke toko buku dan rebut hadiahnya ya..







Kemantapan Hati Menjawab Keraguan Hijabku


Pada saat busana hijab sedang naik daun sekitar 10 tahun yang lalu, aku mulai berfikir untuk mengenakannya juga. Namun saat itu masih ada keraguan dalam diriku. Apa benar sih aku sudah mantap berhijab? Apa karena ikut-ikutan tren? Atau memang memenuhi panggilan hati? Pemikiran-pemikiran itu sempat wara-wiri dalam benakku kala itu. Lho koq.....pengen berhijab tapi koq ya masih mikir-mikir sih?

Busana yang seharusnya dikenakan seorang wanita muslim adalah busana yang menutup aurat. Hal ini sesuai dengan anjuran dalam agama Islam, yaitu surat AnNur ayat 31 disebutkan artinya:

"Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar nereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung di dadanya dan janganlah 
menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka."
QS. An-Nur: 31

Berangkat dari anjuran dalam Alquran tersebut, jelas kiranya bahwa seorang muslimah dalam berpakaian haruslah memperhatikan norma-norma. Baik itu norma agama maupun norma kesopanan dalam masyarakat. Pernah lihat kan cara berpakaian seorang muslimah yang berhijab namun belum sesuai norma agama dan adab kesopanan? Cara berpakaian yang dimaksud adalah yang seperti ini:

1. Berhijab namun memakai celana serta baju ketat dan seksi, sehingga lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas.
2. Berhijab namun style atau gaya hijabnya menampakkan lehernya karena hijabnya tidak rapi.
3. Berhijab namun blous dan roknya terbuat dari bahan transparan yang memperlihatkan kulit secara samar.
4. Berhijab namun celana celana atau roknya menggantung, sehingga ujung tangan dan ujung kaki terlihat.

Lalu, cara berhijab seperti apa sih yang sesuai dengan anjuran dalam agama? Tentunya adalah cara berpakaian dan berhijab yang telah memenuhi  syarat dan ketentuan dalam Alquran.  Lalu, yang seperti apa sih syarat dan ketentuannya? Setelah aku mencari tahu sana-sini lewat googling, aku menemukan jawabannya seperti ini:

1. Menutupi seluruh badan dengan sempurna.
2. Bukan berfungsi gaya-gayaan.
3. Bahannya tidak tipis dan transparan.
4. Modelnya harus longgar sehingga tak memperlihatkan bentuk tubuh..
5. Bentuknya tidak menyerupai laki-laki, misal memakai celana panjang. 

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pakaian wanita muslim yang dianjurkan adalah memakai gamis dan kerudung syar'i. Lalu, apa pula sih yang disebut kerudung syar'i? Kerudung syar'i adalah kerudung yang menutupi sampai dengan dada seorang muslimah. 

Bagaimana sih cerita tentang hijabku?

Seperti yang telah kuceritakan diawal bahwa keinginan berhijab sudah sejak lama. Namun kala itu aku masih banyak pertimbangan. Kenapa? Yang pertama, karena belum terbiasa aku takutnya nanti kepanasan dan gerah saat memakainya. Tidak lucu kan bila buka tutup hijab? Kedua, aku melihat banyak wanita berhijab namun perilaku dan akhlaknya tak sesuai dengan hijabnya. Banyak kutemukan wanita berhijab namun masih suka mengumpat orang dan nyinyir. Berhijab tetapi tak sopan dan etikanya kurang. Berhijab tetapi dia berlaku dosa. Nah...hal-hal seperti inilah yang membuatku ragu. Menurutku, seorang wanita yang berhijab haruslah sempurna, dalam arti dia mestinya menjadi panutan bagi wanita lainnya yang belum berhijab. 

Lalu aku berfikir, kalau mesti sempurna dulu baru berhijab, kapan dong mulainya? Karena yang namanya manusia itu kan tak ada yang sempurna. Tidak mulai-mulai dong berhijabnya, iya kan? Sampai akhirnya aku mendapat kesempatan berangkat umroh pada awal tahun 2010 yang lalu. Sepulang dari umroh aku memantapkan hati untuk berhijab. Hari pertama masuk kantor, banyak mata memandang ke arahku. Ada yang menatapku heran seolah berkata, "Eh, Rita...benar nih kamu berhijab sekarang?" Atau seolah bertanya, "Kamu sudah yakin nih dengan keputusanmu berhijab? Berat lho konsekuensinya, antara hijab dan perilakumu mesti sepadan lho..." 

Dari sekian banyak orang yang menatapku dengan ragu, ada juga simpati yang kuterima. Bahkan dari mereka mengucapkan selamat kepadaku atas penampilan baruku yang mengenakan hijab. Lega rasanya mendapat banyak support dari teman-teman yang lebih dahulu berhijab.

Kini setelah lebih dari lima tahun aku berhijab, aku semakin nyaman dengan penampilanku kini. Nyaman karena terlindung dari pandangan dan tatapan laki-laki yang bukan muhrim. Namun cara hijabku kini belum syar'i. Aku masih mengenakan jilbab berbentuk segi empat yang dilipat dua ketika dipakaikan di kepala. Jilbab model seperti ini adalah favoritku, karena lebih praktis saat akan dipasangkan di kepala. Aku tak suka jilbab warna-warni. Aku lebih memilih yang polos warnanya. Kalaupun bermotif tentunya yang desainnya sederhana dengan corak yang lembut. Semoga aku tetap istiqomah dalam berhijab dan insyaAllah dengan perjalanan waktu aku akan mengenakan hijab syar'i. Bismillah....




Minggu, 08 Maret 2015

Review Buku Dahsyatnya Ibadah Haji

Judul Buku: DAHSYATNYA IBADAH HAJI
Nama Penulis: Abdul Cholik
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo Jakarta
Cetakan: I, Jakarta 2014
ISBN: 978 602 02 4810 3
Tebal: ix + 233 halaman
Harga: Rp. 47.800,-




Buku ini merupakan kisah perjalanan sang penulis saat melaksanakan rukun Islam yang kelima. Dalam buku ini penulis menuangkan kisah perjalanannya dalam 61 kisah yang tertuang dalam 61 sub judul. Namun secara keseluruhan menggambarkan perjalanan rohani sang penulis di dua kota suci yaitu Makkah dan Madinah. Tak seperti buku bertema yang sama dimana isinya terkesan berat, buku ini malah sebaliknya. Secara utuh memang menggambarkan hal-hal yang berbau ibadah haji. Namun bila dicermati lebih kisah dalam buku ini memberikan gambaran berupa panduan bagi jemaah yang berkeinginan menunaikan ibadah haji. Sangat cocok dimiliki oleh pemula yang belum pernah ke tanah suci. Dengan bahasa yang gamblang dan mudah dipahami, sang penulis mencoba memberikan pemahaman yang ringan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh calon jemaah haji.

Secara lebih lanjut, kisah perjalanan sang penulis terangkum dalam 3 (tiga) bagian:
1. Bagian pertama, menceritakan tentang hal-ikhwal persiapan sebelum berangkat haji. Pada bagian ini meliputi kisah pertama sampai dengan kisah kelima belas yang tertuang pada halaman satu dan berakhir pada halaman empatpuluh satu. Hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat dapat diketahui pada bagian ini.

2. Bagian kedua, menceritakan tentang awal dimulainya prosesi ibadah haji. Kisahnya dimulai dengan ritual memakai kain ihrom saat tiba di Jeddah. Pada bagian ini mulailah terdapat esensi dan hakikat yang sebenarnya dari ibadah haji itu sendiri. Banyak hal-hal penting yang diuraikan sang penulis mengenai esensinya, seperti hal-hal apa saja yang dilarang saat berpakaian ihram. Bila tak paham esensinya maka sang jemaah akan mendapat dham dan membayar denda. Prosesi ibadah haji yang diceritakan sang penulis meliputi kisah ke-16 sampai dengan kisah ke-46 yang tertuang pada halaman 46 dan berakhir pada halaman 158. Sebagai penanda usainya prosesi pelaksanaan ibadah haji dengan ditandai tawaf wada' di Masjidil Haram.

3. Bagian ketiga, berkisah tentang ibadah pelengkap dalam rangkaian prosesi ibadah haji. Kisah-kisahnya diuraikan sang penulis pada kisah ke-47 sampai dengan kisah ke-61 yang tertuang pada halaman 160 dan berakhir pada halaman 220. Kisah-kisah yang tertuang pada bagian ketiga ini lebih kepada pengalaman pribadi sang penulis namun memberikan benang merah bagi pembacanya. 

Beberapa catatan untuk buku ini:

1. Buku ini sangat cocok dimiliki oleh pembaca yang ingin berangkat ke tanah suci. Kenapa? Karena isinya tidak berat dan berisi tips-tips ringan selama beribadah.

2. Ditulis dengan gaya bahasa yang segar sehingga tidak membosankan bagi pembacanya.

3. Ditulis secara runut mulai dari awal tulisan hingga berakhirnya tulisan. Sehingga pembaca yang belum pernah ke tanah suci mendapatkan gambaran yang jelas dan mudah dipahami bila kelak ke tanah suci.

3. Buku ini tak hanya sekedar menyajikan panduan ringkas beribadah haji, namun membaca kisah-kisahnya yang syarat makna layak dimiliki oleh berbagai kalangan usia untuk dijadikan koleksi. 

4. Harganya cukup terjangkau dan sesuai dengan kualitasnya. 

5. Sedikit catatan: akan lebih menarik lagi bila ilustrasi gambar yang terdapat di dalam buku ini disertai dengan foto berwarna sehingga menjadikan kisah-kisanya lebih hidup lagi dan manis tampilannya.

Bila sahabat blogger belum memiliki bukunya silahkan mengunjungi toko buku langganan di kota Anda. Atau bisa memesan secara online pada gramediaonline.com atau di grazera.com. So, tunggu apalagi?



Jumat, 06 Maret 2015

Memendam Mimpi ke Tanah Suci Terkabul Berkat Kekuatan Niat


"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah atas segala kebesaranMu atas rejeki yang telah Engkau limpahkan pada diriku"


Begitulah doa yang kupanjatkan usai sujud syukur pada pagi itu. Saat apel pagi hari Senin sang pimpinan apel yang tak lain Camat mengumumkan bahwa aku mendapat reward berangkat umroh. Reward itu kuterima atas kerja kerasku selaku Lurah untuk mencapai realisasi penerimaan PBB di kelurahan yang aku pimpin. Buah dari kerja keras memang manis. Asal kita sungguh-sungguh dan ikhlas insyaAllah ada titik baliknya.

Tak kukira bisa secepat itu aku bisa sampai ke tanah suci. Pada hari yang telah ditentukan aku bersama rombongan berangkat umroh pada 26 Februari s/d 06 Maret 2010 yang lalu. Sebuah kerinduan yang telah kupendam bertahun lamanya. Ketika kerinduan itu berbuah realita, tentunya aku sangat bahagia. Sebuah kesempatan ke tanah suci yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ternyata dengan jalan ikhlas dalam melakoni pekerjaan Allah mengabulkan atas rindu dan mimpiku ke tanah suci.

Aku tak berangkat sendiri. Aku ditemani suami yang membayar sendiri segala biaya dan persyaratannya. Sebagai seorang muslimah aku ingin beribadah umroh ditemani suami agar lebih afdol. 

Berawal dari seringnya aku membaca di koran atau majalah tentang ibadah haji dan umroh. Ketika musim haji aku selalu menyempatkan diri menonton liputan perjalanan haji. Hampir tak pernah absen aku menonton tayangan liputan perjalanan haji setiap tahunnya. Aku juga sering membeli buku-buku tentang ibadah haji dan umroh. Semua itu kulakoni atas dasar keingin-tahuan yang mendalam untuk lebih memaknai dan memahami ritual wajib umat muslim yang tergolong mampu.

Saking seringnya membaca dan menonton hal-hal yang beraroma haji dan umroh, akupun merasa dekat sekali dengan tanah suci. Entahlah, sepertinya auraku sudah begitu melekat dengan tanah suci, sehingga akupun sering berangan-angan seolah-olah aku tengah melakukan ibadah itu. 

Berawal dari keinginan ke tanah suci, lalu meningkat menjadi rindu yang menggebu dan pada akhirnya berniat ingin ke tanah suci entah kapan waktunya. Niat itu tertulis indah di lubuk hati yang paling dalam. Tak hanya niat tetapi doa yang selalu kupanjatkan kepada Allah SWT agar aku diberi umur dan kesempatan ke tanah suci. 

Alhamdulillah....keinginan, kerinduan dan niatku ke tanah suci dikabulkan Allah SWT. Aku memang percaya dengan kekuatan niat. Bagaimana Allah akan mengabulkan keinginan ke tanah suci kalau berniatpun tidak. Tentunya dibarengi dengan ikhtiar dan usaha menuju pencapaian itu.

Ayo...bagi sahabat blogger yang ingin ke tanah suci, yuk...awalilah dengan niatmu, dan berikhtiarlah dengan ikhlas, insyaAllah sang Pencipta akan mencatat niatmu dan mengabulkannya.

Pengalaman ini aku tulis bukan untuk riya' lho namun lebih kepada motivasi dan inspirasi bagi yang membacanya.Yuk....berniat dari sekarang ke tanah suci...

Foto selfie-ku di bawah ini di Jabal Nur ketika melakukan ziarah bersama rombongan ke tempat-tempat suci dan bersejarah dalam penyebaran agama Islam. Jabal Nur adalah salah satu bukit bersejarah yang terletak di Mekkah Arab Saudi. Letaknya sekitar 6 km dari Masjidil Haram. Tepat di puncak bukit terdapat Gua Hira, tempat dimana Rasulllah SAW menerima wahyu yang pertama. Lihatlah rambut di kepala suamiku tak bersisa lagi alias plontos, lantaran dicukur habis setelah melakukan tahalul.

Foto ini diambil sendiri dengan menggunakan tangan kiriku. Walaupun hasil fotonya tak terlalu bagus namun latar belakang Jabal Nur-nya terlihat kan? Kebetulan ada lomba foto selfi di blognya Emak Gaoel, foto dan postingan ini kuikut-sertakan pada lomba GA yang diadakannya. Ohya, saat memposting artikel ini atau online di dunia maya, aku selalu setia menggunakan jaringan Smarfren lho. Sudah tiga tahun terakhir aku menggunakan layanan Smarfren melalui modem.

Sebelum menggunakan layanan jaringan Smartfern aku pernah menggunakan layanan jaringan yang lainnya. Tetapi semuanya tak memuaskan diriku. Ada yang lelet, ada yang nggak bisa mengcover jaringan di tempat-tempat tertentu, bahkan ada yang tak ada jaringan sama sekali. Ketika aku mencoba layanan jaringan Smartfren, alhamdulillah semua keluhanku teratasi. Hingga kini aku sangat puas dengan layanannya dan modem keluaran Smartfren ini menjadi modem kesayanganku. Terimakasih ya Smartfren telah membantuku ketika online  di dunia maya.

Foto ini diambil ketika ziarah ke tempat suci dan bersejarah di Jabal Nur 

Ini lho modem kesayanganku dari layanan jaringan Smartfren,
selalu kugunakan saat online di dunia maya

Selasa, 03 Maret 2015

Soulmate-ku Saat Travelling


Nah...ada GA lagi nih dari Mbak Myra Anastasia. Kali ini temanya tentang barang yang selalu dibawa saat travelling. Hmm...kudu ikutan nih GA ini karena akupun punya barang-barang yang selalu menemaniku saat travelling. Aku menyebutnya dengan soulmate. Tanpa soulmate ini terasa ada sesuatu yang kurang saat travelling.  Mau tahu barang apakah itu? Yuk...ikuti kisahnya di bawah ini ya...

Pastinya sahabat blogger lainnya penyuka travelling, pasti ada dong barang-barang tertentu yang hukumnya wajib dibawa.  Iya kan? Ayo ngaku.... Macamnya pasti beragam tergantung dari kebutuhan sahabat saat travelling. Nah...kalau aku sebelum berangkat travelling selalu mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:

1. Koper atau tas ransel.

Ketika aku travelling bersama suami biasanya aku menyiapkan tas ransel. Alasannya, lebih fleksibel saja dan lebih ringkas ketika dibawa. Alasan lainnya, kalau bawa ransel kan yang manggulnya cukup si suami saja, sedangkan diriku cukup bawa tas sandang. Biasanya nih, jauh-jauh hari aku sudah mengisi koper atau tas ransel dengan pakaian tertentu  yang harus kubawa. Hampir tiap hari aku cek ulang agar barang-barang atau pakaian yang aku butuhkan tak tertinggal.

2.Dokumen Surat-Surat

Jangan lupa siapkan KTP dan paspor bila ingin ke luar negeri. Bahkan aku sering bawa buku nikah. Untuk jaga-jaga saja siapa tahu pas nginap di hotel sama suami kita dicurigai bukan pasangan yang sah, haha... Kalau membawa mobil sendiri jangan lupa bawa SIM dan surat-surat kendaraan lainnya.

3. Mukena dan Sajadah Kecil

Jelas dong kedua barang di atas wajib dibawa. Urusan travelling tentunya tak melupakan urusan ibadah iya kan?

4. Perlengkapan Mandi dan Obat-obatan

Untuk yang satu ini jelas dong harus dibawa., seperti pasta gigi, sabun, handbody, bedak, panty-liner, vitamin C, minyak angin, balsem, parasetamol, bahkan obat sakit gigi. Maklum, aku termasuk orang yang sering menderita sakit gigi. Nggak asyik dong acara travelling terganggu lantaran sakit gigi? 

5. Pernak-pernik Kecil

Barang yang dimaksud di atas seperti: peniti, gunting kuku, gunting kecil, isolasi, batere kamera, senter kecil, agenda mini dan pena. Dari dulu aku selalu membawa barang-barang itu saat travelling. Firasatku berkata pasti barang-barang tersebut aku butuhkan saat dalam perjalanan. Misal, batere kamera itu untuk antisipasi kalau pas sedang asyik foto-foto ternyata batere ngedrop. Lalu, gunting kuku pastinya digunakan untuk memotong kuku dong! Nggak lucu saja ketika travelling kuku panjang dan kotor. Hiii...jorok ya? Agenda mini dan pena tentu saja kugunakan untuk mencatat kejadian-kejadian penting selama travelling. Aku memang sering membuat semacam jurnal perjalanan, berisi pengalaman tentang apa saja yang kutemui selama perjalanan. Tapi aku pernah kapok bawa gunting kecil ketika bepergian menaiki pesawat. Pernah suatu hari alarm pendeteksi di bandara berbunyi kencang dan aku disuruh minggir. Lalu tubuhku diperiksa pakai detektor. Aku sempat panik. Koq kenapa ya aku diperiksa apa ada yang salah dengan barang bawaanku? Petugas di bandara langsung mneyebut, "Bawa gunting, Bu?" Oh...aku baru ngeh memang di saku celana aku ngantongin gunting kecil. Hehe...

Nah...dari sekian banyak barang-barang yang kubawa saat travelling, yang  menjadi soulmate-ku adalah:

1. Handuk; aku selalu ogah pakai handuk di hotel walaupun hotel itu menyediakan handuk yang bersih. Entahlah, koq aku merasa geli ya pakai handuk dari hotel? Nggak nyaman saja rasanya, hehe..

2. Kacamata Baca; jelas aku mesti bawa barang ini secara aku sudah berumur dan sangat membutuhkan untuk membaca. Maklum, sudah pakai kacamata plus nih, hehe..

3. Celana Jeans; lebih nyaman dipakai dan hemat barang bawaan terutama pakaian ganti. Tak perlu repot gonta-ganti salinan baju, cukup bawa celana jeans dua helai sudah bisa dipakai dalam beberapa hari. Alasan lainnya, celana jeans tak terlihat kotor dan lusuh saat dipakai walaupun sudah berkali-kali dikenakan, hehe...

4. Pashmina; selalu aku gunakan saat berada dalam pesawat atau mobil ber-AC. Tubuhku memang tak kuat dengan hawa ruangan yang ber-AC. Apalagi kalau AC-nya kenceng. Bisa menggigil tubuhku. Nah, selain untuk gaya dan style dalam berbusana, pashmina yang kubawa berfungsi melindungi tubuhku dari dinginnya AC. Kadang-kadang pashmina itu sampai kubawa  tidur dan kujadikan selimut, hehe...

5. Kacamata Cengdem alias Ngeceng Adem; aku yakin nih sahabat blogger yang hobi travelling pasti mati gaya bila lupa bawa barang yang satu ini. Gimana mau asyik travellingnya bila tak diabadikan dalam bentuk foto-foto? Nah.....sesi foto-foto inilah yang paling asyik, bisa gaya-gayaan bak model, hehe.. Selfi-selfian sampe norak, haha... Pokoknya mati gaya deh kalau lupa bawa kacamata cengdem ini. Mau lihat gayaku saat difoto pake kacamata cengdem? Yuk lihat penampakannya di bawah ini ya....

Di Masjid Terapung Jeddah Saudi Arabia

Di Patung Singa Singapura

Di Pusat Perbelanjaan "Nagoya" Batam

Di Bukit Fatin Bangka

Di Pasar Seni Tanah Lot Bali

Di Batu Caves Malaysia

Di Universal Studio Singapura

Nah...itulah cerita tentang soulmate yang selalu menemaniku saat travelling. Tanpa soulmate-ku itu acara travelling garing rasanya. Tapi soulmate-ku ini tak membuat suami cemburu lho....