IKLAN

Minggu, 31 Agustus 2014

Menelisik Permasalahan Krusial Seputar Dunia Penerbitan

Saat mengunjungi sebuah toko buku tentu saja tujuan kita ke sana adalah belanja buku. Ya, tepat sekali! Begitu juga yang terjadi dengan diriku, mengunjungi toko buku seolah agenda wajib setiap minggu. Biasanya sih pada hari Sabtu atau Minggu dimana aku punya waktu luang. Pernah juga sih menyempatkan diri saat pulang kerja. Kebetulan ada toko buku terkenal yang aku lewati saat perjalanan menuju rumah. Entahlah, bagiku toko buku adalah surga, tempat dimana aku merasa bahagia. Kalau melihat buku-buku yang dipajang di rak-rak toko buku itu rasanya pengen deh aku borong buku. Apalagi hampir setiap minggu ada saja buku baru terbit. Kalau tak memikirkan isi kantong akan ludes sekejap tentulah buku-buku yang menarik perhatianku aku beli tuh!.


Lalu, buku seperti apa sih yang menjadi pertimbanganku saat belanja buku? Yang pertama kali jadi pertimbanganku adalah ketika aku sangat tertarik pada sebuah buku yang menjadi perhatian khalayak. Pastinya buku-buku semacam itu menjadi best seller. Beberapa novel terkenal seperti "Ibuk" karya  Iwan Setiawan dan "9 Summer 10 Autumn" karya yang juga karya Iwan Setiawan dan "99 Cahaya di Langit Eropa" karya Hanum  adalah contoh-contoh buku yang menarik minatku. 

Buku lainnya yang menarik minatku adalah buku-buku seputra panduan menulis. Ada banyak buku sejenis itu yang menghiasi rak buku di rumahku. Seperti buku "Menulis itu Ganpang" karya Indari Mastuti. dan "Mengarang itu Gampang" Aerwendo Atmowiloto. Maklumlah, sejak dulu aku bercita-cita jadi penulis tentunya harus banyak buku panduan sebagai referensi menulis. Sayangnya hanya beberapa gelintir tulisan yang dimuat media, sisanya draft tulisan masih tersimpan rapi dalam map-map ajaibku.

Kecintaanku terhadap buku dan hobi membaca sudah kualami sejak aku kelas satu SD. Kala itu belum banyak buku cerita anak terbit. Hanya beberapa gelintir  buku cerita anak seperti dongeng klasik terjemahan luar negeri. Kalau cerita-cerita silat versi asli Indonesia aku kurang suka membacanya.  Untuk mengatasi bahan bacaan yang terbatas orangtuaku berinisiatif   langganan majalah Bobo. Sejak itu hingga saat ini aku adalah pecinta dan pembaca setia majalah Bobo. Kadangkala aku mesti rebutan baca majalah Bobo milik keponakanku, hehe... Bersyukurlah kini banyak sekali penerbitan tumbuh subur layaknya jamur dimusim penghujan. Semuanya ini menjadi solusi atas kelangkaan buku dan bahan bacaan. Kini beragam buku bisa kita jumpai di toko buku.

Kalau berbicara tentang permasalahan krusial seputar dunia penerbitan saat ini, menurutku hal yang paling mendasar adalah harga buku yang relatif mahal. dan masalah pembajakan buku. Seperti yang kita ketahui, untuk buku standar harganya berkisar paling rendah empatpuluh ribuan. Ongkos produksi yang mahal membuat harga buku yang diproduksipun mahal. Bahkan bisa lebih mahal bila kertas dan kulitnya dari bahan yang berkualitas. Belum lagi masalah pendistribusian yang berjenjang hingga menyebabkan ongkos distribusinyapun menjadi mahal.

Disisi lain masih banyak terdapat buku-buku yang beredar itu adalah hasil pembajakan. Ini dikarenakan harga buku yang relatif mahal sehingga ada oknum-oknum yang nakal memanfaatkan peluang ini mengeruk keuntungan. Disisi lain baik penulis maupun penerbit legal merasa dirugakan karena ulah oknum pembajak buku. Sebut saja buku KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang ada versi bajakan. Kalau buku asli dihargai hampir empatratus ribuan. Tetapi versi bajakan bisa lebih murah. Kenapa buku bajakan harganya bisa lebih murah? Jawabannya karena buku itu dibuat dengan kertas yang tidak standar, tinta tidak standar dan tidak ada jalur distribusinya. 

Nah...itulah permasalahan krusial seputar buku dan penerbitan. Adalah peran nyata IKAPI sebagai wadah tempat bernaung para penerbit untuk mencari solusi permasalahan ini. IKAPI sebagai organisasi profesi bisa saja bekerja sama dengan pemerintah untuk mencari jalan keluar terhadap masalah krusial seputar dunia penerbitan.


Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog #PameranBukuBdg2014
IKAPI Jabar dan Syaamil Quran
Hari ke-6 tanggal 30 Agustus 2014


8 komentar:

  1. setuju, mak Rita. Buku masih jadi barang mahal ya buat sebagian orang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak atas apresiasinya... Memang buku kini termasuk barang kebutuhan ttp saat kita mau beli terkendala harga yg cukup mahal...

      Hapus
  2. Sebagai guru sukwan, saya seringkali berpikir ulang kalau mau membeli buku, Seberapa penting buku tersebut bagi saya? Maklumlah, penghasilan saya saat ini belum seberapa. Jadinya, sering juga harus nyari tambahan seperti menulis cerita, misalnya. Sukses ya buat segala aktivitasnya. Aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harga buku yg mahal seringkali membuatku urung belanja buku.. Makanya aku pilih jalan pintas ke toko buku sekedar lihat2 dan numpang baca.. Bila aku sdh ngebet berat dgn buku idamanku tetpaksa deh merogoh kocek.. Rasanya puas banget ketika buku idaman sdh berada dalam rak buku di rumahku...

      Hapus
  3. tulisannya bagus, mbak Rita. Buat sebagian orang, membeli buku itu murah. Dan masih banyak lagi orang, buku itu seperti barang mahal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak atas atensinya... Memang sekarang ini buku adalah kebutuhan tetapi sayangnya harga buku masih relatif mahal ya...?

      Hapus
  4. Semoga kedepannya bisa lebih mudah bagi semua masyarakat IND menikmati buku betkwalitas tanpa terkendala harga ya mak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aminn..makasih atas atensinya ya Mbak..

      Hapus

Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya ya...