IKLAN

Jumat, 31 Januari 2014

#1Hari 1 Ayat Hari Ke-31: "Pertolongan Allah."

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat"

(QS. An-Nasr: 1-3)

#1Hari 1 Ayat Hari Ke-30: "Amal Shalih"

"Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan"

(QS. An-Nahl: 97)

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-29: "Jangan Menunda Shalat"

Assalamualaikum wr wb...

Sahabat....ternyata suara azan subuh dari masjid yang terletak di seberang rumah tak menjamin kita terbangun diwaktu subuh. Aku pernah mengalaminya, mata enggan terbuka, badan terasa berat seperti memikul beban. Oh...ternyata inilah godaan setan yang paling berat.

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-28: "Pemuja Uang"

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda"
(QS. Ali Imron [3]:130)

Belakangan ini makin banyak orang yang memberi jasa meminjamkan uang. Yah...semacam koperasi keliling begitulah. Mereka menawarkan pinjaman uang dengan pengembalian yang jumlahnya jauh lebih besar. Lebih tepat dibilang bila dibilang rentenir. Biasanya si rentenir ini keluar masuk kampung menawarkan jasa. Mirisnya koq masyarakat masih ada yang mau pinjam uang sama si rentenir.

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke:27 "Tentang Syirik"

Aku termasuk orang yang berfikiran realistis. Begitu ada yang tidak masuk dalam nalarku maka aku enggan menerimanya. Demikian halnya dengan dunia mistik yang konon bisa dipakai untuk cara-cara penyembuhan suatu penyakit. Akupun tak mempercayai bahwa ada kekuatan ghaib yang bisa menyembuhkan. Tetapi kalau secara medis aku lebih percaya, karena terukur dan bisa dijelaskan secara ilmiah.

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-26: "Tentang Sakit"

Upss..!! Sudah tiga hari aku sakit tak berdaya lantaran demam tinggi. Kalau malam hari tubuhku terasa dingin menggigil, sehingga tidur pun aku mengenakan baju rangkap, penutup kepala dan berkaos kaki. Kalau pun di rumah ada sarung tangan mungkin akupun mengenakannya juga. Menurut dokter yang merawatku kemungkinan aku terkena typus, lalu aku diberi pengantar untuk periksa darah dan widal.

#1Hari 1 Ayat Hari Ke-25: "Yuk Kita Dhuha"

Pagi itu setelah usai apel pagi pada hari Senin di kantor, aku bersua sahabatku Rina yang kebetulan ruangannya bersebelahan denganku.

"Kita mau kemana nih abis apel ini? Ke kantin yuk?" ajakku padanya.

"Hmmm...Ke mushalla aja dulu ya...," sahutnya dengan senyum.

"Oh ya...itu lebih bagus, dhuha kan?" 

Selasa, 28 Januari 2014

#1Hari 1 Ayat Hari Ke-24: "Menyayangi Binatang"


"Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu;padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat lainnya dan sebagiannya kamu makan."
(QS. Al-Nahl/16:5)

1Hari 1 Ayat Hari Ke-23: "Tentang Kesabaran"

"Hai...orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan  shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqoroh: 153)

Minggu, 26 Januari 2014

#1Hari 1Ayat Hari Ke-22: "Kiat Baca Alqur'an"

Assalamualaikum wr wb...

Saat pertama kali membaca postingan Mbak Prima Dita penyelenggara kontes #1Hari1Ayat, saya langsung memutuskan ikut. Secara tak langsung kontes ini dapat menularkan energi positif untuk membaca Alqur'an.

Kali ini aku ingin berbagi cerita bagaimana cara mudah untuk membaca Alqur'an.

Sabtu, 25 Januari 2014

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-21: "Kufur Nikmat"

"....Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku)"
(QS. Al-Baqarah: 152)

Sebelum ini aku pernah menulis tentang anjuran untuk senantiasa mensyukuri nikmat. Nah...kali ini aku akan menulis tentang 'kufur nikmat'. Apa sih yang dimaksud dengan 'kufur nikmat'?

Pengertian kufur nikmat kira-kira adalah mengingkari nikmat. Bisa juga diartikan tidak mensyukuri nikmat. Padahal Allah SWT menganjurkan kepada kaumnya untuk senantiasa bersyukur atas segala kenikmatan yang diperoleh. Apapun bentuk kenikmatan itu, berapapun besarnya kenikmatan itu, tetaplah harus disyukuri. Sebab, patut diingat tak semua orang diberi kenikmatan oleh-Nya. 

#1Hari 1 Ayat Hari Ke-20: "Yuk Bersedekah"

"Kamu tidak akan memperoleh kebaikan, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh Allah mengetahuinya."
(QS. Ali Imron/92:2)

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-19: "Berbakti pada Orangtua"

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orangtua...." 
QS. Lukman [31]:14


Kedua orangtuaku tak utuh lagi. Mama telah tiada sejak 5 tahun lalu. Sementara papa masih ada dan kini usianya menginjak 73 tahun. Masih terkenang dalam ingatanku begitu mama mencintai kami anak-anaknya. 

Jumat, 24 Januari 2014

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-18: "Sederhana Bukan Pelit"

Aku merasa koq rada-rada boros ya? Padahal dari segi penghasilan gajiku sudah cukuplah untuk hidup. Memang sih sebagai PNS aku harus pinter-pinter membagi pos belanja agar tidak tekor. Nyatanya sulit sekali menerapkan teori bagi-bagi pos belanja. Selalu saja ada pengeluaran yang diluar kontrol. Ujung-ujungnya aku kekurangan uang untuk belanja alias tekor. Boro-boro mau nabung, yang ada malah ngepas aja tuh!

Kadang aku rada ngiri sama adik cewekku "Linda". Dia itu pinter banget mengatur keuangannya. Semua pos-pos belanja tercatat dengan rapi. Bahkan dari pos-pos yang sudah terbagi itu bisa menyisakan receh yang bisa ditabung lagi. Hebat sekali menurutku. Lha, aku kapan bisa kayak dia ya? Aku kadang suka menggodanya dengan sebutan 'si Pelit'.

Pernah suatu hari menjelang Lebaran, dia belanja 500 ribu perak untuk busana anak-anaknya. Hasilnya, dia bisa mendapatkan 1 stel pakaian anak laki-laki lengkap, dari sandal, sepatu, kemeja dan celana panjang. Ditambah lagi 1 stel t-shirt untuk kedua anaknya. Lalu si adikku itu masih bisa belanja blouse, jeans, lengkap dengan sandal dan dompet.

       "Oh whats? Dengan duit yang cuma 500 ribuan ini kamu bisa dapat semua belanjaan ini?" aku sedikit takjub.
       
       "Iya nih Kak... Cukup 500 ribu udah dapet semua keperluan busana Lebaran. Kalo belinya di mall sih jelas gak dapet , Kak! Aku kan belinya di toko Bu Herma!"

Hmm...bener juga ya? Belanja di mall paling cuma dapet 1 stel pakaian anak laki-laki saja! Adikku itu belanja sama Bu Herma yang menjual beragam busana di garasi rumahnya. Tentu saja harganya murah karena toko tersebut tak ada pajaknya.

Sejak saat ini aku tak berani lagi menggoda adikku dengan sebutan 'si Pelit'. 

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demukian."

(QS. Al-Furqaan: 67)




#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-17: "Pengalamanku dalam Perjalanan"

Doa naik kendaraan:

"Subhanal ladzi sakhkhoro lana hadza wama kunna lahuu muqrinin wa inna ila robbina lamunqolibuun" 
(QS. Azzukhruf: 43/13-14)

Aku ada pengalaman yang tak terlupakan saat berangkat umroh tahun 2010 yang lalu. Waktu itu aku naik pesawat hampir delapan jam lamanya. Bayangkan, untuk sampai ke Jeddah butuh waktu selama itu? Apa lagi pesawatnya berbadan besar yang mengangkut hampir 400 orang. Ada sih rasa takut  terjadi apa-apa dalam perjalanan. 

Saat itu cuaca tidak bersahabat. Hujan turun mengguyur dan beberapa kali terasa getaran yang cukup kuat. Awak pesawat mengingatkan penumpang untuk memakai kembali safety-belt.  Tiba-tiba terjadi lagi benturan kuat, terdengarnya seperti menabrak sesuatu. Penumpang panik. Ada yang kaget, ada yang berteriak, ada yang beristigfar. Dalam hitungan detik setelah itu pesawatnya seperti kehilangan daya dan tiba-tiba seperti ingin terjatuh.

"Ya Allah, lindungilah perjalanan kami, dan ampunilah dosa-dosa kami...," hanya itu yang terucap dari bibirku sembari terus berdoa.

Awak pesawat kembali menenangkan kami. Katanya kejadian seperti yang baru dialami tadi memang sering terjadi saat cuaca buruk. Kami sedikit tenang setelah mendapat penjelasan.

Selang beberapa jam kemudian terjadi lagi kepanikan di dalam pesawat. Tercium bau menyengat seperti ada yang terbakar.

"Waah...bau apa itu? Kebakaran ya?" salah seorang penumpang menyeletuk.

Kembali awak pesawat menenangkan dan memberi penjelasan. Bahwa bau itu berasal dari makanan di dapur yang gosong saat dipanggang.

Walaupun awak pesawat memberi penjelasan seperti itu, aku koq tak percaya ya? Menurutku pasti ada kabel listrik yang korslet.

Begitulah pengalamanku naik pesawat saat berangkat umroh. Sangat mencekam. Berbeda sekali pengalaman naik pesawat setelah selesai menunaikan ibadah umroh. Perjalanan kami sangat tenang dan menyenangan. Tak ada lagi kejadian yang mencekam dan membuat takut. 

Beberapa orang jemaah yang mengikuti umroh berseloroh, "Mungkin saat berangkat kita membawa setumpuk dosa. Kalikan saja dosa-dosa itu dengan 400-an orang, berat kali ya? Saat kita selesai umroh dosa-dosa kita dihapuskan. Kita kembali dalam keadaan suci karena telah mendapat pengampunan."

Entahlah...mungkin pernyataan itu ada benarnya ya?





Rabu, 22 Januari 2014

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-16: "Pedagang yang Curang"

      Minggu lalu aku ke pasar tradisional, belanja sayur-mayur dan kebutuhan dapur. Setelah semua belanjaan aku dapatkan, aku mampir ke jejeran pedagang buah. Ada banyak pedagang buah di pasar ini, yang menjajakan beragam jenis buah. Aku menghampiri seorang pedagang, bermaksud membeli buah jeruk. Setelah sepakat dengan harganya, 2 kg jeruk yang aku inginkan diwadahi dalam bungkusan plastik.

       Setiba di rumah, aku memeriksa kembali barang belanjaan sembari memilah-milahnya dan sebagian lagi dimasukkan ke dalam kulkas. Begitu aku membuka bungkusan buah jeruk, ada yang mengganggu perasaanku. 

       "Koq buahnya cuma segini ya? Kalau beli di supermarket dengan timbangan yang sama buah jeruk yang aku dapatkan lebih banyak jumlahnya?" aku menduga-duga. Aku berfikir pedagang itu curang memainkan timbangannya.

       Bukannya aku seuzon dengan pedagang itu, kenyataannya memang beda beli buah jeruk di supermarket dengan di pasar tradisional. Kalau di supermarket kecil kemungkinan untuk mengurangi timbangan. Soalnya supermarket kan jaga nama dan jaga image. Apalagi supermarket terkenal rugi dong kalau berulah? Pastilah pembeli ogah datang lagi belanja di situ.

       Pedagang itu telah mengurangi takaran untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Dia lupa bahwa Allah SWT membenci pedagang yang curang.

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu), orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam."

(QS. Al-Muthaffifin/83:16)

       

       

#1Hari 1 Ayat Hari Ke-15: "Menghargai Waktu"

Assalamualaikum wr wb...

Surat Al-Ashr (Menghargai Waktu):
"Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran."

Hai Sahabat, apakah kamu selama ini telah memanfaatkan waktu dengan baik? Sebaliknya, apakah waktumu selama ini tak termanfaatkan dengan maksimal? Kalau kamu termasuk golongan yang terakhir, aduh...jangan deh! Allah memberikan kesempatan kita hidup di dunia tentu ingin menjadikan kita sebagai manusia yang dapat menghargai waktu dengan dan dapat mengelola waktunya dalam ketaqwaan.

Sebagai muslim, kita dibimbing untuk mengelola waktu dengan baik. Jangan deh uring-uringan, menunda pekerjaan, atau menjadi pribadi yang pemalas. Sehingga waktumu menjadi sia-sia. Sungguh itu akan membuat dirimu merugi.

Kalau kita membaca tafsir Alquran pada surat Al-Ashr (Menghargai Waktu), ada beberapa point yang bisa kita ambil hikmahnya:

  • Sebagai muslim kita tentunya diharapkan dapat menjadi pribadi yang menghargai waktu
  • Bila manusia tak dapat mengelola waktunya dengan baik dia termasuk kedalam golongan orang yang merugi
  • Pergunakan waktu yang ada selama kita hidup untuk tujuan kebaikan dengan mengedepankan kebenaran yang dianjurkan agama
  • Pergunakan waktu dengan melakukan hal-hal positif sehingga waktumu tidak menjadi sia-sia
  • Jangan menunda lagi untuk tak menghargai waktu, karena waktumu asharmu sudah menanti.

Nah, tunggu apa lagi, mulai besok yuk...kita buka lembaran baru agar diri kita lebih berarti dan berguna bagi orang banyak. Pergunakan sisa hidupmu untuk kebaikan dan kebenaran. Keep spirit ...!!!





Selasa, 21 Januari 2014

#1Hari 1 Ayat Hari Ke-14: "Kun Fayakun"

       Sore itu adikku "Fery" berkata dengan mimik sedih, 'Kak, menurut dokter usiaku bisa bertahan 5 tahun lagi kalau aku menolak kemoterapi."

       Adikku itu tumbuh benjolan sebesar kelereng di leher kirinya. Setelah diperiksa dokter ternyata hasilnya menyatakan dia kanker nasofaring stadium dua. Kemoterapi dianjurkan sebagai rangkaian pengobatan yang harus dijalani. Karena adikku menolak sang dokter itu pun menyatakan bahwa usianya tak kan bertahan lama. 

       "Astagfirullahaladzim....  Hanya Allah yang bisa menentukan usia manusia. Kamu tetap semangat ya, Dik! Abaikan perkataan dokter itu. Kamu harus tetap semangat berobat ya!" aku memberi semangat pada adikku.

      Dua setengah tahun telah berlalu... Aku kembali terngiang percakapan dengan adikku saat itu. "Lima tahun lagi dia bisa menghirup udara ini." Ya Allah, benarkah demikian? Berarti sisa hidupnya tinggal dua setengah tahun lagi kah?

       Tidak! Sebagai muslim aku tetap berkeyakinan pada ketentuan Allah SWT. Termasuk soal kematian. Usia manusia tak bisa ditakar oleh datangnya suatu penyakit, sekali pun penyakit itu kanker ganas. Allah hanya menisyaratkan agar manusia itu berusaha mencari upaya penyembuhan suatu penyakit.

       Sore itu aku menjenguk adikku yang tergolek lemah di RS. "Sabar ya Dik, jangan putus asa. Berzikir dan memohonlah pada Allah untuk kesembuhanmu. InsyaAllah dengan izinNya penyakit yang menyerangmu akan diangkatNya dari dalam tubuhmu..." aku memberi support pada adikku.

         "Terimakasih, Kak...," adikku menjawab lirih hampir tak terdengar. Tumor yang tumbuh dalam rongga hidung dan tenggorokannya membuat adiku tak bisa bernafas dan bersuara.

          Support yang kutularkan pada adikku rasanya tak berlebihan. Aku teringat bacaan surat Yasin yang sering kulantunkan sehabis shalat, "Inama amruhu idza arada sya'ian an yaqula lahu kun fayakun." {sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadaNya: "Jadilah" maka terjadilah ia.} QS.Yasin:82.

       Ya Allah.... semoga masih ada harapan pada adikku untuk menghirup udara ini...




#1Hari 1 Ayat Hari Ke-13: "Menjaga Lisan"

Assalamualaikum wr wb...

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar ada suatu pepatah 'Mulutmu Harimaumu'?  Apa sih maksudnya? Mulut koq disama-samakan dengan harimau? Bukankah harimau itu adalah sosok binatang buas yang siap menerkam mangsa di depannya? Lalu apa hubungannya dengan mulut manusia ya?

Kalau kita cari di kamus peribahasa Bahasa Indonesia, pepatah "Mulutmu Harimaumu" kira-kira bermakna seperti ini: "Segala perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak dipikirkan daahulu akan dapat merugikan kita sendiri."

Dalam pergaulan sehari-hari kadang tanpa disadari kita pernah melontarkan perkataan yang membuat orang lain tersinggung. Padahal kita tak bermaksud menyinggung orang tersebut. Kenapa terjadi demikian? Karena setiap perkataan yang terlontar itu bisa berbeda dipahami. Kita bahkan tak tahu kalau orang yang mendengarnya tersinggung.

Pernah suatu hari aku melerai dua orang teman yang terlibat pertengkaran karena omongan. Si "A" menyatakan bahwa dia lebih baik tidak mengadopsi anak karena belum tentu anak tersebut berbakti pada dirinya kelak. Si "B" dengan argumennya membantah bahwa anak adopsi pun bisa berbakti pada orangtua angkatnya. Usut punya  ternyata si 'B" ini adalah anak adopsi.

Menyimak dari persoalan di atas, akibat dari perkataan yang terlontar bisa membuat seseorang tersinggung. Maka dari itu sebelum melontarkan perkataan haruslah melihat sikon yang ada. Bercanda pun jangan keblabasan. Kadang bercanda juga bisa membawa petaka.

Oleh karenanya kita mesti menjaga lisan agar orang lain tidak tersinggung dan melukai perasaan. Kita mesti pandai-pandai menjaga perkataan. Tutur kata yang tidak berkenan akan membawa petaka.

Sebagaimana Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar." (QS. Al-Baqarah:263)

Mulai sekarang mari sama-sama kita menjaga lisan. Yuk kita camkan pepatah "Mulutmu Harimaumu" agar si "Harimau" tak menerkam diri kita. Maksudnya, agar perkataan yang terlontar dari mulut kita tak membawa petaka untuk kita.






Senin, 20 Januari 2014

#1Hari 1 Ayat Hari Ke-12: "Ketika Musibah itu Datang"


Awal tahun 2014, bangsa kita seolah mendapat musibah nasional. Pada beberapa daerah ada yang terkena musibah banjir. Di Jakarta bahkan banjir telah melumpuhan aktifitas warga. Di daerah lainnya, letusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara seolah melengkapi musibah yang datang pada bangsa ini.

Di kotaku Palembang, curah hujan turun cukup tinggi. Pada beberapa wilayah kecamatan tertentu yang rawan banjir telah dibentuk posko-posko penanggulangan. Betapa hujan pun bisa menjadi ancaman bencana yang mendatangkan musibah.

Aku pernah bertugas di kelurahan yang rawan banjir  pada awal November 2012.  Saat itu hujan mengguyur dengan derasnya sehingga merendam rumah warga di kawasan km-12. Butuh waktu sampai tiga hari air yang menggenang surut kembali. Penyebab banjir itu banyak faktornya. Salah satunya adalah penimbunan kawasan karena adanya pembangunan gedung-gedung. Disisi lain karena ketiadaan daerah resapan air, seperti belum adanya waduk penampungan air. 

Apa pun penyebabnya yang jelas banjir pun bisa mendatangkan musibah. Berapa kerugian materi yang diderita warga tentu nominalnya tinggi. Belum lagi kondisi demikian bisa menjadi sumber penyakit menyerang.

Dalam menyikapi musibah yang datang, sebagai umat muslim tentunya kita harus menyikapinya dengan bijak. Musibah yang datang pada kita adalah ketentuan dari Allah SWT. Olehkarenanya bila itu terjadi pada diri kita janganlah sampai kita menjadi stres, mengeluh bahkan putus asa.

Sebagaimana firman Allah SWT berikut:
"Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun/64:11)

Menyimak ayat tersebut, sebagai muslim tentunya kita harus:
  1. Meyakini bahwa musibah adalah ketentuan Allah, kita pun harus sabar dan berserah diri hanya kepada Allah.
  2. Dibalik musibah yang datang tentu ada hikmah dibaliknya, bisa jadi Allah akan menaikkan derajat dan menggantikan apa yang hilang dengan sesuatu yang lebih baik.
 Apa pun bentuk musibah itu...  Semoga kita semua bisa tawakal bila musibah itu hadir dalam kehidupan kita....





Sabtu, 18 Januari 2014

KEB Di Mataku: "Indahnya Persahabatan Blogger"

     

        Keanggotaanku dalam grup Kumpulan Emak Blogger baru seumur jagung. Aku bergabung di grup ini belum genap satu tahun. Awalnya aku menemukan grup ini terpampang di wall akun facebook-ku. Setelah aku intip apa sih kegiatannya, ooh....good! Ternyata grup ini beranggotakan para emak yang hobi nulis. Nah...pas banget dengan hobiku yang juga suka nulis. Secara cita-cita memang aku ngebet banget jadi penulis. Mimpiku selama ini pengen banget karyaku dimuat di berbagai media. Tapi apa mau di kata, beberapa tulisan yang aku kirim di media lebih banyak dikembalikan daripada dimuat! Ugghh...!!! Kadang-kadang penolakan dari redaksi media membuat semangatku menulis jadi drop. 

       Aku gemar menulis sejak duduk di bangku SD. Awalnya sih karena aku suka banget baca. Baca apa saja, baik majalah, buku maupun koran. Melihat hobi bacaku, akhirnya orangtuaku berlangganan majalah Bobo. Aku juga suka baca Femina milik mama bahkan Intisari milik papaku. Kalau tak ada lagi yang dibaca bahkan potongan koran pembungkus pun kulalap untuk dibaca.

       Berbekal hobi baca itu aku pun coba-coba menulis. Waktu jamannya aku SMA pernah beberapa kali nulis untuk Majalah Gadis dan Anita. Waktu itu dapat honor 15-30 ribu per tulisan. Wah...senangnya bukan main. Apalagi dari honor itu aku bisa beli kemeja baru. Duh...bangga banget rasanya memakai kemeja baru hasil jerih payah nulis di majalah.

       Kini, sejak teknologi semakin berkembang, apalagi dunia IT semakin maju, tak perlu menunggu redaksi media menerima tulisan kita. Cukup nulis dan dipublish  di blog pribadi sudah cukup menyalurkan hobi nulisku. Aku tak perlu kecewa lantaran tulisanku ditolak. Semangat nulis tak ngedrop  lagi lantaran aku bisa sesukanya nulis sesuai dengan mood dan seleraku.

       Bagiku, membaca dan menulis adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam hidupku. Tanpa membaca dan menulis rasanya hidupku tak lengkap. Sejak bergabung dan diterima di grup Kumpulan Emak Blogger (KEB) aku serasa menemukan dunia baru. Menurutku semua anggota yang tergabung dalam KEB pinter-pinter dan jago nulis. Karena anggotanya sudah banyak otomatis gaya bahasa dan gaya kepenulisan pun beragam. Itulah yang membuatku nyaman bergabung dalam grup ini.

       Aku serasa mempunyai banyak teman dari seluruh penjuru, baik yang ada di Indonesia maupun yang bermukim di luar negeri. Aku seperti mempunyai keluarga besar yang begitu dekat di hati. Walau pun pada kenyataannya aku belum pernah sekali pun bertemu mereka tapi yang kurasakan adalah aku sangat dekat dengan mereka.

       Dalam grup KEB ini aku juga menemukan teman lama sesama blogger, seperti mbak Reni Judhanto dan mbak Anazkia. Berteman dengan banyak blogger yang punya hobi sama sangatlah menyenangkan. Yang ada dalam benakku saat ini ingin rasanya aku berjumpa mereka. Andai aku suatu saat nanti berkunjung ke kota mereka, apakah mereka juga ingin berjumpa denganku ya? Harapanku semoga mereka pun demikian juga menerima kehadiranku bukan saja di dunia maya tapi juga di dunia nyata. Ah...alangkah indahnya persahabatan blogger ya!!!

Buat grup Kumpulan Emak Blogger (KEB): "Selamat Ulang Tahun yang ke-2. Semoga grup ini semakin maju dan berkembang. Semoga lebih banyak lagi kegiatan yang diadakan, bukan hanya di Jakarta tapi juga di daerah-daerah."

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-11: "Jangan Memandang Rendah Orang Lain"

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum meerendahkan kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik dari mereka (yang merendahkan)..."
(QS. Al-Hujurat:11)


       Suatu hari aku bermaksud mengunjungi adik yang punya tiga anak balita. Adikku bercerita bahwa kini dia punya pengasuh baru untuk merawat anaknya. Secara adikku itu selain ibu rumahtangga dia juga seorang pendidik. Otomatis butuh asisten untuk menjaga sekaligus merawat anak-anaknya selagi dia beraktifitas di luar rumah.

       "Bunda...ini lho pengasuh yang baru untuk anak-anak. Namanya ibu Sawiyah," kata adikkku saat memperkenalkan sang pengasuh baru.

        Ibu pengasuh itu tersenyum sambil menunduk-nundukkan kepala padaku pertanda mengenalkan dirinya.

       "Oh ya...baguslah kalau begitu... Mudah-mudahan ibu Sawiyah bisa membantu untuk menjaga dan merawat keponakanku ya, Bu?" pintaku pada ibu paruh baya itu.

       "InsyaAllah..., Bu..."

       Ibu Sawiyah sering disapa "Uwak Pengasuh" oleh ketiga keponakanku. Anak-anak itu cepat sekali akrab dengan ibu Sawiyah. Mungkin karena beliau bisa mengambil hati anak-anak.

       Lain hari adikku bercerita kembali tentang sosok ibu Sawiyah. Mendengar cerita dari adikku, aku berkesimpulan sosok ibu Sawiyah adalah wanita kuat dan tegar. Sejak muda dia mencari nafkah sendiri. Sementara sang suami menderita stroke sejak lama. Kini suaminya sudah meninggal karena penyakitnya yang semakin parah. Dia memiliki seorang anak laki-laki yang kini kuliah di sebuah perguruan tinggi.

       Ketika ibu Sawiyah tak masuk kerja di rumah adik, aku pun bertanya apa sebabnya.

       "Ibu Sawiyah ijin Kak... Hari ini dia menghadiri wisuda sarjana S-2 anaknya." terang adikku.

       "Ooh ya? Jadi anaknya itu sekolahnya dah jenjang S-2 ya?" aku balik bertanya. Aku tak menyangka seorang ibu sederhana seperti beliau punya semangat tinggi untuk menyekolahkan anak hingga S-2. Apalagi dia selama ini tak pernah menceritakan perihal anaknya yang S-2 untuk dibangga-banggakan.

       Ketika aku menerima undangan pernikahan anaknya pun aku kembali dibuat terkagum-kagum pada sosok ibu Sawiyah. Calon mantunya pun seorang sarjana S-2 lulusan perguruan tinggi ternama di kotaku.

       Kupikir ibu Sawiyah adalah seorang ibu yang biasa saja. Ternyata dia begitu istimewa dimataku. Selain pekerja keras beliau itu rendah hati, tahu menempatkan diri, tak pernah ngomong tinggi, dan selalu ikhlas dalam merawat anak adikku.

       Saat ini ibu Sawiyaah telah dikarunai seorang cucu perempuan yang cantik. Anak mantunya sudah memiliki rumah dan pekerjaan yang bagus sebagai seorang dosen di perguruan tinggi tempat mereka menimba ilmu. Walaupun anak mantunya telah sukses namun ibu Sawiyah tak mau menumpang hidup pada anak mantunya.

       Hingga kini ibu Sawiya tetap setia pada pekerjaannya. Mengurus tiga keponakanku yang  tengah beranjak remaja.



      

Jumat, 17 Januari 2014

#1Hari 1 Ayat Hari Ke-10: "HIJABKU"


      Assalamualaikum wr wb...

      Kali ini aku akan berbagi cerita tentang hijabku. Setelah melalui proses yang cukup panjang, Alhamdulillah akhirnya aku mantap memakai hijab. Tepatnya setelah aku menunaikan ibadah umroh pada Februari 2010 yang lalu. Hidayah itu datang bukan atas paksaan atau mengikuti trend. Hidayah itu datang dari dalam diri,  aku seperti mendapat  bisikan seolah ada yang berkata, "Saatnya kini kamu berhijab!"

       Entah siapa yang membisikkannya, yang jelas bukan makhluk gaib atau semacamnya. Aku yakin yang membisikkannya itu adalah kata hatiku sendiri.

      Eh,  kenapa sih aku mengatakan melalui proses cukup panjang untuk berhijab? Ada ceritanya nih...
  1. Awalnya aku suka memperhatikan ibu-ibu berhijab di pengajian. Hijab yang mereka pakai biasanya seragam dan modelnya agak klasik. Modelnya itu agak kuno sih menurutku (maaf). Biasanya hijab yang dipakai ibu-ibu itu modelnya sudah dibentuk sehingga bisa langsung dipakaikan di kepala. Karena modelnya aku agak kurang suka secara otomatis aku rada-rada belum siap untuk menggunakannya. Tapi aku senang sih melihat tampilan mereka, sederhana dan agamis. Rasanya gimana gitu melihatnya saja aku koq merasa adem dan tenteram?
  2. Ada juga rekan-rekan di kantor yang sudah memakai hijab. Aku sering bertanya kepada mereka apa  motivasinya berhijab. Sebab aku lihat masih ada yang berhijab namun dilepas lagi. Ada juga yang berhijab tapi kelakuannya tidak mencerminkan wanita terhormat. Jawaban mereka beragam. Tapi rata-rata mereka menjawab bahwa berhijab adalah  mengikuti ketentuan agama yang dianut.
  3.  Perkembangan berikutnya, semakin banyak saja wanita muda berhijab. Apalagi anak-anak usia sekolah pun baik tingkat sekolah dasar dan menengah diperbolehkan berhijab. Banyak juga remaja mudia belia yang berhijab, tentunya hijab  dengan gaya remaja. Kayaknya cantik-cantik dan ekspresif sekali mereka itu. Masih remaja tapi sudah berani memantapkan hati untuk berhijab. Sementara aku koq masih ragu-ragu ya?
  4. Akhir-akhir ini dunia fashion pun turut punya peranan penting dalam mensyia'arkan hijab. Ditambah lagi banyak artis-artis yang notabene public figure memantapkan hati berhijab pula. Otomatis tingkah dan gaya si artis pun diadopsi oleh masyarakat luas dan mengikuti pola si artis. Dalam hal ini peran artis berhijab pun sangat banyak pengaruhnya dalam menularkan energi positif untuk berhijab. Good!
  5. Lama-lama...aku koq tambah pengen berhijab. Tapi, eit...hati koq masih bimbang ya? Aku tahu ini adalah ketentuan agama yang aku anut untuk diikuti. Tapi aku tak mau berhijab hanya latah dan mengikuti perkembangan jaman. Oh, no! Jangan sampai hatiku berfikir seperti itu. Hatiku belum mantap karena aku ingin hatiku suci dulu. Agar aku terhindar dari dosa dan fitnah. Aku tak mau ada orang berkomentar dengan nada sinis, "Behijab tapi koq kelakuannya begitu ya?"
  6. Lalu aku berfikir, kalau menunggu hati kita suci dan kelakuan kita benar lalu kapan dong berhijabnya? Bukankah kita ini manusia ciptaan Tuhan yang tak luput oleh khilaf dan dosa? Alangkah  naifnya kita bila menanti waktu yang tak pasti, entah kapan kita sebagai manusia menjadi manusia suci yang tak pernah berbuat khilaf? Rasanya mustahil ya kita tak pernah berbuat khilaf dan kesalahan?
  7. Hmm....semakin hari aku semakin ingin menemukan jawaban secepatnya. Aku banyak bertanya kepada ahli agama, berdiskusi dengan teman-teman yang aku anggap bisa memberi pencerahan, dan membuka kitab tafsir Alquran. Akhirnya aku menemukan ayat dalam Alquran berbunyi: "Hai Anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." (QS. Al-A'raf:26).

         Dan.... Bismillahirrahmanirrahim....akhirnya aku mantap mengenakan hijab dengan seragam kantor. Beragam ekspresi mereka saat melihat tampilan baruku. Beberapa teman ada yang pangling. Ada juga yang bertanya dengan nada menngolok-olok, "Eh, berhijab nih?"

         Apapun tanggapan mereka, apapun pemikiran mereka tentangku, yang jelas saat itu aku merasa terlahir kembali sebagai manusia yang suci.


 

Kamis, 16 Januari 2014

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-9: "Jangan Mengambil Milik Orang Lain"


       Assalamualaikum wr wb....

     Hai sobat, pernahkah kamu mendengar istilah kemaruk, serakah, tamak, loba? Istilah-istilah tersebut kurang lebih artinya sama, menggambarkan sifat seseorang yang menginginkan sesuatu lebih banyak untuk dirinya sendiri. 

       Dalam kehidupan sehari-hari kita kadangkala bertemu dengan orang yang memiliki sifat demikian. Mereka mungkin tak menyadari apa yang dilakukan itu adalah hal yang tak semestinya dikerjakan. Mengambil milik orang lain padahal itu bukan miliknya.

        Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Alquran sebagai berikut:
      
"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui."

(Al-Baqarah/2:188)

       Ayat di atas sesungguhnya adalah pedoman bagi kita agar dalam hidup ini terhindar dari perbuatan bathil yang dilarang agama. Mengambil milik orang lain adalah suatu perbuatan dosa yang tidak diperkenankan Allah SWT.

           Alkisah ada sebuah contoh seperti cerita di bawah ini...

       Dalam masyarakat  kita tentu pernah mendengar cerita tentang perseteruan sebuah keluarga gara-gara warisan. Dimana ada ahli waris yang semestinya mendapatkan bagian harta peninggalan orangtua namun tidak diberikan. Sebaliknya ada yang tidak berhak atas warisan tersebut nyatanya dia mendapatkan harta warisan yang bukan haknya. Sehingga kejadian tersebut memicu perselisihan antar keluarga besar. Bahkan keluarga tersebut terlibat permusuhan sehingga memutuskan tali silaturahmi.

       Astagfirullahal'adzim.... Sungguh harta benda telah membutakan keluarga itu. Mereka telah melakukan perbuatan melanggar aturan agama.  Padahal Allah SWT telah berfirman janganlah kita saling memakan harta sesama dengan jalan yang bathil.

       Mari sobat, dengan sisa masa yang entah sampai kapan kita mendiaminya untuk selalu mawas diri dan tafakur. Agar kita semua senantiasa dapat berfikir dan menimbang-nimbang mana yang baik dan mana yang buruk. Perbuatan baik kita tingkatkan, jauhkan yang dilarang agama. Keep the spirit high untuk meraih kebajikan di dunia...!!!
    
  

          

Rabu, 15 Januari 2014

#1 Hari 1 Ayat Hari Ke-8: "Jangan Malas Dong!"



 "Dia-lah nan menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rejeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan"

 (Alquran, surat Al-Muluk ayat 15)


       Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang sempurna. Sangat sempurna bila dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Diberikan akal budi untuk berfikir dan  bertindak. Diberikan nurani untuk menimbang mana yang baik dan buruk.

      Akal budi hendaknya dipergunakan sebaik-baiknya. Allah menciptakan manusia dengan kecerdasannya agar manusia bisa berlaku sesuai dengan norma. Dengan kesempurnaannya itu maka tidak salah bila dikatakan manusia memiliki kecerdasan hati dan kecerdasan berfikir.

      Subhanallah... Betapa hebatnya manusia itu ya? Sehingga, alangkah ruginya bila kesempurnaan yang dimiliki tak dikelola dengan baik. Sebagai contoh: masih ada orang yang malas berusaha, malas bekerja, malas mencari ilmu, malas berfikir, malas beraktifitas. Masih banyak orang yang suka berpangku tangan, tidak ada kreatifitas, lebih senang berpangku tangan. Maka, jangan heran bila kita masih banyak menemukan orang-orang yang demikian di sekeliling kita. Miris memang!

        Secara pribadi, aku kadang sedih melihat orang yang malas. Kadang aku berfikir tentang mereka, apakah yang ada dalam benak mereka itu sehingga mereka pemalas? Apakah mereka tidak tahu bahwa Allah dan Rasulullah sangat menganjurkan umatnya agar senantiasa berusaha dan bekerja?

          Aku pernah bertemu seorang teman lama yang hingga kini kehidupannya bisa dikatakan pas-pasan. Padahal dari segi pendidikan dia termasuk orang yang berpendidikan. Tapi mengapa dia  secara kualitas kehidupannya seperti itu? Usut punya usut ternyata dia merasa tak pernah ada pekerjaan yang cocok baginya. Dia hanya ingin kerja kantoran. Ogah kerja lain selain ngantor. Padahal rejeki dan penghasilan tak hanya kita dapatkan di kantor saja, bukan?

       Masih banyak jenis usaha lain sebagai ladang mencari penghasilan untuk menafkahi hidupnya dan keluarganya. Tapi dia tetap keukeuh, katanya dia tak punya bakat dagang, tak punya jiwa wirausaha, dan bla bla bla alasanlah. Aku hanya tersenyum miris mendengar alasannya.

       Pernahkan dia belajar dari seekor ulat yang bisa hidup di pohon yang mati? Kenapa ulat itu bisa hidup? Padahal pohon itu telah mati?  Tentu saja ada falsafahnya, bahwa selagi kita masih mau berusaha pasti ada jalan untuk kehidupan!

       Adalah suatu kemuliaan bila kita bisa bekerja dan berusaha secara maksimal. Menjadi suatu  kemuliaan bila kita bisa makan dari hasil jerih payah sendiri.  Bukan berpangku tangan atau bermalas-malasan menadahkan tangan, berharap belas kasihan dari orang lain. Astagfirullahaladzim.... semoga kita tidak termasuk kedalam golongan orang orang yang demikian ya?

       Bukannya aku bermaksud sok menggurui, mulai searang ...yuk kita kobarkan lagi semangat untuk berusaha dan bekerja. Kita tularkan energi positif kepada 'si pemalas'. Bila seekor ulat saja bisa hidup pada sebatang pohon yang mati, kita juga pasti bisa dong mencari kehidupan! Masa' kalah sama si ulat? Yuk kita berusaha, jangan malas ya..!!!



Selasa, 14 Januari 2014

#1 Hari 1 Ayat Hari ke-7: "Berbagi Untuk Sesama"

       Laki-laki itu membuka dompetnya. Memeriksa lembar demi lembar rupiah yang terselip di dalamnya.

       "Hmmm.... Uangku tinggal duaratus ribu perak," lelaki itu menggumam. Sedikit gamang dia menutup kembali dompet itu. Apakah harus membantu Pak Udin atau tidak? Sementara masih sepuluh hari lagi baru gajian. Uang yang tersisa di dompet itu hanya cukup untuk membeli bensin motor.

       Pikirannya melayang lagi pada Pak Udin, tetangga yang mengontrak rumah di sebelah. Sudah tiga hari anaknya terbaring dengan kaki terbungkus perban. Korban tabrak lari. Anak itu hanya diurut dukun patah. Namun luka infeksi nampaknya menjalar dalam tubuhnya, sehingga anak itu demam tinggi.

       Pak Udin, buruh panggul di pasar tradisional pagi tadi mendatangi dirinya. Bermaksud meminjam uang untuk berobat anaknya.

       "Saya minta tolong sama Pak Armidi. Sekiranya bisa bantu meminjamkan uang  untuk berobat anak saya. Nanti kalau saya sudah manggul lagi di pasar uang yang saya pinjam nanti dikembalikan secepatnya, Pak...," lelaki tetangga sebelah itu mengiba.

       "Aduh... Maaf sekali Pak. Saat ini saya tidak punya uang. Saya baru saja membayar tagihan listrik, PAM, telepon," lelaki itu berkata dengan berat hati.

       "Ooh iyalah Pak, tak mengapa, mungkin saya cari pinjaman ke tempat lain saja. Makasih Pak," tukas Pak Udin berpamitan.

       Braakkkk...!!! Tiba-tiba benturan keras mengagetkannya. Sebuah sepede motor menyalip di kanan dan menyenggol motor laki-laki itu. Spontan motor laki-laki itu oleng dan akhirnya kedua motor bersenggolan meluncur ke pinggir jalan.

       Seketika mobil dan motor yang berlalu lalang di jalan mendadak menginjak pedal rem. Membanting kemudi, menghindar agar tak terjadi kecelakaan beruntun.  Orang-orang pun ramai berkerumun untuk memberi pertolongan.

       Untunglah tak terjadi kecelakaan beruntun. Laki-laki itu hanya tersungkur dengan luka lecet di kaki dan lengan kirinya.

       "Ugghhh....," laki-laki itu meringis kesakitan. Pagi itu dia mendapat musibah. Pikirannya kembali melayang pada sosok Pak Udin. Seandainya dia menolong Pak Udin pagi tadi mungkin musibah ini tak terjadi, pikirnya.

       "Ya Allah... ampuni hambamu ini, yang tak bisa menolong dan berbagi pada orang lain yang membutuhkan hamba,"  gumamnya dalam hati. Bayangan Pak Udin dengan mimik memelas telah menyentuh nuraninya.

       Laki-laki itu beringsut, mengumpulkan tenaganya untuk berdiri. Dengan menahan rasa sakit dia menghidupkan mesin motor dan memacunya ke rumah Pak Udin. Selembar uang seratus ribuan diserahkan ke Pak Udin. "Untuk berobat anak Bapak. Ambil saja tak usah dikembalikan ya Pak."

       Laki-laki itu kemudian berlalu meninggalkan Pak Udin yang masih tampak bingung menerima uang pemberiannya.


PS: Seperti yang diriwayatkan dalam Alquran (surat Al-Maidah/5:2)

      "Hendaklah kamu tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah keras dalam hukuman-Nya"

 

            

Senin, 13 Januari 2014

# 1 Hari 1 Ayat Hari ke-6: "Kasih Orangtua Tak Pernah Pupus"



       Pagi itu.....

     Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Masih pagi, tapi papaku sudah bersiap-siap keluar rumah. Seperti biasanya, setiap hari papa ke rumah sakit. Papa menemani adikku Fery yang dirawat di sebuah rumah sakit karena menderita kanker stadium empat.

     Usia papaku 73 tahun, sudah sepuh. Tapi semangat beliau ikut merawat adik sangat tinggi. Miris memang! Seorang ayah berusia lanjut, sehat wal afiat malah merawat anaknya yang menderita sakit menahun. Sejak divonis kanker stadium empat, praktis adikku tak bisa beraktifitas lagi. Penyakit kanker telah melumpuhkan syaraf motoriknya. Dia hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur.

         Pagi itu....

     Papaku dengan semangatnya melangkahkan kaki menuju rumah sakit dengan satu pengharapan. Berharap anaknya sembuh dari penyakit yang diidapnya. Sebagaimana doa yang senantiasa dia panjatkan dalam tiap shalatnya.

         Pagi itu...

         Mataku sedikit sembab. Hatiku begitu sedih melihat papa yang mestinya dia tak lagi direpotkan dengan kesibukan seperti itu. Mestinya papaku mengisi hari-hari masa tuanya dengan gembira, bukan dengan kesedihan seperti yang kusaksikan pada pagi itu...

     Ya Allah....semoga Engkau memberikan kesehatan, kelapangan hati, memberi kesempatan untuk bahagianya papaku. 

       Ya Allah....semoga Engkau  menjaga ayahku agar beliau tetap semangat merawat adikku yang menderita sakit. 

        Ya Allah....semoga kesedihan mendalam yang tak pernah ditampakkannya tak membuat harapannya pupus untuk kesembuhan adikku.

         Satu pelajaran lagi dalam hidupkku, kasih orangtua sepanjang masa, kasih orangtua tak pernah lekang oleh waktu. Di mana pun, kapan pun dia tetap akan mencintai dan mendoakan ana-anaknya.


      Pagi itu....hatiku begitu plong setelah mendoakan papaku, "Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiirro" (Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihanilah mereka keduana, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil).




Jumat, 10 Januari 2014

# 1 Hari 1 Ayat Hari ke-5: "Bocah Kecil itu Titipan Allah"

            Sudah beberapa hari ini hari-hariku direpotkan mengurus dua bocah kecil, Aldy dan Akbar. Mereka adalah keponakanku berusia 2 tahun dan 4 tahun. Papa mereka saat ini dirawat di rumah sakit karena menderita kanker nasofaring stadium empat.
     
            "Huk...huk...huk... Bunda, adek mau pipis...!"

            "Bunda, kakak bikinin susu!"

            "Gendong Bunda..."

            "Bunda....ikut pergi Bunda... Jangan tinggalkan kakak sama adek pergi...huk..huk..huk.."

Begitulah keriuhan rumahku setiap pagi penuh dengan permintaan ini-itu dari dua bocah kecil keponakanku. Kehadiran mereka tak kupungkiri kadang bikin ribet. Kalau selama ini hari-hariku berjalan adem ayem, kini aku harus repot melayani mereka setiap hari. Sejak subuh aku sudah harus melayani, mempersiapan kebutuhannya selama aku tinggal bekerja. Setelah aku tiba di rumah jangan harap aku bebas tugas. Kedua bocah itu telah menanti minta perhatianku.

            Huggghh...hari-hari melelahkan, karena selama ini memang di rumah aku hanya berdua dengan suami. Sejak menikah hingga kini kehadiran buah hati belum juga kami dikaruniai momongan. Walau segala usaha telah kamu coba, baik, medis, herbal, tradisional, namun belum membuahkan hasil hingga kini. Bagaimana perasaaanku? Tentu dong aku merasa jengah kala orang-orang mempertanyakan belum hadirnya sang anak dalam pernikahanku.

           "Bunda....mainan kakak ditarik adek.... Bunda....kakak nggak mau main sama adek lagi...,huk huk huk...." teriak Aldy sambil menangis. Sementara sang adik masih menarik mobil-mobilan milik kakaknya.

          Keriuhan khas anak-anak kembali menggema di rumahku saat aku baru tiba di rumah. Kadang aku ingin memarahi mereka mengingat ulah mereka yang kadang bikin aku jengkel. Namun tatapan bola mata mereka yang bening penuh harap minta perhatian memupus semua amarah yang timbul. Apalagi kala kuingat pesan papa mereka, "Kak, kalau aku meninggal tolong jaga anak-anakku Aldy dan Akbar. Tolong bantu mamanya membesarkan mereka hingga dewasa..."

           "Aldy... Akbar..., sini sayang... Bunda kangen kalian...," aku memeluk kedua bocah itu yang kemudian berlari menghambur ke arahku.

           "Kakak sayang Bunda juga...."

           "Dedek juga sayang Bunda...."

          Suatu pelajaran bagiku, kasih sayang tak hanya bisa kita curahkan hanya pada anak kandung. Tanpa kehadiran buah hati aku dan suami masih bisa mencurahkannya pada keponakan-keponakan. Entahlah, apakah papa mereka panjang umurnya kelak? Yang jelas, bila ajal menjemput papa mereka, Aldy dan Akbar tetaplah 'anak-anakku' juga....


Doa Nabi Zakaria memohon diberikan anak yang shaleh:

"Rabbana hablana min azwajina wa zurriyatina qurrata a'yunin, waj'alna lil muttaqiina imaama"

(Ya Tuhan kami, anugerakanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa). (Al-Furqan: 74)

Doa Nabi Ibrahim ketika belum mempunyai anak:

"Rabbi hablii min ash-shalihiin"

(Ya Tuhanku, anugerakanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh). (As-Shaffat: 100)







Kamis, 09 Januari 2014

#1 Hari 1 Ayat Hari ke-4: "Niatkanlah"

        Assalamualaikum wr wb...

       Kali ini, aku  ingin berbagi cerita kepada sahabat blogger... Tentang sebuah keinginan yang sangat kuharapkan....

       Dulu, aku sangat memimpikan bisa berangkat haji pada usia muda. Sering aku melihat liputan ibadah haji di televisi. Hatiku bergetar. Terbersit dalam pikiranku, "Kapan ya aku bisa ke sana juga?"
       
       Saking pengennya, aku bahkan sering membaca tulisan-tulisan mengenai ritual ibadah haji. Saat membacanya aku bahkan merasa seolah aku sedang benar-benar melakukan ibadah haji itu. Tapi apa dayaku, untuk berangkat ke sana butuh dana yang cukup besar. Sementara secara finansial kemampuan ekonomiku belum terlalu mapan.
       
        Alhamdulillah..., akhirnya Allah mengabulkan keinginanku. Aku bisa menginjakkan kaki ke Mekkah. Memang bukan naik haji tetapi berumroh. Awal Januari 2010 bisa menunaian ibadah umroh bersama suami. Suatu hal yang tak pernah terbayangkan olehku bagaimana bisa ke sana? Karena secara materi aku belum mampu.

       Ternyata, Allah Maha Besar... Mengabulkan keinginanku tanpa pernah kuduga sebelumnya bagaimana aku bisa sampai ke Mekkah. Aku bahkan bisa ke sana lantaran mendapat semacam reward atas pekerjaan yang kulakukan di kantor. Artinya, aku bisa berangkat umroh dibiayai kantor dan tak mengeluarkan dana pribadi.

       Mungkin, kalau aku tak pernah berniat ingin ke Mekkah, Allah pun tak kan memberi jalannya. Oleh karena itu....berniatlah bila kamu mempunyai mimpi seperti aku. InsyaAllah ada jalannya...


 ".....dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji..." 
                            (QS. Al-Hajj [22]; ayat 27-28)





Jumat, 03 Januari 2014

# 1 Hari 1 Ayat Hari ke-3 :"Mensyukuri Nikmat Allah"

       "Rabbi auzi'nii an asykura ni'matakallati an'amta 'alayya wa 'alla walidayya wa an a'mala saalihan tardaahu wa adkhilnii birahmatika fi 'ibaadikas saalihin."

       (Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku m engerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."
(Q.S. an-Naml [27]: 19)


       "Ugh... Sial!" umpatku kesal.  
Mobil tuaku bertingkah lagi. Mogok. Aku melirik gelisah ke arloji yang melingkar di tangan kikiku. Hampir jam tujuh pagi. Artinya aku pasti telat tiba di kantor. Padahal tiap Senin pagi digelar apel di kantor. Mana bos baru lagi! 
       "Ugh...pasti aku kena tegor nihh..!! Aku gak bisa ikut apel pagi ini!!' gerutuku pada suami yang tengah sibuk mengutak-atik mobil tua milik kami.

       "Sabar sayang... Ini Kakak sedang betulin. Mudah-mudahan bisa jalan lagi." sahut suamiku. Tangannya yang kotor kena oli tak menyurutkan semangatnya menjadi montir dadakan.

       Setelah hampir setengah jam akhirnya mobil tua itu bisa dihidupkan. Aku bergegas naik dan menyuruh sang suami untuk tancap gas.

       "Kamu kan tahu sendiri Sayang, mobil ini kan gak bisa kenceng gasnya. Kalau kenceng ntar mesinnya panas dan mogok lagi dong kita..."  dengan santai suamiku menyahut.

       "Makanya aku pengen beli mobil yang bagus Kak, biar mobil kita nggak mogok terus seperti tadi!"

       Seperti biasa, suamiku hanya tersenyum melihat isterinya ngomel minta mobil baru. "Sayang, beli mobil baru bukan itu solusinya. Mobil tua ini rahmat bagi kita."

       "Maksud Kakak apa sih?"

       "Hmmm....mobil butut ini melatih diri kita agar bisa lebih sabar, bersikap tenang dan ikhlas... Mobil butut ini telah berjasa... tak kehujanan dan kepanasan karena teriknya matahari. Itulah rahmatnya bagi kita Sayang..."

         Glek! Tiba-tiba aku menjadi malu. Hatiku kerdil banget!



       






#1 Hari 1 Ayat Hari ke-2: "Di Masjidil Haram Kutemuan Hidayah-Mu"

       Sebagai seorang muslimah tentunya aku harus menjalankan apa yang dianjurkan dalam agamaku. Termasuk membaca kitab suci Al-Quran berikut terjemahannya. Namun apa dikata, lidahku yang kelu termakan usia seakan menjadi penghalang untuk melantunkan ayat-ayatnya. Padahal aku sudah belajar membaca Al-Quran sejak kecil. Bahkan orangtuaku memanggil guru mengaji di rumah. Tapi kenapa ya koq aku tak pernah mengamalkannya? Aku bahkan malas sekali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, padahal itu sangat dianjurkan dalam agamaku.

       Hingga suatu hari hidayah itu aku dapatkan...

Akhir Januari 2010, aku mendapatkan kesempatan beribadah umroh bersama suamiku. Setelah selesai melaksanakan tawaf, sa'i dan tahalul, aku beristirahat di area Ka'bah. Sambil menunggu suamiku mencukur rambutnya, aku menepi duduk bersama jemaah wanita yang lain. Tanpa komando kami meraih Al-Quran dan mengaji. Awalnya aku agak kaku mengaji, masih terbata-bata mengeja satu persatu kalimatnya. Tapi...hey.., lama-lama aku merasakan sesuatu seperti energi yang begitu kuat mengalir. Lama-lama aku mulai lancar melantunkan ayat-ayatnya. Entah dari mana datangnya energi kuat itu hingga aku bisa selancar itu mengaji? Padahal sebelum ini aku bahkan sangat jarang menyentuh Al-Quran untuk dibaca?

Oh...Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang selama ini lalai menjalankan perintah-Mu... Tak terasa butiran bening mengalir di sudut mata... Aku sedih dan sekaligus bahagia. Sedih karena selama ini lupa Al-Quran, bahagia kini aku bisa lancar membaca Al-Quran.

Alhamdulillah.... Terimakasih Ya Allah...di Masjidil Haram aku mendapatkan hidayah dari-Mu.

     

Doa agar diberi kemudahan belajar dan membaca Al-Quran:

"Allohummar hamni bilqur'aan - Waj'alhu lii imaamaw wanurow wahudaw warohmah - Allohumma dzakkirnii minhu manasiitu - Wa'allimni minhumaa jahiltu - Warzuqnii tilaawatahu aana allaili wa aana annahaar - Waj'alhu lii hujjatan yaa robbal alamiin."

(Ya Allah kasihanilah kami dengan membaca Al-Quran, jadikanlah Al-Quran bagi kami sebagai panutan, cahaya, petunjuk dan rahmat. Ya Allah ingatkanlah kami andaikan terlupa dari ayat-ayat Al-Quran, ajarkan kami dari padanya yang kami belum tahu, karuniakanlah kami untuk selalu membaca Al-Quran ditengah malam dan siang hari jadikanlah Al-Quran bagi kami sebagai pedoman Wahai Tuhan semesta alam)


Rabu, 01 Januari 2014

#1 Hari 1 Ayat Hari ke-1 : Surat Al-Fatihah

       Assalamualaikum wr wb...

Akhirnya, tulisan pertamaku di blog yang aku kelola ini terbit juga bertepatan dengan hari pertama pada tahun 2014. Alhamdulillah, semangat ngeblog bangkit lagi terutama setelah ngintip ke blognya Mbak Prima Dita ada lomba yang begitu mengena di hatiku. Yah...selama ini aku pengen banget ngikutin kontes menulis atau GA yang diadakan teman-teman blogger. Namun karena sikon terutama waktu dan semangat menulis yang sering ngedrop, aku seringkali urung berpartisipasi. Padahal, dengan mengikuti even kontes atau GA bisa memupuk skill menulis lho...!

       Aku langsung memutuskan ikut kontes ini karena aku memang suka membaca Al-quran, terutama habis shalat subuh. Setiap hari aku mesti membaca 2 halaman. Bukan bermaksud riya'....tapi memang secara rohani ada yang kurang lengkap dalam hidup kalau sehari tak membaca Al-quran. Walau nyatanya aku ini juga manusia yang tak luput dengan kealpaan, sesekali aku pernah tak membaca Al-quran setelah shalat Subuh. Alasannya klasik, bangun kesiangan, buru-buru ingin berangkat kerja, sibuk beres-beres rumah sebelum berangkat ngantor, dan bla bla bla alasan.

       Saat aku melupakan baca A-quran, maka....ada sesuatu yang 'kurang' dalam hidupku hari itu. Ada saja kejadian yang membuat hidupku tak nyaman. Kenapa demikian? Karena membaca Al-quran sudah menjadi suatu kebutuhan dalam hidupku. Aku butuh ketenangan dalam hidup, dan dengan membaca Al-quran aku menemukan ketenangan dan kedamaian dalam hidupku.

       Okey, hari ini aku memulai kontesnya Mbak Prima Dita dalam gelaran kontes 1 Hari 1 Ayat. Hari pertama ini aku mulai dengan "Surat Al-Fatihah". Kenapa dengan surat Al-Fatihah? Surat Al-Fatihah adalah surat pembukaan dalam kitab suci Alquran. Surat Al-Fatihah sering disebut sebagai intisari Al-quran. Rukun shalat pun tidak lengkap kalau tidak membaca surat Al-Fatihah. Masing-masing ayatnya pun memiliki arti sebagai berikut:

1. Ayat 1: Bismillahir-rahmanir-rahim(i). 'Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang'.
2. Ayat 2:  Al-hamdu lillahi rabbil-'alamin(a). 'Segala Puji Bagi Allah, Tuhan semesta Alam'.
3. Ayat 3:  Ar-rahmanir-rahim(i). 'Maha Pemurah lagi Maha Penyayang'.
4. Ayat 4:  Maliki yaumid-din(i). 'Yang menguasai hari pembalasan'.
5. Ayat 5:  Iyyaka na'budu wa iyyakanasta'in(u). 'Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan'.
6. Ayat 6:  Ihdinas siratal-mustaqim(a). 'Tunjukkanlah kami jalan yang lurus'.
7. Ayat 7:  Siratal-lazina an'amta'alaihim, gairil-magdubi 'alaihim wa lad-dallin(a). ' (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat'.

       Begitulah arti dari ayat-ayat dalam surat Al-Fatihah. Bila kamu ingin membaca Al-quran dan membaca juga terjemahan artinya, insyaAllah kamu akan menangis saat melantunkan ayat-ayat sucinya. Karena hatimu telah terpanggil untuk selalu dan selalu mengingat Allah SWT ...

         Dan bila kamu telah membaca Al-quran setiap hari dan menjadikannya sebagai pedoman hidupmu, insyaAllah setiap hari yang kamu lalui akan menjadi barokah. Hmm...alangkah indahnya hidup yang demikian, bukan? Okey teman, yukkk...kita membaca Al-quran...!!