IKLAN

Sabtu, 21 November 2015

Bocah Kecil dan Payungnya


Perutku mulai melililit pertanda lapar. Kulririk arloji di tangan. Hampir menunjukkan jam 12 siang. Hmm..pantesan sudah kriuk-kriuk kencang. Kurapikan berkas-berkas yang ada di meja kerja. Sebentar lagi jam istirahat siang. Aku mau makan di luar saja di sebuah mall dekat kantor. Kebetulan di bank itu ada bank pemerintah. Aku mau ke bank itu sekedar mengecek transferan yang masuk. Ssstt...transferan itu hasil ngejob review lho... Jumlahnya tak seberapa tetapi bisa menjadi penyemangat untuk terus ngeblog secara konsisten.

Dengan menumpang angkot, tak begitu lama sampailah di mall yang kutuju. Karena perutku sudah nagih minta diisi, aku mampir di resto fastfood. Menu sederhana, satu porsi berisi nasi, ayam dan secangkir softdrink. Sudah gitu saja menunya, sudah membuat perutku kenyang. Rasa kenyang itu setara dengan uang tigapuluh ribuaan.

Usai mengisi perut, aku bergegas menuju konter bank yang kumaksud. Untunglah siang itu antrian tidak banyak. Setelah ada satu yang antri, nomorku dipanggil dan langsung dilayani. Hanya mencetak print-out di buku rekening tabungan saja koq. Urusan di bank selesai, aku buru-buru keluar mall. Uppss...ternyata di luar sana hujan deras. Nah lho...gimana mau balik kantor? Sementara waktu terus beranjak. Jam istirahat siang sudah hampir berakhir.

Ternyata di pelataran mall banyak anak kecil menawarkan jasanya sebagai ojek payung.

     "Bu, ojek payung Bu...," seorang anak kecil menghampiriku.

     "Hmm...iya boleh, ntar ibu diantar sampai ke seberang jalan ya," pintaku pada anak kecil itu.

     "Lho...kamu koq nggak pake payung juga?" tanyaku

     "Nggak apa-apa Bu, kan sudah terlanjur basah nih..." jawabnya singkat.

Hujan siang itu cukup deras. Sehingga butuh kehati-hatian berjalan menyeberangi jalan agar tidak terpeleset.

     "Kamu tidak sekolah ya?" tanyaku ingin tahu.

     "Saya sudah pulang sekolah Bu. Di SMP "X" kelas 1."

     "Kamu tidak dimarahin orangtuamu jadi ojek payung?" lanjutku ingin tahu lebih dalam.

    "Tidak Bu, kan uangnya aku kumpulin untuk bayar SPP sekolah. Tuh...warung kecil itu warung bapakku," si bocah itu bercerita menunjuk ke arah pojokan jalan. 

    "Ohh....," hanya itu kata-kata terucap dari bibirku. Aku tersentuh dengan kegigihan anak ini. Dari sorot matanya aku tahu dia jujur.

    Aku tak dapat berkata apa-apa selain membuka dompet dan selembar uang sepuluh ribu kuberikan padanya.

     "Ini buatmu ya," ucapku singkat.

     "Ohya..terimakasih Bu," si bocah agak terkejut menerima pemberianku. Mungkin dia tak menyangka akan mendapat uang sebanyak itu dari hasil membantuku menyeberangi jalan dan menerobos hujan yang deras. Hitung-hitung berbagi rejeki, kan abis nerima pembayaran ngejob review.

    Di dalam angkot aku masih merasakan trenyuh, teringat perjuangan anak itu. Disela-sela waktunya mencari tambahan uang untuk membantu orangtuanya bayar SPP. Doaku, semoga kamu menjadi anak yang sukses ya.....

gambar dipinjam dari SINI