Pagi ini, setibanya di kantor, aku melihat ada sesuatu yang tak biasa. Di atas meja kerjaku, aku menemukan sebuah amplop coklat tak beralama...
Pagi ini, setibanya di kantor, aku melihat ada sesuatu yang tak biasa. Di atas meja kerjaku, aku menemukan sebuah amplop coklat tak beralamat. Kuraih amplop itu, kubuka, kuperiksa isinya. Hmm.. ternyata ada dua lembar surat dan.. selembar cek!
"Haa..? Apa-apaan ini?! seruku saking terperanjatnya setelah mengetahui isi amplopnya ada selembar cek senilai 2,3 milyar!
Segera aku memanggil salah satu staf, dan bertanya, "Ida, dari siapa ya amplop ini?' tanyaku seraya menunjukkan amplop tersebut padanya.
"Saya juga tidak tahu, Bu. Tadi begitu saya datang amplop itu sudah ada di meja Ibu."
"Coba panggilkan Pak Rahman, mungkin dia tahu siapa yang datang ke kantor ini tadi," aku menyuruh Ida memanggil Pak Rahman, penjaga kantor kami.
Beberapa menit kemudian Pak Rahman datang tergopoh-gopoh. "Ada apa ya Bu?"
"Pak Rahman tahu siapa yang menaruh amplop ini di atas meja saya?" tanyaku kemudian.
Selanjutnya, Pak Rahman menjelaskan bahwa dialah yang menaruh amplop itu di atas meja itu. Amplop itu ditemukan oleh anak tetangga dekat kantor. Sang Bundanya mengira itu amplop milik kantorku yang tercecer. Amplop itu ditemukan Dila, anaknya Bu Fitri di pinggir jalan sekitar 10 meter dari kantorku.
"Pak Rahman, amplop ini bukan dokumen kantor kita. Isinya surat-surat penting, nih! Coba panggil Bu Fitri dan saya akan memanggil Pak Babinkamtibmas ke sini."
Beberapa menit kemudian, Bu Fitri dan Pak Babinkamtibmas datang. Aku jelaskan kepada Pak Babinkamtibmas, kronologis amplop tersebut mengapa ada di mejaku. Aku menyarankan kepada Bu Fitri agar dokumen tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian melalui Pak Babinkamtibmas.
Setelah terjadi serah terima, baru deh hatiku tenang. Betapa tidak? Gugup rasanya mendapati ada cek nilainya bermilyar-milyar ada di meja kerjaku. Dari mana datangnya? Wong itu kan bukan hak aku apalagi untuk berfikir menguasainya.
"Bu, kayaknya cek ini sudah jatuh tempo. Di sini tanggalnya 29 Januari 2009."
"Iya Pak, biar sudah jatuh tempo tetapi lebih baik diamankan di kantor polisi saja!"
Aku yang masih diselimuti perasaan gugup, menceritakan hal tersebut pada Faisal, salah seorang staf lagi yang baru datang kemudian.
"Sal, tadi di atas meja Ibu menemukan amplop berisi sebuah surat keterangan tanah yang dikeluarkan oleh Kepala BPN Manokwari, terus sebuah surat keterangan ijin usaha atas nama Haji XXXXX, dan selembar cek senilai 2,3 milyar atas nama Haji XXXXX. Sempat gugup juga Ibu. Tapi surat tersebut sudah diserahkan kepada Pak Babinkamtibmas untuk diamankan di kantor polisi."
Aku sempat heran juga melihat mimik wajah Faisal yang saat mendengarkan ceritaku tidak tegang apalagi gugup sepertiku. Dia malah menjawab santai sambil mesem-mesem, 'Oh.. itu itu sih modus lama, Bu!"
"Modus lama? Maksud kamu ini seperti modus penipuan begitu?"
"Ya, begitulah Bu. Ada nggak nomor teleponnya tercantum?"
"Ya, ada. Tapi nomor hape!"
"Nah, itulah Bu. Ntar kita menghubungi nomor hape tersebut, saat itulah ntar kita dihipnotis dari jauh. Dan bisa saja kita jadi korbannya!"
"Oh, begitu ya?" hanya itu ucapan yang meluncur dari bibirku.
Hah, brengsek juga ya orang itu. Siapa pun pelakunya aku akan mengutuknya. Untung deh, aku selamat dan tidak menjadi korbannya. Dalam hati aku malu juga sama Faisal, koq bisa-bisanya aku mempercayai skenario penipu itu. Hampir aku terperdaya oleh tipuan orang antah berantah itu..! Hugh..!!
"Haa..? Apa-apaan ini?! seruku saking terperanjatnya setelah mengetahui isi amplopnya ada selembar cek senilai 2,3 milyar!
Segera aku memanggil salah satu staf, dan bertanya, "Ida, dari siapa ya amplop ini?' tanyaku seraya menunjukkan amplop tersebut padanya.
"Saya juga tidak tahu, Bu. Tadi begitu saya datang amplop itu sudah ada di meja Ibu."
"Coba panggilkan Pak Rahman, mungkin dia tahu siapa yang datang ke kantor ini tadi," aku menyuruh Ida memanggil Pak Rahman, penjaga kantor kami.
Beberapa menit kemudian Pak Rahman datang tergopoh-gopoh. "Ada apa ya Bu?"
"Pak Rahman tahu siapa yang menaruh amplop ini di atas meja saya?" tanyaku kemudian.
Selanjutnya, Pak Rahman menjelaskan bahwa dialah yang menaruh amplop itu di atas meja itu. Amplop itu ditemukan oleh anak tetangga dekat kantor. Sang Bundanya mengira itu amplop milik kantorku yang tercecer. Amplop itu ditemukan Dila, anaknya Bu Fitri di pinggir jalan sekitar 10 meter dari kantorku.
"Pak Rahman, amplop ini bukan dokumen kantor kita. Isinya surat-surat penting, nih! Coba panggil Bu Fitri dan saya akan memanggil Pak Babinkamtibmas ke sini."
Beberapa menit kemudian, Bu Fitri dan Pak Babinkamtibmas datang. Aku jelaskan kepada Pak Babinkamtibmas, kronologis amplop tersebut mengapa ada di mejaku. Aku menyarankan kepada Bu Fitri agar dokumen tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian melalui Pak Babinkamtibmas.
Setelah terjadi serah terima, baru deh hatiku tenang. Betapa tidak? Gugup rasanya mendapati ada cek nilainya bermilyar-milyar ada di meja kerjaku. Dari mana datangnya? Wong itu kan bukan hak aku apalagi untuk berfikir menguasainya.
"Bu, kayaknya cek ini sudah jatuh tempo. Di sini tanggalnya 29 Januari 2009."
"Iya Pak, biar sudah jatuh tempo tetapi lebih baik diamankan di kantor polisi saja!"
Aku yang masih diselimuti perasaan gugup, menceritakan hal tersebut pada Faisal, salah seorang staf lagi yang baru datang kemudian.
"Sal, tadi di atas meja Ibu menemukan amplop berisi sebuah surat keterangan tanah yang dikeluarkan oleh Kepala BPN Manokwari, terus sebuah surat keterangan ijin usaha atas nama Haji XXXXX, dan selembar cek senilai 2,3 milyar atas nama Haji XXXXX. Sempat gugup juga Ibu. Tapi surat tersebut sudah diserahkan kepada Pak Babinkamtibmas untuk diamankan di kantor polisi."
Aku sempat heran juga melihat mimik wajah Faisal yang saat mendengarkan ceritaku tidak tegang apalagi gugup sepertiku. Dia malah menjawab santai sambil mesem-mesem, 'Oh.. itu itu sih modus lama, Bu!"
"Modus lama? Maksud kamu ini seperti modus penipuan begitu?"
"Ya, begitulah Bu. Ada nggak nomor teleponnya tercantum?"
"Ya, ada. Tapi nomor hape!"
"Nah, itulah Bu. Ntar kita menghubungi nomor hape tersebut, saat itulah ntar kita dihipnotis dari jauh. Dan bisa saja kita jadi korbannya!"
"Oh, begitu ya?" hanya itu ucapan yang meluncur dari bibirku.
Hah, brengsek juga ya orang itu. Siapa pun pelakunya aku akan mengutuknya. Untung deh, aku selamat dan tidak menjadi korbannya. Dalam hati aku malu juga sama Faisal, koq bisa-bisanya aku mempercayai skenario penipu itu. Hampir aku terperdaya oleh tipuan orang antah berantah itu..! Hugh..!!
wah, ada penipun model baru nih. Trims ya, mbak sudah berbagi disini, dan trims atas kunjungannya. Saya udah follow lho
BalasHapussalam silaturahim ...
BalasHapuskomentarku yang tadi, kemana ya?
Ya ampun, ada aja cara nipu nipu kayak gitu ya? Ternyata bisa ya, hipnotis jarak jauh?
BalasHapusYa ampyun, udah tambah hebat yah ilmu orang2 jaman sekarang, bisa hipnotis dari jarak jauh. Alhamdulillah Mba bisa terhindar dari penipuan seperti itu :-)
BalasHapuswaa...baru tahu klo modus yang ini...
BalasHapusterimakasih banyak untuk sharingnya...:)