"Dia-lah nan menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rejeki-Nya. Dan h...
"Dia-lah nan menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rejeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan"
(Alquran, surat Al-Muluk ayat 15)
Akal budi hendaknya dipergunakan sebaik-baiknya. Allah menciptakan manusia dengan kecerdasannya agar manusia bisa berlaku sesuai dengan norma. Dengan kesempurnaannya itu maka tidak salah bila dikatakan manusia memiliki kecerdasan hati dan kecerdasan berfikir.
Subhanallah... Betapa hebatnya manusia itu ya? Sehingga, alangkah ruginya bila kesempurnaan yang dimiliki tak dikelola dengan baik. Sebagai contoh: masih ada orang yang malas berusaha, malas bekerja, malas mencari ilmu, malas berfikir, malas beraktifitas. Masih banyak orang yang suka berpangku tangan, tidak ada kreatifitas, lebih senang berpangku tangan. Maka, jangan heran bila kita masih banyak menemukan orang-orang yang demikian di sekeliling kita. Miris memang!
Secara pribadi, aku kadang sedih melihat orang yang malas. Kadang aku berfikir tentang mereka, apakah yang ada dalam benak mereka itu sehingga mereka pemalas? Apakah mereka tidak tahu bahwa Allah dan Rasulullah sangat menganjurkan umatnya agar senantiasa berusaha dan bekerja?
Aku pernah bertemu seorang teman lama yang hingga kini kehidupannya bisa dikatakan pas-pasan. Padahal dari segi pendidikan dia termasuk orang yang berpendidikan. Tapi mengapa dia secara kualitas kehidupannya seperti itu? Usut punya usut ternyata dia merasa tak pernah ada pekerjaan yang cocok baginya. Dia hanya ingin kerja kantoran. Ogah kerja lain selain ngantor. Padahal rejeki dan penghasilan tak hanya kita dapatkan di kantor saja, bukan?
Masih banyak jenis usaha lain sebagai ladang mencari penghasilan untuk menafkahi hidupnya dan keluarganya. Tapi dia tetap keukeuh, katanya dia tak punya bakat dagang, tak punya jiwa wirausaha, dan bla bla bla alasanlah. Aku hanya tersenyum miris mendengar alasannya.
Pernahkan dia belajar dari seekor ulat yang bisa hidup di pohon yang mati? Kenapa ulat itu bisa hidup? Padahal pohon itu telah mati? Tentu saja ada falsafahnya, bahwa selagi kita masih mau berusaha pasti ada jalan untuk kehidupan!
Adalah suatu kemuliaan bila kita bisa bekerja dan berusaha secara maksimal. Menjadi suatu kemuliaan bila kita bisa makan dari hasil jerih payah sendiri. Bukan berpangku tangan atau bermalas-malasan menadahkan tangan, berharap belas kasihan dari orang lain. Astagfirullahaladzim.... semoga kita tidak termasuk kedalam golongan orang orang yang demikian ya?
Bukannya aku bermaksud sok menggurui, mulai searang ...yuk kita kobarkan lagi semangat untuk berusaha dan bekerja. Kita tularkan energi positif kepada 'si pemalas'. Bila seekor ulat saja bisa hidup pada sebatang pohon yang mati, kita juga pasti bisa dong mencari kehidupan! Masa' kalah sama si ulat? Yuk kita berusaha, jangan malas ya..!!!
Aku pernah bertemu seorang teman lama yang hingga kini kehidupannya bisa dikatakan pas-pasan. Padahal dari segi pendidikan dia termasuk orang yang berpendidikan. Tapi mengapa dia secara kualitas kehidupannya seperti itu? Usut punya usut ternyata dia merasa tak pernah ada pekerjaan yang cocok baginya. Dia hanya ingin kerja kantoran. Ogah kerja lain selain ngantor. Padahal rejeki dan penghasilan tak hanya kita dapatkan di kantor saja, bukan?
Masih banyak jenis usaha lain sebagai ladang mencari penghasilan untuk menafkahi hidupnya dan keluarganya. Tapi dia tetap keukeuh, katanya dia tak punya bakat dagang, tak punya jiwa wirausaha, dan bla bla bla alasanlah. Aku hanya tersenyum miris mendengar alasannya.
Pernahkan dia belajar dari seekor ulat yang bisa hidup di pohon yang mati? Kenapa ulat itu bisa hidup? Padahal pohon itu telah mati? Tentu saja ada falsafahnya, bahwa selagi kita masih mau berusaha pasti ada jalan untuk kehidupan!
Adalah suatu kemuliaan bila kita bisa bekerja dan berusaha secara maksimal. Menjadi suatu kemuliaan bila kita bisa makan dari hasil jerih payah sendiri. Bukan berpangku tangan atau bermalas-malasan menadahkan tangan, berharap belas kasihan dari orang lain. Astagfirullahaladzim.... semoga kita tidak termasuk kedalam golongan orang orang yang demikian ya?
Bukannya aku bermaksud sok menggurui, mulai searang ...yuk kita kobarkan lagi semangat untuk berusaha dan bekerja. Kita tularkan energi positif kepada 'si pemalas'. Bila seekor ulat saja bisa hidup pada sebatang pohon yang mati, kita juga pasti bisa dong mencari kehidupan! Masa' kalah sama si ulat? Yuk kita berusaha, jangan malas ya..!!!
subhanallah ... bener banget mak..... jadi semangat baru nih maaaaak :-D
BalasHapusSemoga saya bisa jadi orang yang malas untuk bermalas-malasan, amiiiin :D
BalasHapus@icha: alhamdulillah mbak.. Keep spirit ya...
BalasHapus@ri-us athamir: amiiinn.. Mksh kunjungannya ya Mbak..
BalasHapussetujuuuu :)
BalasHapus@salma saputra: makasih Mbak sdh berkunjung..
BalasHapusWah mbak... aku jadi malu karena masih sering merasa malas.
BalasHapusSemoga kelak kalau aku malas lagi, aku bisa ingat tulisan mbak Rita ini.
Analogi soal ulat di atas tanaman mati itu mak jleb banget hehehe
@catatan kecilku: semoga tulisan ini bisa menginspirasi.. Soal "si ulat" itu aku juga dpt dari teman Mbak, hehe.
BalasHapus